Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
39. Orang tua


__ADS_3

"Kamu? Kenapa ke sini?"


Aku lihat, Pak Arendra berjalan ke arahku dengan langkahnya yang terlihat cukup aneh. Lalu mengapa dia berjalan ke arahku?


Aku mundur beberapa langkah, tetapi dia berjalan semakin mendekat. Aku terus mundur, dia terus mendekat. Tangannya bergerak seperti hendak ingin menerkamku. Oh Tuhan, dia mau melakukan apa padaku?


Tanpa aku sadari, mataku terpejam bersiap dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Namun, kenyataannya tidak terjadi apa-apa. Aku membuka mata kembali, dia sudah memasang handuk kimono dan mengikatnya.


Aku tengok ke arah belakang, ternyata di sana ada benda-benda miliknya yang terletak tepat di gantungan outdor yang sekaligus digunakan untuk menjemur handuk dan sejenisnya.


Pak Arendra berkacak pinggang memperhatikan benda yang sedang aku bawa. Sebungkus besar pakaian yang sudah rapi, dan tentunya wangi milik keluarga ini.


"Ini, Pak." Aku serahkan kantong tersebut kepadanya. Namun, dia menolaknya.


"Kamu taruh ke dalam, dan tolong simpan dengan baik! Vina biasa melakukan ini tanpa disuruh."


"Tapi, Pak? Tentunya saya berbeda dong ya? Kak Vina kan masih ada hubungan keluarga dengan Bapak. Sementara dengan saya kan tidak sama sekali? Masa harus disamakan dengan saya yang baru pertama kali datang ke sini?"


"Saya tidak mau tahu!" Pria itu masuk ke dalam rumah lewat pintu yang tidak jauh dari tempat kami berdiri.


Aku lihat, di pojokan seperti apa yang dikatakan oleh Kak Vina, sudah ready pakaian yang siap untuk dibawa. Sepertinya, di sana adalah lokasi cuci outdor di rumah ini. Ada banyak air di sana.


Aku harus menaruh pakaian keluarga ini terlebih dahulu. Akan tetapi, aku sama sekali tidak tahu harus ke mana meletakan pakaian bersih ini.


Aaah, dari pada pusing, lebih baik aku letakan di atas meja ini saja. Tak mungkin juga dong, aku masuk ke kamar mereka untuk merapikannya sendiri?


Rumah besar ini sungguh terlihat sangat sepi. Tak ada satu pun terdengar suara penghuni atau seseorang yang beraktifitas. Apakah di rumah sebesar ini tidak memiliki asistem rumah tangga? Pasti sangat merepotkan bila membersihkannya sendiri.


Satu bungkus besar pakaian bersih keluarga ini sudah aku letakkan di atas meja ruang keluarga. Namun, Pak Arendra tadi menghilang begitu saja tanpa ada kabar sama sekali. Ya udah, aku pergi saja dan membawa pakaian yang kotor tadi. Aku pun bergerak kembali melewati pintu samping menuju ke arah kolam renang tadi.


"Ekheeemm ... mau kemana?"


Sebuah suara tiba-tiba muncul dan mengagetkanku. Rumah yang sedari tadi sepi dan hening, dengan tiba-tiba muncul sesosok makhluk yang mengenakan kimono mandi sembari membawa dua gelas jus dan makanan yang terlihat aneh bewarna coklat.

__ADS_1


"Walah, Pak? Tak usah repot-repot segala. Ini memang pekerjaanku sebagai tukang cuci." tolakku sopan meskipun dia sama sekali tidak menawarkannya kepadaku.


Pak Arendra hanya mengulas senyun, yang aku pikir seperti senyuman jahil. Apa dia ingin memgerjaiku. Rumah ini sangat sepi, jangan-jangan dia memberi obat aneh ke dalam jus tersebut. Banyak sekali nupel-nupel menceritakan obat aneh tersebut.


"Diiih, siapa juga yang mau menawarkan kamu?" Dia melewatiku dan duduk di bangku pinggir kolam renang.


Di sana sudah duduk seekor kucing yang tidak memiliki bulu sama sekali. Kucing aneh itu memiliki bentuk yang aneh pula. Iih, ternyata ada ya yang mau memelihara kucing aneh seperti ini.


Itu berarti pemiliknya adalah orang yang aneh, dan Pak Arendra kemungkinan pemiliknya. Berarti simpulannya Pak Arendra itu --- aneh ---


Jus yang aku sangka ngaanu tadi malah dituangkan pada tempat minum khusus milik si kucing. Lalu si kucing langsung meminum dengan lahap. Makanan ringan yang aku sangka snek untuk kami, ternyata diberikan kepada si kucing. Mewah sekali hidupmu, Cing. Melebihi kemewahan diriku dan Elena.


