
*Bab ini sangat panjang guys ... jangan lupa gift dan like nya ... Semoga suka dengan endingnya 😇🙏*
📳 "Kamu hanya lah alatnya untuk membalas dendam! Kamu berhak mendapat pria lain yang lebih baik dibanding dia. Sekarang kamu pikirkan lah kembali kelanjutan hubunganmu dengannya."
"Jangan bercanda, Bang. Tak mungkin Pak Aren kayak gitu. Dia mau balas dendam pada siapa dan kenapa aku?"
📳 "Aku berkata yang sesungguhnya. Apa boleh buat jika kamu tak memercayainya."
Ah, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Jadi, selama ini ... Aku salah mengira? Setelah ku pikir kembali, dia memang aneh ... Tiba-tiba saja menyatakan cinta padaku yang perempuan bodoh ini. Aku memang tak akan pernah sepadan untuknya. Air mataku terus menetes tanpa suara. Sekali lagi ... sekali lagi aku merasakan sesuatu yang bernama kecewa.
*
*
*
Keesokan pagi, aku mempersiapkan diri untuk ke kampus. Meskipun aku merasa sangat malas untuk ke kampus. Semenjak Bang Alven menelepon tadi malam, aku tak mampu memicingkan mata barang satu menit pun. Aku teringat pada masa kelam di mana Bang Alan kutemukan, menjadi suami orang lain. Kali ini, kisahku diselimuti oleh kedok balas dendam.
Rasa kecewa menggelayut, sungguh sangat besar. Mungkin, karena aku terlalu berharap dan mulai mencintai Pak Arendra. Seharusnya aku sadar diri sedari awal, aku bukan lah wanita yang pantas untuk bahagia.
"Nesya, kenapa matamu sembab? Kamu tak tidur semalaman? Terus bagaimana dengan bekas kerikan di lehermu?"
"Iya, Mak. Semalaman aku menulis tugas kuliah." Aku hanya bisa berbohong berharap Mak tidak menambah pertanyaan yang baru.
"Siapa yang akan mengurus pernikahan kalian kalau kamu ke kampus terus? Apa Bapak aja yang membereskan semua?"
Benar juga, aku melupakan itu. Ah, masih perlu diurus kah? Ini kan hanya permainan, jadi ... mungkin saja pernikahan itu tak akan pernah terjadi. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, menyalami kedua orang tuaku untuk berangkat ke kampus.
"Titip Elena ya, Mak?"
tiiin
Ternyata Pak Arendra juga telah sampai di depan toko. Dengan berlari kecil, dia membukakan pintu saat melihatku keluar.
Tanpa berkata sepatah pun, aku mengeluarkan motor. Dia memandangku dengan heran.
"Kan sudah aku bilang, kali ini biar aku yang bertugas menjadi supir bagimu." Dia berjalan mendekat padaku.
Aku pun langsung memasang helm dan tancap gas tanpa sempat memanasi motor ini. Aku lihat dari spion, dia segera masuk ke dalam mobilnya.
Aku pun memutar gas dengan sekuatnya. Speedomoter terus bergerak menukik naik dengan tajam. Aku merasa enggan melihatnya, kendaraannya, dan segala berbau bayangannya.
*
*
*
Usai perkuliahan pertama, aku segera pergi ke satu tempat yang mungkin tak bisa ditemukan oleh siapa pun. Aku duduk di pojokan kampus merenungi nasib buruk yang selalu saja menimpa kehidupanku.
Aku mendengar suara tangisan seseorang di sisi lain. Aku intip seseorang tersebut ternyata Lingga. Dia tengah menangis tersedu di pojok sana.
"Kamu kenapa?"
Dia tersentak dan mengusap air mata. Setelah menyadari aku lah yang berada di dekatnya, dia bangkit dan hendak beranjak. Aku ikut bangkit dan menariknya agar duduk kembali.
"Kamu kenapa? Ada masalah?"
Air matanya kembali mengalir dan tubuhnya bergetar menangis tersedu. "Kenapa aku selalu gagal dalam percintaan?"
"Kamu dengan pria yang waktu itu?"
Dia bangkit melirikku, setelah itu mengangguk.
"Bagaimana kisahnya kalian bisa bersama seperti itu? Apa kamu tahu dia sudah menikah?"
"Awalnya aku main ke tempat dugem bareng yang lain, di sana lah aku bertemu Bang Gani. Dia terlihat mabuk dan galau meracau tak jelas. Saat itu lah kami berkenalan, dan ...."
