Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-60. TAMAT


__ADS_3

"Nesya, kamu ber da rah?" teriak orang yang ada di sampingku, dan tubuhku seketika lemas dan aku tidak bisa lagi merasakan apa-apa. Aku lepas kendali akan diriku dan ... tubuh ini ambruk.


Aku merasakan ada tubuh yang menangkap tubuh berat ini sebelum tepat mendarat di lantai.


"Sayang? Sayaaang?" sayup-sayup, terdengar suamiku.


Aku berusaha membuka mata ini, benar ... ada wajah Mas Aren begitu dekat memelukku. "Mas? Say—" Semua hitam, rasa sakit tak tertahankan membuatku sungguh sangat tidak berdaya.


*


*


*


Aaagh, kenapa tubuhku terasa sakit semua? Bagian di bawah pusar terasa sangat sakit. Ah, anakku? Perutku?


Perlahan aku berusaha membuka mata yang rasanya begitu berat. Setiap jengkal pada tubuhku benar-benar terasa sakit. Sinar pencahayaan pada tempat aku merebahkan diri ini, terasa begitu menyilaukan.


"Aaagh ...." Hanya ringisan yang keluar dari dalam bibirku.


"Sayang?" Sapaan yang biasa aku dengarkan setiap hari membuat mataku refleks melihat ke arah sumber suara. Suara itu milik suamiku, tanganku digenggam oleh kedua tangannya yang hangat.


"Mmmasss, sakit ...."


"Oeeekk ...."


"Oooeeekk ...."


Terdengar dua suara tangisan yang saling bersahutan. Bagian perut di bawah pusar sungguh luar biasa sakit.


"Anak-anak kita sudah menantimu, Sayang."


Suara dua bayi yang terus saling bersahutan, masih menghiasi pendengaranku. Pandangan yang tadinya masih sulit fokus pada satu objek, akhirnya berhasil terbuka melihat kenyataan yang bercampur antara rasa sakit dan bahagia.


Aku melihat netra coklat yang biasanya hampa tanpa nyawa, kini menangkap bola mataku yang berusaha untuk terbuka. Aaah, ini hanya perasaanku saja. Mas Aren juga seperti ini saat terakhir aku lihat.


Cup


Sebuah kecupan mendarat manis di keningku. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah berjuang selama mengandung mereka. Terima kasih telah bertahan dalam kelamnya hari-hariku. Aku sungguh beruntung memilikimu dengan semua yang ada pada dirimu."


Mas Aren bangkit dan melangkah dengan leluasa. Ia mendorong dua keranjang yang berisi bayi menangis saling bersahutan. "Anak-anak kita menunggu pelukan dari ibunya."


Aku berusaha untuk bangkit. "Aaaaahhhgg." Rasa sakit yang luar biasa sungguh membuatku tak sanggup untuk bergerak.


Suamiku dengam leluasa menuju tempatku berada tanpa ragu dan canggung. Ia langsung memelukku. "Perlahan, Sayang. Tunggu sebentar ya? Aku akan memanggilkan dokter yang membantu persalinanmu."


Mas Aren keluar, lalu dari pintu muncul gadis kecil yang terlihat sayu melangkah ke arahku. "Ibuuuk, Ibuuukk ...." Wajahnya terlihat sungguh khawatir.

__ADS_1


Aku lambaikan tangan memberi kode pada putri kecilku untuk mendekat padaku. Sejenak, Elena melirik dua adiknya yang terus menangis tiada henti.


"Bagaimana, Cantik? Senang punya adik?"


Namun dia tidak memberikan jawaban. Ia kembali melirik dua bayi itu yang menangis tiada henti. Sebenarnya aku sudah tidak tega mendengar tangisan itu, hanya saja aku benar-benar belum sanggup mengangkat diri yang baru saja dioperasi caesar tanpa aku sadari.


"Buk, adik Elena menangis." lirihnya sedih dan kasihan.


Mak mengankat satu bayi yang suaranya paling keras. "Mereka kelaparan. Apa kamu sanggup memberikan mereka ASI?"


"Aku sangat ingin, Mak. Hanya saja aku belum kuat untuk bangun. Apa Mak bisa membantuku?"


Mak mengangguk, lalu membantuku untuk mendekatkan satu bayi memberikan ASI kepadanya. Namun, bayiku belum bisa menghisap dengan baik hingga membuatnya cukup rewel.


Dari arah luar suamiku muncul membawa perawat. Perawat membantuku memperbaiki posisi bayiku yang tadinya belum pas, hingga membuat mulutnya tepat menempel pada sumbet ASI dan perlahan ia kembali mencoba menghisapnya, dan kali ini tangisan satu bayiku telah berhenti. Perawat menjepitkan satu bayiku dalam tangan, hingga posisinya tidak berubah lagi.


Bayi yang masih menangis diangkat, diletakkan pada sisi dada yang masih menganggur. Bayiku yang tadinya menangis, mulai mencari-cari sumber makanan dan perlahan mencoba menghisap ASI untuknya.


"Karena anak Bapak dan Ibu ini kembar, mungkin sekedar ASI saja kurang mencukupi bagi mereka. Jika mereka masih terlihat belum kenyang, bisa ditambah dengan susu formula jika mau. Akan tetapi, jika terlihat cukup bagi mereka, ASI saja sudah menjadi makanan terbaik bagi mereka hingga genap usia enam bulan."