Mataku tak berhenti memperhatikan ketelatenan sang dosen dalam memberikan makanan pada makhluk hidup yang kononnya sangat mahal ini.


Sesaat kemudian, aku baru menyadari kekonyolanku. Kenapa aku terus memperhatikan ini? Ini hanya membuang waktuku yang berharga. Elena sedang menungguku di rumah. Aku segera bergerak mencari kantong pakaian kotor yang lebih dari satu tadi. Namun, tentu saja akan menguntukan bagiku yang seorang pengusaha.


Tanpa mengatakan apa-apa, aku segera mengangkat benda-benda itu, namun tak sengaja menumpahkan air yang berada tepat di sebelahnya dan hal ini membuat sendal jepitku manjadi licin. Aah, biar aja. Hanya basah sedikit kok. Untuk menghemat waktu, aku tumpukan pakaian kotor tersebut dalam rangkulan sehingga membuat susunan pakaian itu melebihi tinggi tubuhku dan tentunya sanga berat.


Kelakuan nya ini membuatku tidak nyaman. "Ada apa, Pak? Apa ada lagi yang harus aku bawa?"


Dia menggeleng pelan. "Itu baru pakaian Mama dan Papa. Pakaianku, biar aku sendiri yang bawa ke sana."


"Sekalian saja, Pak." tawarku.


"Pakaian saya yang kemarin sudah beres, belum?"


Aaah, kenapa Kak Vina tidak sekalian menyerahkannya kepadaku? "Maaf, Pak. Saya lupa membawakannya."


"Ya udah, nanti setelah kamu bawa ini, kamu kembali lagi untuk bawakan pakaianku yang sudah bersih!"


Duuh, kembali lagi? Males banget. Nanti biar Kak Vina yang membawakan untuk pria aneh berprofesi dosen ini.


"Dan jangan pernah kamu berpikir untuk menyuruh orang lain menggantikan pekerjaanmu. Karena tugas ini khusus aku berikan buat kamu!" ucap Pak Arendra memberikan senyuman jenaka.

__ADS_1


Padahal, saat di kelas, Pak Arendra ini terlihat selalu memasang muka datar. Akan tetapi, di sini dia selalu saja memberikan senyuman yang sangat menyebalkan. Sepertinya dia sengaja memberikan tugas berat untukku, ya, memberatkanku.


"Apa Anda memiliki dendam kesumat terhadap saya?"


"Hahaha, dendam kesumat? Kenapa berpikir seperti itu?" Kedua tangannya kembali berada di pinggang.


"Ya, dari perlakuan Bapak."


"Ekheeemmm ... sudah! Jangan panggil saya Bapak kalau situasi non formal seperti ini. Kamu membuat saya merasa sangat tua." Pria yang masih mengenakan kimono tersebut menyandarkan kepalan tangan pada mulutnya.


"Bagaimana pun Anda itu dosen saya, guru bagi saya. Guru itu kan sosoknya selayak orang tua. Jadi Bapak itu bagai orang tua bagi saya."


"Ooh, begitu?" Senyuman aneh penuh makna kembali disunggingkannya.


"Nah, orang tuamu ini meminta agar kamu segera melunaskan hutangmu! Bapak yang belum tua, menjadi merasa tua ini sudah bosan karena janji-janji manis mu itu. Kamu sudah bagai paslon yang kampanye dengan segala janji yang tak kunjung ditepati---"


"Tunggu, Pak? Apa hubungannya? Bapak ini sungguh hobi mengada-ada."


Dalam senyum yang aku rasa menyimpan sesuatu, Pak Arendra membantu mengangkat pakaian-pakaian tadi yang sudah layu dimakan waktu.


"Mana kendaraanmu?"


Aku segera merebut bungkus-bungkus pakaian kotor tersebut. "Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri kok."


"Kamu aneh ya? Ditolongin malah nolak?" Pak Arendra mempertahankan bungkus-bungkus pakaian kotor tersebut.


Aku ambil kembali kantong besar tadi, dan dia merebut kembali. Aku merasa semua ini semakin menambah list hutang yang belum terbayar juga. Aksi saling rebut pun terjadi.


Namun, sendal jepitku yang licin akibat tadinya sedikit basah membuat pijakanku tidak tertapak dengan sempurna.


Aku terpeleset sambil menarik kimono yang dipakai oleh Pak Arendra tadi. Kami condong masuk ke baskom yang lumayan besar itu.


byuuuurrrr

__ADS_1


__ADS_2