Kalimat yang menggantung pada Lingga membuatku menduga-duga sesuatu yang bisa saja mungkin terjadi.
"Dan apa?"
"Kamu tahu saja lah antara dua pria dan wanita yang saling tak terkendali. Kami melewati malam berdua."
"Lingga?"
Lingga tersenyum kecut. "Awalnya aku pikir aku akan hamil dan meminta dia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Namun, nyatanya ... Aku tak kunjung hamil. Dia memutuskan hubungan kami berdua dan kembali pada istrinya yang baru diketahui telah mengandung anaknya."
Aku tak menyangka, kisah di balik ini semua ternyata seperti itu. Meskipun Lingga jahat padaku, tetapi aku merasa sangat kasihan padanya. Masa depannya telah terenggut, dan dia dicampakan. Aku hanya bisa memberi tepukan pelan di pundaknya.
"Kamu sabar ya, maaf ... tak ada kata lain yang bisa kusampaikan selain itu."
Dia tertunduk dan menundukan kepala. "Aku tahu, ini kesalahanku sendiri. Untung saja aku tidak sampai hamil. Seandainya saja aku tak pernah ke klub malam itu, mungkin semua tak akan pernah terjadi." sesal Lingga.
"Sudah lah, ini bisa jadi pelajaran berharga bagi kita ke depannya." ucapku.
Dalam beberapa waktu aku dan Lingga hening sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Ponselku bergetar, dari Pak Arendra, dan aku tekan tanda merah. Sekali lagi ... lagi ... dan lagi, panggilan tersebut terus berulang dan terus saja aku tolak. Tak lama, masuk pesan singkat darinya.
[Sayang, kamu di mana? Kenapa aku ditinggal dan kamu pergi begitu saja?]
Ponsel langsung kumatikan dan ku lempar ke dalam ransel. Sepertinya Lingga memperhatikan tingkahku.
"Kamu punya masalah dengan Pak Rendra?" Aku menggelengkan kepala.
Lalu ... Kami hening kembali dalam beberapa waktu. "Maaf ...." ucap Lingga memecah keheningan ini.
"Kenapa kamu minta maaf?"
"Atas segala kelakuanku padamu."
"Ooh ...." Lalu kami berdua berdiam diri kembali.
"Aku lah yang menyebar selebaran itu. Kami sengaja mengikutimu diam-diam ke rumahmu. Ternyata, hal mengejutkan yang aku dapat saat mendengar bahwa seorang anak kecil berlari menyambutmu dengan panggilan 'Ibuk'."
"Aku pikir, aku hanya salah dengar. Kami pun bertanya pada seseorang yang bekerja di sana. Dari dia lah kami tahu bahwa kamu kamu adalah seorang janda memiliki satu anak."
Beberapa waktu Lingga tersenyum kecut. "Kenapa kamu tak terkejut sama sekali?"
"Aku sudah mengetahuinya." ucapku.
Mata Lingga membulat dan dia merasa heran. "Kamu sudah mengetahuinya dan kamu masih mau duduk seperti ini dekat denganku?"
Aku mengangguk. "Ya, aku tahu setiap manusia bisa khilaf tanpa kecuali. Aku pun begitu, pernah salah memilih jalan hidup."
"Maksudnya?" tanyanya semakin heran.
"Kamu tahu sendiri kan, bahwa aku telah memiliki anak. Aku menikah dalam usia yang sangat muda. Mungkin kamu masih menikmati bangku SMA, aku malah sibuk mengasuh anak dan mencari uang."
"Sebuah keberuntungan saja mengantarkanku menjadi mahasiswa di kampus ini. Jika tidak, mungkin selamanya akan terus terpuruk." terangku.
"Apa Pak Rendra tahu?"
Hah ... nama itu, aku lagi enggan mendengar namanya. "Sudah lah, Ga ... Sepertinya akan sulit."
"Bukan kah kamu sendiri yang mengatakan akan menikah dalam waktu dekat? Ada apa dengan hubungan kalian? Apa kalian putus?"
Putus?
Ah, ya ... Jadian saja kami belum pernah. Dia hanya mengajak untuk menikah. Mungkin semua tak akan pernah terjadi.
*
*
*
__ADS_1
Beberapa hari, aku selalu menghindar dan bersembunyi dari Pak Rendra. Setiap hari dia datang ke rumah, aku tak pernah keluar dari kamar.
Lalu, aku mendapat kabar ada seorang dosen ditangkap oleh pihak kepolisian di rumahnya karena menjadi dalang menyewa beberapa preman. Preman-preman sewaan tersebut menyebut nama orang membayarnya, dan nama itu adalah Gendis.