Mas Aren tersenyum melihatku, aah ... Apa benar dia memang melihatku?


"Sepertinya kita lihat hingga beberapa waktu ke depan. Jika mereka masih rewel, berarti harus ditambah dengan susu tabung," ucap suamiku.


Aku mengangguk setuju. "Yang penting tidak kekurangan nutrisi apa pun."


Setelah menyelesaikan pemberian ASI, kedua bayiku tertidur dengan pulas. Mereka dipindahkan kembali pada box bayi yang ada di samping brangkarku. Dokter pun telah hadir memberikan kursus singkat bagaimana cara bergerak yang baik.


"Awalnya, Ibu coba memutar tubuh ke kiri dan ke kanan dulu ya? Jangan sangsung diangkat? Itu sungguh sangat berbahaya menyebabkan pendarahan pada luka jahitan usai caesar."


Setelah itu, ia menjelaskan gerakan selanjutnya hingga bagaimana agar aku bisa berjalan. Semakin cepat bergerak, maka semakin baik. Meskipun aku berjuang dengan luka sayatan yang sungguh begitu menyakitkan.


Saat melahirkan Elena dulu, sakit yang aku rasakan hanya ketika proses bersalin. Namun, sakit kali ini sunggug sangat luar biasa.


Setelah suasana sepi, aku mulai mencoba menggerakkan tubuh untuk miring.


"Hati-hati, Sayang!" Suamiku langsung berdiri di sampingku.


"Mas, apa kamu begitu terbiasa dengan keadaanmu saat ini? Sampai-sampai aku mengira bahwa kamu bisa melihat dengan baik."


Mas Aren tersenyum, dan aku membaca senyuman jahil. Ia menggenggam tanganku dan mengecupnya dengan penuh cinta. "Sebebarnya, aku ingin memberikan kejutan padamu, Sayang. Namun, nyatanya kamu yang memberikan kejutan besar untukku."


"Maksudnya?"


"Kamu tahu, sebenarnya saat bangun tadi pagi, secara perlahan meski masih sedikit buram, penglihatanku telah kembali. Aku belum berani mengatakannya padamu karena aku takut, itu hanyalah sekedar efek sementara."


"Lalu, usai aku mandi, penglihatanku semakin nyata. Semua terlihat sangat jelas dan akhirnya aku bisa melihat wajahmu, Sayang. Rasa bahagianya sungguh luar biasa. Apalagi melihat perutmu yang sudah begitu besar, itu merupakan sesuatu yang menakjubkan."

__ADS_1


"Selama di kampus, aku selalu merasakan kehadiranmu. Entah kenapa hidungku begitu mengenal aroma wangi yang selalu aku hirup setiap hari. Hari ini aku mendapat jawabannya. Ternyata kamu memang terus mengikutiku selama ini." Sekali lagi Mas Aren mengecup punggung tanganku yang berada di dalam genggamannya.


"Hanya saja, tadi sunggu sangat berbahaya. Kamu pingsan dalam keadaan ketuban darah pecah di saat aku sedang memberikan materi untuk mahasiswa. Beruntung aku masih bisa menyambutmu dan membawamu ke sini."


Entah kenapa, air mata ini menetes begitu saja dengan sendirinya. Aku sangat bahagia, suamiku telah sembuh. Pria yang aku cinta, telah kembali seperti dulu.


"Kenapa kamu menangis, Sayang? Jangan menangis gini dong?"


Kepalaku dengan refleks menggeleng dan memberikan senyuman termanis yang bisa aku berikan padanya. "Mas, aku ingin sekali memelukmu."


Suamiku langsung bergerak memelukku dan melayangkan kecupan demi kecupannya di wajahku. "Terima kasih, Sayang. Telah sabar dengan keadaanku yang seperti itu."


Aku rangkul erat tubuhnya. "Terima kasih juga, Mas. Udah menjadi pria terbaik kedua setelah Bapakku. Aku sangat mencintaimu." Aku sesegukan dalam pelukannya. Akhirnya masa berat kami berdua berlalu juga.


Semua badai pasti akan berlalu. Di akhirnya, akan ada pelangi indah yang menanti dan memberikan senyuman kepada hamba yang menjalaninya dengan sabar dan ikhlas.


"Aku lebih mencintaimu, Sayang." ucapnya.


"Kalau begitu, siap-siap mengasuh si kembar yaaa?"


"Baik lah, setelah itu, kamu yang mengasuhku," ucapnya dengan senyum jahil yang khas dimilikinya.


Keesokan pagi, semua keluarga Mas Aren datang melihat kedua bayi kami. "Waaaah, kok anak-anakmu lebih mirip Alven yaaaa?" ucap salah satu sepupu suamiku.


"Haaatciimmm ..." Alven mengusap hidungnya di tempat lain. Ia sedang sibuk memperbaiki programnya yang rusak karena ulah Zizi.


"Awas kau gadis berandal! Kau akan bertekuk lutut di hadapanku!"


(Cerita Alven akan hadir pada buku yang lain ya ...)


CERITA SELESAI ALIAS TAAMAAAT.


Huuufftt, lega ... Akhirnya selesai juga.


Jangan lupa mampir pada karyaku yang lain ya kakak semua ....


...Ini aku UP ulang yang baru



...


Ini juga aku up ulang yang baru. Ini romansa fantasi dalam dunia perkantoran.



Ini tetangga yang inisial F

__ADS_1



__ADS_2