Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-16. (pov Arendra) Mantan suami istriku


__ADS_3

Dia mau apa lagi sama Nesya? Tindak tanduknya ini sungguh sangat mencurigakan. Bukan kah dia sudah pacaran sama Lingga? Lalu buat apa dia masih mengajak istriku?


Akhirnya aku mengizinkan Nesya untuk pergi ke sana asal aku juga boleh menyusul. Sela jadwal kosong, aku pun bergegas menuju kafe yang ditetapkan.


Aaah, itu dia. Ternyata mantan suaminya benar-benar sudah berada di sana. Hmmm, ganti gaya rambut pakai berdiri kayak landak? Kayak yang lupa status aja. Padahal bukan remaja lagi, ck ... hmmmfff ... Benar-benar membuat marah saja.


Aaah, aku pamer aja sekalian ya? Dengan sengaja aku memberi ciuman kepada Nesya di hadapan pasangan ini. Aku yakin, setelah ini istriku akan marah-marah. Dia kan bukan orang yang suka seperti ini.


Namun aku yakin, dia pasti memahami apa yang aku rasakan. Kalau Nesya marah urusan belakangan. Yang penting pencitraan yang bikin spaning sialan itu naik.


Cuuup


"Sudah lama menunggu, Sayang?" Mata Nesya membesar, sesuai tebakanku, dia tidak menyukai ini. Namun, kemarahan dia tahan.


Nesya sengaja kurangkul dengan sangat rapat. Tidak akan aku biarkan jarak satu inci pun yang bisa memberi celah padanya untuk mendekati istriku. Nesya bukan istrimua lagi.


"Ada apa ngajak-ngajak istriku bertemu denganmu?"


Wajahnya terlihat sedikit menegang, meski sekilas. Dengan cepat, dia mengubah ekspresinya sesantai mungkin merangkul perempuan yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Idih, ternyata dosen kesayangan kami ini sangat posesif yaaaa?" goda Lingga, gadis yang dirangkul oleh mantan suami istriku.


Aah, Lingga ... Kenapa kamu mau-mau saja sama dia?


"Iya dong, istriku harus aku kekep serapat mungkin biar tidak diambil orang. Zaman sekarang sekarang bukan pelakor saja yang menjamur. Pebinor pun sudah mulai menunjukkan eksistensinya."


Wajah istriku menegang dengan membuka matanya begitu lebar. Dia melirik mantan suaminya bergantian dengan melirik ke arahku seakan membaca sesuatu dari apa yang aku ucapkan.


Bagus, bagus ... Istriku semakin pintar saja.


"Ini kita mau apa ya? Mau perang dingin apa mau makan sih?" Nesya mencoba memecahkan suasana yang sedikit menegang.


"Oh, jangan. Kalian semua pilih menu apa saja. Biar aku yang bayar." ucap Alan menepuk-nepuk kantong celananya.


"Oh, begitu?" Sepertinya aku memiliki sebuah ide.


Beberapa saat kemudian, kami menyelesaikan makan dengan obrolan biasa-biasa saja. Nesya tidak banyak bicara karena dia seakan menegang karena takut peraang dingin ini berubah menjadi peraang besar.


"Tenang saja, Sayang. Kita harus bisa bermain cantik. Percuma dong aku kuliah tinggi sampao keluar negeri." bisikku tepat di daun telinga Nesya.

__ADS_1


Nesya terlihat gemas dengan godaanku tadi. Namun, dia masih berusaha menahan semuanya. Akan tetapi, saat di rumah nanti dia akan menghukumku habis-habisan. Siapa tahu aku tidak diberi makan.


Aku sudah makan dengan begitu lahap, dan saat ini sedang menunggu orang yang mentraktir kami membayar di bagian kasir.


Aku lihat Alan mengerutkan keningnya. Dia pasti sangat terkejut dengan jumlah yang ditunjukkan untuk pembayaran makanan di cafe ini. Tantu saja, aku sengaja memesab menu yang paling mahal dan kupesankan juga untuk istriku.


Bagaimana? Masih mau mencoba mendekati istriku?


"Mas, apa tadi tidak keterlaluan sama Bang Alan? Kenapa memesan makanan mahal? Dobel lagi buat aku. Kan kasihan kalau tidak memiliki uang cukup." Nesya mulai mengomel.


"Kan dia yang bilang boleh memesan apa saja." ucapku membuang muka merogoh kantong celana mencari ponselku yang sama sekali tidak ada tanda pesan atau panggilan masuk.


Namun, Nesya mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. Dia bergerak menuju kasir karena wajah si Alan itu terlihat frustrasi.


"Mbak, bayar pakai ini saja." ucapnya tanpa permisi padaku.


"Hep, apa-apaan kamu?" Aku rebut kartu itu dan segera bergerak keluar dari cafe tersebut.


Nesya mengejarku, dan manarik tanganku agar segera menghentikan langkah. "Mas, kenapa kartunya dibawa? Aku kan mau menolong dia. Sepertinya uang yang dia bawa tidak mencukupi untuk menutupi biaya makan kita berdua tadi."

__ADS_1


"Lalu apa urusanmu memikirkan dia? Jangan-jangan kamu masih mencintai mantan suamimu itu?"


__ADS_2