Aku dipanggil oleh Bu Yenni, seorang yang mungkin memiliki hubungan dengan Bu Gendis.
"Kamu! Coba ceritakan kepada saya apa yang terjadi antara kamu dan Gendis?"
Kenapa beliau menanyakan kepadaku? "Maaf, Bu. Bukannya saya lancang atau tidak sopan. Namun, saya tak memahami apa yang Ibu maksud kan? Kami tidak memiliki hubungan apa pun mengenai ini."
"Lalu kenapa dia selalu mengatakan ini gara-gara seseorang bernama Nesya? Yang saya tahu, orang bernama Nesya itu, kamu."
tok
tok
tok
Seseorang mengetuk pintu ruangan Bu Yenni ini. Bu Yenni membuka kunci dan mengintip siapa yang baru saja mengetuk pintu tersebut.
"Rendra? Kenapa ke mari?" tanya Bu Yenni kepada seseorang yang ada di luar.
"Saya ingin melihat keadaannya, Bu. Ibu mau apa dengannya?"
braak
Pintu terdengar dibuka sedikit dengan paksa. Bu Yenni sedikit gelagapan melihat sikap seseorang yang dipanggil dengan Rendra. Dia langsung duduk berlutut di hadapanku meraba kedua pipiku.
"Kamu tidak apa kan?"
Kedua tangan itu ku tarik dan kulepas sembari membuang muka.
"Rendra, kamu ini? Sudah diperingatkan jangan bersikap berlebihan seperti ini."
"Tapi saya tidak memperlihatkan pada semua orang. Hanya Ibu yang melihat ini. Lagian dia ini calon istriku, aku berhak untuk melindungi dan khawatir padanya."
"Rendra! Kamu mulai lancang ya?"
"Keponakan Ibu yang lancang terhadap calon istri saya. Dia menyewa orang-orang untuk mem bu nuh Nesya!"
Bu Yenni terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Rendra ini.
"Bagaimana, Bu? Apakah Nesya sudah dibolehkan keluar?"
Bu Yenni masih membisu, dan Pak Arendra ... pria yang selalu dihindari, menarikku untuk keluar dari tempat ini.
Saat sampai di luar, aku berupaya melepaskan genggamannya. Namun, dia langsung menangkapku yang berusaha untuk kabur dan menarikku masuk ke dalam mobilnya. Dengan segera dia membawaku pergi ke suatu tempat.
*
*
*
"Kenapa? Katakan padaku kenapa kamu menghindariku?"
Masih perlu kah dia bertanya kenapa? Padahal, dia sudah mengetahui jawabannya.
"Nesya, katakan padaku! Apa yang ada di dalam kepalamu?" Dia menggenggam kedua pundakku dengan tangannya.
"Bukan kah semua sudah jelas?" Tangan itu kutepis kasar. Aku beranjak ingin pergi. Aku muak dia masih saja menikmati drama yang dia mainkan.
Sebuah genggaman kasar pada pergelangan tangan menghentikan langkahku. Aku pun kembali berusaha melepas tangannya yang begitu erat menggenggamku.
"Cepat katakan! Kamu ini kenapa?"
"Tak ada lagi yang perlu dikatakan! Semua sudah terkuak! Aku mengaku, aku kalah dalam drama yang kamu perankan ini. Aku berhasil terjebak dalam permainanmu!"
"Siapa yang mempermain kan mu?" Dia kembali menggenggam bahuku dengan sangat erat.
Dia tak memberiku kesempatan untuk pergi menjauh. "Katakan padaku, apa yang membuatmu jadi begini?"
"Sudah lah, lepaskan aku! Mungkin memang tak ada lagi jalan untuk kita bersama. Biar kan aku sendiri, aku akan menganggap semua tak pernah terjadi."
"Aku tak akan melepaskanmu sebelum kamu mengatakan apa yang membuatmu seperti ini!"
Tanganku mulai mendorong tubuhnya yang mendekapku semakin erat. Aku mulai sesak, dan akhirnya memilih untuk memberikan sedikit kejutan untuknya.
dugh
Terdengar suara puku lan dari tinju yang aku berikan pada bagian perutnya. "Lepas!"
"Pukul saja! Sebelum kamu jelaskan, aku tak akan melelasmu."
bugh
bugh
bugh
"Cepat lepaskan!"
Terdengar ringisan dari Pak Arendra. "Katakan dulu alasan kamu seperti ini!"
bugh
"Aagh ...."
