
"Ooh, ada kembar identik seluruh dunia ..." gumam pria yang ada di sampingku.
Aku perhatikan kembali bayi yang ada di tangan Bang Alan. Kuperhatikan dengan seksama, tidak ada kemiripan sama sekali dengannya. Beberapa detik kemudian baru aku menyadari arti ucapan kembar identik sedunia yang dimaksud oleh pria ini. Anaknya terlahir istimewa.
neng ... neng ... nong ... neng ....
Terdengar suara panggilan ponsel salah satu dari mereka. Nada panggilan tersebut, bukan nada panggilan dari ponselku. Pria di sampingku mengecek ponsel miliknya. "Bukan untukku," ucapnya kembali menyimpan ponsel ke dalam kantong celana.
Bang Alan terlihat agak kesulitan mencari benda yang berbunyi itu. Aku segera membantu menggendong bayi yang membuat kami terpisah ini. Terima kasih, Nak. Kamu sudah membuka mataku dan melepaskanku dari jerat ayahmu.
"Iya, ini aku lagi jemput laundryan."
....
"Iya ... baik lah."
Aku hanya bisa menebak, itu adalah telepon dari ibu anak yang aku gendong ini. Rasa iri kembali menyeruak dalam hati. Hebat sekali ibu dari anak ini. Membuat Bang Alan begitu patuh dan menurut begitu saja. Sementara, saat bersamaku dulu, dia tidak pernah begitu.
Bang Alan mengambil kembali bayinya. "Aku ke sana dulu. Mau mengambil cucian."
"Oh, kamu titip cucian di sini?"
Dia hanya mengangguk dan segera menuju stand tempat Kak Vina yang sudah menyiapkan kantong pakaian milik dia. Setelah itu bergegas pamit dan pergi.
Pria di sebelahku bersidekap dada menatap kendaraan yang semakin menjauh. "Heheh, tipikal pria takut istri, rupanya."
Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Apakah dia mantan kekasihmu?"
Aku lirik kembali pria yang ada di sampingku ini. "Mantan kekasih? Kenapa Anda menyangka demikian?"
"Yaaa, tatapanmu sangat dalam padanya."
Bukan mantan kekasih, tetapi mantan suami, tepatnya. Aku hanya bisa mengucapkan di dalam hati. Apa dia tidak menyadari bahwa gadis kecil yang sedang aku gandeng, sangat mirip dengan pria yang disangkanya mantan kekasihku ini?
"Mas Arend?" Kak Vina memanggil pria di sampingku.
"Rendra!" ucapnya meralat panggilan yang diberi oleh Kak Vina.
"Gak mau ... Bagaimana kalau aku panggil doktor muda?" goda Kak Vina kembali.
Pria di sampingku ini seorang dokter? Seingatku anak Bu Jeni seorang dosen. Nanti aku tanyakan kembali pada Kak Vina.
Pria yang dipanggil Arend oleh Kak Vina, mendekat dan berbincang sejenak. Setelah itu membawa bungkus pakaian yang sudah selesai mendapat perawatan super klinis dari laundry kami. Pria tersebut berjalan ke arahku. Membuka kantong biru yang besar tadi.
__ADS_1
"Mana bayaranku?"
Apa maksudnya? Apakah aku berhutang padanya?
"Jangan katakan kamu telah melupakan janjimu padaku!" Matanya bergantian menatapku dengan kantong biru yang ada di tangannya.
"Oh, iya ..." Kutepuk jidat dan segera berlari mengambil benda yang dimaksud. Aku mengambil dengan terburu-buru dan asal. Setelah itu aku segera memasukannya pada kantong pria itu.
"Terima kasih udah jadi pacar bayaran."
"Ogah, kalau bayaran cuma parfum laundry," gumamnya.
Lalu dia bergerak menuju kendaraan dan pergi meninggalkan kami. Kak Vina berjalan mendekat padaku. "Ciiiee, kenapa kalian terlihat dekat sekali?"
"Enggak ah, biasa aja." ucapku.
"Mas Arend ganteng banget kan?" ucapnya seakan menggodaku.
"Namanya Arend apa Rendra sih? Oh ya, dia itu dokter ya?"
"Namanya Arendra. Di rumah panggilan dia Arend. Aku sering main ke rumahnya waktu kecil dulu. Namun, kalau di luar, dia tidak mau memperkenalkan dirinya dengan nama itu. Kata Tante Jeni, dulu suka dibuly karena namanya kayak cewek. Jadi dipanggil ban ci sama temen-temen SD dulu."
"Saat SMP dan tingkat selanjutnya, dia memperkenalkan diri dengan nama Rendra." jelas Kak Vina yang seperti sangat mengenal pria itu.
Aku menganggukan kepala. Aku baru tahu gelar doktor adalah untuk tamatan S3. Ini sungguh informasi yang sangat baru bagiku. Pantas saja dia memamerkan titel-titel tersebut pada Bang Alan. Namun aku yakin, Bang Alan tidak akan paham. Aku pun baru mengetahui itu.
