
Ucapan pria bernama Jojo itu, membuat emosiku meluap-luap. Rasanya tangan ini ingin menghajarnya kembali, tetapi saat ini kami sedang berada di kantor polisi. Hal ini disebabkan karena mendengar dia mengatakan Nesya telah melakukan hal di luar norma bersama adikku.
Aku bangkit berdiri kembali di meja di tempat yang tadinya aku sendiri yang duduk di sana. "Ven, coba lanjutkan rencanamu!"
Alven menganggukan kepala melangkah cepat mengambil tasnya yang tergeletak di bangku panjang tempat kami duduk. Aku percaya, tidak mungkin Alven berani melakukan hal yang aneh. Aku lebih memahami dia dibanding siapa pun, meskipun dia sama sekali tidak memahamiku.
Alven mengeluarkan laptop dari dalam tas nya. Lalu menyalakan benda itu dan membawanya ke meja polisi, tempat Nesya sedang diinterogasi.
"Pak, sebenarnya orang yang berada di samping saudari Nesya ini adalah pencuri. Saudari Nesya sudah mengatakan tak ingin memenjarakannya semenjak awal. Namun, melihat tak satu pun kata-kata yang baik keluar dari mulutnya, lebih baik Bapak lihat sendiri apa yang diperbuatnya!"
Adikku Alven memutar sebuah video yang menampilkan wajah pria bernama Jojo ini sebagai pemeran utama. Saat menyedari ada wajahnya di dalam video tersebut, pria bernama Jojo hendak menepis laptop tersebut dengan sangat keras.
Namun, dengan sigap Alven memegang laptop tersebut hingga membuat pria bernama Jojo semakin naik pitam. "Jadi, selama ini kamu memaata-mataaiku, Nesya?"
Dia mendorong Nesya dengan kasar hingga jatuh dari kursinya. Aku segera menangkapnya dengan tubuhku. Dia jatuh tepat dalam pangkuanku. Waktu berlalu terasa begitu lambat. Netra kami bertemu dan sebuah desiran di dalam sukma menyadarkanku bahwa dia terlihat sangat cantik.
"Nesya, kamu tidak apa-apa?" Alven menarik tangan ibu muda itu untuk segera bangkit.
Nesya pun melepaskan diri dari pangkuanku. Jangan! Aku masih ingin seperti ini dalam beberapa waktu. Namun, wanita itu sudah sibuk marah-marah di hadapan polisi, tak menghiraukanku yang masih termangu duduk di atas lantai.
"Pak, tangkap dia, Pak! Tangkap dia, aku mohon tangkap dia! Selain sudah mencuri, dia mencemarkan nama baik saya, Pak. Saya sudah tidak peduli mau diberi hukuman berapa lama. Yang penting, tangkap saja dia, Pak."
Aku bangkit berdiri tepat di belakangnya. Masih berharap dia menyadari kehadiranku yang terus mencari-carinya. Hah, apakah aku masih ingin balas dendam?
Nesya masih belum mengacuhkanku. Hai, aku di sini. Ayo lihat aku! Aku hanya bisa memanggilnya di dalam hati.
"Benar, Pak. Ini saya memiliki bukti dia sudah melakukan tindak pidana pencurian." tambah Alven menatap Nesya dengan senyum puas.
"Ekheeemm!"
Alven menantangku. Sepertinya dia benar-benar tertarik pada Nesya. Tidak seperti aku yang baru menyadari bahwa ibu muda bernama Nesya ini semakin waktu membuat perasaanku semakin terombang ambing.
__ADS_1
Aku segera menyelip pada celah yang ada di antara Alven dan Nesya. Biar aku saja yang berada di sebelahnya. Namun, tiba-tiba seorang dari masa lalunya ikut berdiri di sisi lain Nesya.
"Lancang sekali kau Alan. Sekarang kau beralih memusuhiku setelah aku selalu membocorkan informasi tentang mantan istrimu ini."
"Terima kasih sudah membantu gua Jo. Hanya saja, gua tak suka cara lu yang begini. Berani mencoba memukul dan gua rasa lu bener-bener ga waras. Ingat, dia itu udah bantuin lu. Namun---"
"Aaahh bacot Lu, Laaan!" Jojo bersiap melayangkan pukulannya pada mantan suami Nesya.