Mendengar dia kesakitan seperti itu, membuat perasaanku yang tadinya marah, berubah hiba.
"Lepaskan, Pak. Sudah cukup. Apa kamu tidak puas melihat penderitaanku selama ini? Apa masih perlu menjadi senjata bagimu? Jika masih saja disakiti oleh orang yang aku cinta, aku merasa tak akan lagi kuat untuk berpijak di bumi ini. Aku mohon, lepaskan aku."
Dia hening beberapa waktu. Makin lama pelukannya terasa semakin longgar. Tangannya berpindah kembali pada pundakku.
"Tak ada yang mempermainkanmu."
"Sudah lah! Hentikan permainanmu! Aku tidak bisa terus menjadi tokoh sebagai wanita bodoh dalam dramamu ini!"
"Ini bukan drama! Cintaku tulus!"
"BOHONG!" Lagi kudorong kedua tangannya untuk lepas dariku. Aku pun pergi, kali ini dia tak mengejarku kembali.
*
*
*
Waktu pun berlalu sebulan dari kejadian itu. Selama itu juga lah, aku selalu diolok oleh teman-teman geng Lingga yang tak kunjung menikah juga. Lingga sudah tidak bergabung lagi dengan mereka memilih kembali menjadi teman yang ada di sisiku. Lingga sudah sering kuajak main ke rumah dan bermain dengan Elena.
Bang Alan kebetulan mampir di saat Lingga berada di tempatku. Dia tengah menyeruput teh yang aku hidangkan.
Setelah beberapa saat, melihat gerak-gerik Lingga yang seperti tertarik dengan Bang Alan, entah kenapa ada inisiatif yang datang untuk menjodohkan mereka.
"Bang, kenalkan ini Lingga, teman baikku di kampus." Bang Alan melihat ke arahku dengan wajah bingungnya.
Seperti biasa, aku begitu hafal dengan Lingga yang masih gampang jatuh cinta. Sepertinya mereka cocok. Bang Alan pun sepertinya telah menjadi lebih baik dibanding dulu. Katanya saat ini dia bekerja menjadi pengasuh anak dari mantan istrinya dulu.
Hah ... sudah lah ... mumet kalau terus memikirkan kisah hidup Bang Alan. Yang penting aku tak akan pernah kembali lagi padanya, karena sudah tak ada lagi cinta untuknya.
*
__ADS_1
*
*
Di kampus, aku bertemu dengan orang yang terus membuatku bersembunyi. Dia menghentikan langkah menatapku sendu, sementara aku terus berjalan maju seolah tak melihat dia. Ah, dia tampak semakin kurus. Aku coba melirik kembali ke belakang, dia masih mematung di posisi yang sama.
Ternyata aku rindu ...
Dan aku sangat rindu ...
Dia memutar tubuhnya dan netra kami saling bertemu pandang. "Kenapa tidak lari seperti biasa?" tanyanya.
Ah, dia menyadarinya ... Aku selalu menghindar saat melihat bayangan Pak Arendra. Tanpa berkata sepatah kata pun, aku kembali berbalik dan ingin melanjutkan langkah.
"Hah ..." Dia memelukku dari belakang beberapa saat dan melepasku langsung beranjak pergi.
Keesokan harinya saat di kelas, dia tampak berbeda dibanding biasa.
Ah ... Aku tak tahu harus bagaimana. Aku bagai melihat pria paling tampan di dunia. Apa mataku sedang mengalami sakit malarindu? Padahal, sebenarnya dia memang selalu seperti itu.
"Yakin tidak mau balikan dengannya?" bisik Lingga.
"Entah lah ...." Sepertinya aku mulai oleng dan lemah, ada perasaan menyesal melepas pria yang terlihat sempurna seperti dia.
Saat semua tengah sibuk mengeerjakan tugas yang diberikannya, ternyata dia sudah berada di sampingku. Pak Arendra meninggalkan secarik kertas untukku lalu pergi. Aku langsung membaca surat tersebut.
Berikan aku 30 menit untuk menjelaskan semua. Jika setelah 30 menit itu kamu tetap tak berubah pikiran, maka ... Selamanya kita tak akan pernah bersama.
degh ... degh ... degh ...
Aku lihat ke arahnya kembali, ternyata dia juga tengah memandangku dengan wajah sendu.
*
*
*
"Dulu, aku memang ingin menggunakanmu sebagai senjata. Kamu memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh Reyna."