"Kenapa? Kamu suka dia?" goda Kak Vina.
Aku langsung menggelengkan kepala. "Kenapa aku bisa suka sama dia? Aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku sudah kapok Kak."
"Kenapa kapok? Siapa tahu Elena bisa punya ayah baru seorang dosen?"
Jadi benar, dia seorang dosen? "Aah, Kak. Menata hati setelah perceraian itu tidak mudah. Aku ingin membesarkan Elena dulu. Sepertinya, saat ini aku tak akan mencari pasangan dulu. Lagian mana ada seorang dosen mau sama janda tak berpendidikan seperti aku kan?"
"Jangan bicara seperti itu! Siapa tahu jodoh? Tak ada doa penolak rezeki dan jodoh kan?" ucap Kak Vina masih menggodaku.
Aku hanya bisa menggeleng tipis. Kadang, aku menyesali diri karena memilih menikah dalam usia muda. Jika seandainya saat tamat SMP aku keluar dusun, mungkin cerita hidupku akan berbeda. Namun, aku tak ingin hanya sekedar menyesal tanpa aksi. Aku harus bisa melanjutkan hidup dan membesarkan Elena seorang diri.
Setelah itu, Heni, salah satu karyawan menghampiriku dengan wajah kebingungan. "Mbak, rasanya tadi aku lihat cairan pemutih kita masih ada. Kenapa tiba-tiba hilang ya?"
Aku segera mengecek kembali ke etalase, ternyata memang sudah habis. "Kalau begitu, aku akan menghubungi distributornya lagi."
Heni mengangguk dengan wajah heran. Untuk tidak berlama-lama, aku segera menghubungi distributor pemasok perlengkapan usahaku ini.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian, aku memutuskan untuk pulang ke dusun. Meskipun orang tuaku sudah mengetahui hubungan dengan Bang Alan telah berakhir, setidaknya kali ini aku masih bisa menegapkan kepala bertemu dengan orang-orang dusun. Karena aku dan Elena masih bisa hidup dengan baik di kota.
Aku sangat merindukan mereka. Aku juga ingin meminta izin kepada mereka. Semoga Mak dan Bapak meridhoi aku melanjutkan pendidikan tinggi. Perjalanan berat masuk dusun setelah dua tahun lalu kutinggal, kali ini sungguh terasa berat.
Saat musim hujan seperti ini, lumpur yang layaknya bubur, membuat kendaraan angkutan desa jadi sulit bergerak. Supir dan keneknya harus memasang rantai pada keempat roda kendaraan dengan mesin empat 4 WD ini agar bisa melaju di tengah lumpur.
Jarak tiga puluh kilo meter kami tempuh dalam kurun waktu tiga jam. Akhirnya perjalanan berat ini berakhir juga. Kami sampai juga di dusun menjelang malam. Setelah turun dari mobil pick up, aku segera mencari Mak dan Bapak.
Mak menyambutku dengan tangisan. Sementara Bapak hanya mengangguk dan menepuk pundakku dengan pelan. Setelah sekian lama ... semenjak menikah dengan Bang Alan, baru kali ini aku pulang ke rumah Bapak dan Mak. Rasanya sungguh sangat mengharukan. Pulang dalam keadaan menjadi janda di usia pernikahan yang tak sampai empat tahun.
Akhirnya aku bisa melepaskan segala rindu yang telah menggelayut. Jasa mereka tak akan pernah bisa kubalas. Meskipun jutaan hingga miliaran rupiah kuberikan sebagai pengganti semua jasa yang telah mereka berikan.
Malam sunyi pun datang. Usai makan malam, kami bercengkrama di dusun yang hawanya sejuk ini. Setelah sekian lama hidup di kota yang berada di pesisir, untuk pertama kalinya aku menggigil berada di dusun penghasil kopi terbaik di provinsi ini. Aku segera mencari pakaian yang bisa menghangatakan tubuhku dan Elena di dalam kamar.
braaaakk ... braaak ... braaaakkk ....
"Mana dia? Istri tidak tahu diri itu?"
Sebuah suara dari arah luar memecah keheningan negeri yang sunyi ini.
"NESYA ... NESYA ...???" Itu seperti suara Mak Bang Alan.
đź’–
đź’–
đź’–
Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.
Napen Author: Alviesha_athninamisy
Judul karya: Cinta Cool dan Barbar
Blurb:
Aliando Ivander sang idola sekolah. Dia mencintai murid baru yang ada di sekolahnya. Tepat di hari pertama gadis itu sekolah, dia langsung menyatakan perasaannya.
"Aku tidak minta persetujuanmu dan aku tidak menerima penolakan!" Itu kalimat andalannya.
Alisha Leandra gadis cantik murid pindahan dengan terpaksa harus menjalin hubungan dengan Aliando. Bagaimana dia menghadapi fans gilanya Aliando? Bagaimana akhirnya dia bisa menerima Aliando? dan apakah misteri kehidupan Alisha bisa diterima oleh Aliando? Karena ternyata Aliando bukan satu-satunya pria dalam hidupnya.
__ADS_1