Namun, tangan pria itu berhasil ditangkis dan Jojo segera dibekuk oleh dua orang berseragam. Jojo dibawa ke bagian sel tahanan sementara.
Alan menyugar rambut Nesya. "Kamu tidak apa, Dek?"
paaak
Tangan Alan aku dorong secara refleks. Ini sungguh di luar keinginanku. "Silakan kembali pada istrimu!"
Pria bernama Alan itu tersenyum tipis. "Saat ini aku sudah berakhir dengannya. Apa kau takut jika aku berhasil merebut dia dari tanganmu?"
Nesya kembali duduk menunggu hasil putusan dari para polisi. Diikuti oleh Alven yang bagai perangko tak mau lepas dari Nesya. Ponselku bergetar, pada layar tertulis nama KaProdi.
Oh iya ... aku lupa ... masih ada kuliah di kelas mandiri C siang ini. Namun, sepertinya urusan yang ada, belum menunjukan tanda-tanda akan berakhir. Aku geser tanda hijau dan menyingkir untuk menjawab panggilan tersebut.
📳"Rendra, kamu ke mana?"
"Maaf, Pak. Saya ada urusan mendadak yang tidak terelakan. Apa saya boleh izin untuk hari ini, Pak?"
📳 "Saya melihat kamu sedang menghajar seseorang. Di sana juga ada mahasiswa baru bernama Nesya."
Waduh, kok bisa ketahuan? "Maaf, Pak." Hanya itu yang bisa keluar dari bibirku.
📳 "Jika urusanmu telah selesai, esok kamu harus langsung menghadap saya!"
__ADS_1
Sebelum menutup panggilan, terdengar ocehan Pak Suhandi yang tengah geram.
📳 "Memalukan."
Sepertinya esok adalah hari yang panjang bagiku dan Nesya. Aku segera membuka ponsel dan banyak sekali yang menandakan namaku pada sebuah video yang tidak dikenal siapa menyebarkannya.
Entah berapa kali semenjak tadi kening ini kutepuk. Aku lihat Nesya yang tanpa beban tengah berbincang dengan adikku yang masih memasang muka datarnya. Kenapa Nesya bisa lebih cepat akrab begitu dengan Alven? Bukan kah seharusnya, dia lebih dekat denganku?
Mantan suami Nesya, bergerak mendekat pada mereka berdua. Aaah, sepertinya aku harus bisa menggunakan ilmu muka badak atau muka tembok sekalian ya? Walau ditolak mentah-mentah, semangat untuk dekat dengannya tak pernah surut, seperti yang dilakukan Alan.
Ponselku kembali bergetar. Pada ponsel Nesya terdengar nada dering menandakan panggilan masuk. Nesya bangkit dan menuju pojokan saat menjawab panggilan itu. Sementara aku, merasa enggan menjawab panggilan kali ini. Karena, di layar ponselku tertulis nama Gendis.
Setelah tanda panggilan berhenti, aku memilih untuk non-aktifkan ponsel. Ya ... aku masih malas menjawab panggilan jika masih menanyakan hal yang sama.
*
*
*
Malam hari, dengan perasaan lelah lahir batin, aku dan Alven langsung menuju kamar masing-masing. Papa Mama sepertinya sudah siap untuk menggantikan polisi untuk mengintrogasi kami berdua.
Sebenarnya Papa dan Mama tadi mencoba menghubungiku, hanya saja ponselku non aktif sehingga beralih pada ponsel Alven. Aku larang mereka menyusul ke kantor polisi, karena aku sendiri bisa menyelesaikan masalah ini.
Pintu kamar sengaja aku kunci, agar Papa dan Mama tidak masuk dan menyerangku dengan jutaan pertanyaan. Lebih baik menghindar dari pada menambah masalah.
Keesokan hari, masih di pagi buta, sebelum Papa dan Mama keluar dari kamar, aku sudah bersiap dengan pakaian kerja. Hal ini masih demi menghindari interogasi dari kedua orang tuaku.
Sebelum keluar kamar, aku pastikan rumah masih dalam keadaan sepi. Aku mengangkat sepatu berencana mau memakainya di luar saja. Sambil berjinjit, secara diam-diam menuju garase mobil.
"Mau kabur ke mana?"
__ADS_1