"Namun, seiring berjalannya waktu ... Akhirnya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu. Saat mendapati kamu mempermainkanku, aku mulai menyadari betapa sakitnya bila itu terjadi."
"Aku mendapat hukum karma, aku yang ingin menggunakanmu, ternyata malah kamu yang mempermainkanku. Saat kamu mengatakan cinta, semua amarah meluap dengan seketika."
"Namun, kenapa kamu malah lari menjauh di saat cintaku padamu semakin besa?"
"Hari ini, aku memutuskan untuk melupakan segalanya. Jika kamu masih memilih untuk menjauh dariku ...."
"Hari ini adalah kesempatan terakhir bagiku untuk mengatakan, bahwa aku sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu."
"Jika kamu tak merasakan hal yang sama, aku akan pergi da—"
"Pergi ke mana?" refleks aku menyela.
"Entah lah ... bagaimana dengan mu? Apa kamu merasakan rindu yang sama? Apa kamu mau memaafkanku?"
Ah ... Sebenarnya aku bingung. Apa benar dia tulus mencintaiku? Atau kali ini permainan yang kedua?
"Baik lah, aku sudah tahu jawabannya ...." Pak Arendra berbalik dan mulai melangkah kan kakinya menjauh dariku.
Melihatnya punggung yang semakin menjauh, tubuh ini dengan sendirinya mengejar dan memeluknya dari belakang.
"Aku mencintaimu ... Aku sangat merindukanmu ... Jangan pergi! Jika Bapak pergi, bagaimana denganku?" Aku menangis sesegukan di punggungnya. Dia menarik tanganku dan menciumnya.
Tubuhnya kembali berputar, kali ini dia memelukku dengan erat.
"Syukur lah ... Terima kasih. Terima kasih kamu sudah mau kembali padaku."
*
*
*
Sebulan kemudian.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Nesya Fitri Anisa binti Puryanto dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.” Pak Arendra menyebutkan kabul pernikahan kami dengan sangat lancar.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu pernikahan.
"Sah."
"Sah."
Lalu semua mengucap hamdallah dan kami semua berdoa bersama. Semoga kali ini pernikahanku bisa mengantarkanku menjadi pribadi lebih baik dan bersama-sama menuju jannah.
Semoga kali ini adalah yang terakhir bagiku, tak ada lagi kegagalan yang membuatku takut untuk memulai hidup baru.
"Selamat!" Bang Alan menyalami kami berdua disusul dengan Lingga yang tengah merangkul lengan Bang Alan.
Selanjutnya Mbak Reina dan suaminya memberikan kami selamat.
"Terima kasih Bu Kepsek." ucap suamiku.
"Ini gara-gara kamu. Kalau tidak, mana mau aku menjadi kepala sekolah? Lebih enak menjadi guru biasa saja." jawabnya dengan wajah sumringah.
Mbak Reina lah yang kami minta untuk menjadi kepala sekolah untuk sekolah baru tersebut. Persiapan membangun kelas sederhana pun sudah hampir rampung. Tahun ajaran baru nanti, dimulai setelah Mbak Reina lahiran. Hingga membuat kami lega karena waktunya cukup tepat setelah dia tidak dalam masa kehamilan.
*
*
*
Kami hanya menikmati bulan madu di hotel berbintang yang ada di kota ini. Suamiku memang bisa mengambil cuti kerja, tetapi tidak denganku yang menikah dalam masa aktif perkuliahan. Hingga Pak Arendra, maksudnya Pak Suami memutuskan menabung cutinya untuk saat liburan nanti.
"Kamu udah siap, Sayang?" tanyanya padaku yang tengah menidurkan Elena. Elena tidak mau dititip pada Nenek dan Datuk hingga minta ikut saat kami akan menginap di hotel ini.
"Ssst, masih proses."
"Kok lama banget tidurnya?"
"Ssstt ... jangan berisik ah!"
Suamiku mulai berbaring di belakangku, dan mencium rambutku. "Rambutmu selalu wangi ya?" Dia mulai membelai rambut dan memeluk dari arah belakang.
Elena yang menyadari tangan asing tengah memeluk sang ibu membuatnya kembali bangkit dan mengintip orang yang ada di belakang.
"Papa ..." dia menyengir dan langsung melompat ke arah belakang.
"Jadi dia belum tidur?"
"Mungkin karena pindah tempat, dia jadi susah tidur."
"Waduh ..." Suamiku menepuk jidatnya.
...—THE END—...
*salah sendiri nikah sama janda beranak 😂
__ADS_1