
*Maaf ya Kak baru up, soalnya aku lagi kurang sehat sekeluarga. Aaiih, badanku pegel semua rasanya. Jadi maklumkan aja kalo seandainya banyak typo yaaah*
"Proposal menjadi istri kedua?"
Belum jadi membaca isi didalam amplop itu sudah duluan membuatku merasa kesal. Jadi ini lah pekerjaan Mas Aren di belakangku?
Kertas yang ada di dalam tangan remuk begitu saja karena aku refleks menggenggamnya dengan erat. Aku buka kembali surat-surat yang lain, ternyata berisi hal yang sama, hanya penomorannya saja yang berbeda.
ceklek
Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka dari arah dalam sana. Aku memilih beranjak.
"Sayang, kamu sudah selesai masaknya?" tanya Mas Aren yang tadinya bergerak ingin memelukku.
Ah, ternyata dia sama saja ... semua lelaki itu sama saja. Pada awalnya saja mereka menunjukkan rasa suka, setelah mendapatkan apa yang diinginkan malah seperti ini.
Aku memilih menuju kamar sebelah, kamar yang seharusnya untuk Elena, tetapi kosong begitu saja karena gadis kecil itu tidak mau tidur sendirian di kamarnya.
Air mata jatuh dengan sendirinya tanpa bisa aku tahan. Aku membayangkan kembali bagaimana Bang Alan diam-diam menjadi pria bayaran tanpa pernah aku sadari.
Namun, pernikahan ku dengan Mas Aren ini masih seminggu. Aku harus bagaimana?
__ADS_1
tok
tok
tok
"Sayang, kamu lagi apa?"
Aku hanya bisa melihat ke arah pintu tersebut. Benda yang terbuat dari kayu yang memisahkan aku dengan seseorang yang berada di luar sana.
"Sayaaang! Ayo sini! Aku mau menceritakan sesuatu yang lucu padamu. Namun, ternyata tas kerjaku sudah dibongkar oleh Elena."
"Sayaang?"
"Ibuuuk, Ibuuuk ...."
Suara Elena juga bergantian memanggilku dari luar pintu sana.
"Apa kamu membaca surat-surat ngaco itu? Kamu jangan salah paham dulu! Itu hanya lah cerita lucu yang ingin aku sampaikan kepadamu." bujuknya di balik pintu yang aku sandari.
Namun, bujukannya itu belum mampu meluluhkan hatiku. Aku masih teringat akan masa laluku yang kelam. Masa lalu di mana suamiku dulu bergumul dengan wanita selain aku.
__ADS_1
"Sayaaang, kamu jangan sama-samakan aku dengan mantan suamimu dong. Ini kasusnya sangat berbeda."
"Ibuuuk, Ibuuuk ... Elena lapar, Buuuuk."
Suara ketukan pintu diiringi suara suami dan anakku yang terus berteriak dari arah luar kamar.
"Ibuuuuk? Kenapa Ibuk tidak menyahut?" Elena terdengar mulai menangis.
"Sini sama Papa yuk, Ibuk tidak sayang kita lagi. Ayo ikut Papa."
Lhoh? Anakku mau dibawa ke mana? Elena itu anakku, kenapa dia mau membawa Elena? Aku bangkit dan membuka pintu kamar melihat mereka berdua saling memberi kode telunjuk di bibir dengan muka jahil.
Saat mereka melihatku, kedua orang itu terpaku beberapa detik. Aku merasa masuk ke dalam jebakan ayah anak sambung itu, refleks tangan ini ingin menutup pintu kembali.
Akan tetapi, kali ini pintu itu terasa begitu berat saat akan aku tutup tadi. Ternyata, Mas Aren sudah menahan dengan kakinya di sela pintu.
"Sayang, jangan gini dong. Kamu jangan menyimpulkan sendiri apa yang ada di kepalamu. Aku akan menjelaskan semuanya. Please ...."
Akhirnya pintu itu tidak jadi aku tutup. Aku biarkan dia masuk ke dalam. "Apa lagi? Sandiwara apa lagi setelah ini, Mas?"
"Lhooh? Kok kamu berkata begitu? Jadi kamu tidak mempercayai aku yang begitu tulus mencintaimu? Jadi kamu masih menganggap hubungan ini sebatas sandiwara?"
__ADS_1