
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Aku sangat mencintaimu. Jika nanti ada tugas keluar lagi, aku akan membawamu ke mana pun itu." ucap suamiku.
Aku masih memeluk Mas Aren, aku rindu dada ini, tubuh ini, aroma ini, dan hangatnya berada di dalam dekapannya. Air mataku tiada henti menjatuhi pipi, meski sebenarnya ada kelegaan tiada tara kini memenuhi hati.
Usapan lembut pada rambut dan kepalaku, perlahan menyirnakan kekacauan itu. Aku yakin, aku sudah cukup tenang dan damai. Orang yang hadir dalam kujuran tubuh kaku kini terlihat telah nyata di depan wajahku.
"Baik lah, mari pulang saja. Mak dan Bapak pasti kebingungan mencariku yang tiba-tiba menghilang."
Suamiku mengacak rambutku dengan senyumannya yang selalu dengan mudah membuatku luluh. Dia bangkit dan menengadahkan tangannya yang langsung aku sambut tanpa berlama-lama.
"Ingat ya, peran suami begitu penting saat awal kehamilan ini. Biasanya ibu yang hamil muda akan menjadi lebih sensitif dengan segala hal. Kala itu lah peran suami dalam menjaga kestabilan suasana hati sang istri."
Suamiku merangkul bahuku kembali mengusap lembut kepalaku. Setelah itu, wajahnya beralih pada dokter yang sedang menuliskan resep vitamin buat ibu hamil.
"Terima kasih, Dok. Terima kasih atas bantuan dan saran yang diberikan. Saya akan mengingat dan melaksanakannya dengan baik."
Kami segera keluar, Mas Aren berjongkok. "Ayo naik!" Ia memberikan punggungnya padaku.
"Istriku tidak boleh terlalu lelah."
Tanpa berpikir panjang, aku segera memeluk lehernya di belakang. Ia segera bangkit dan menopang tubuhku yang telah bergelantungan di lehernya. Semua orang yang ada di koridor menatap kami berdua, jujur, aku menjadi sangat malu.
Aku menyembunyikan wajah di punggungnya yang lebar. Aku teringat akan masa lalu pertemuan pertama kami di pantai. Pertemuan yang sangat lucu, kotak bedak yang aku lempar, mendarat manis di kepalanya.
"Jika seandainya kita tidak bertemu di pantai, akan kah ada kisah di antara kita?"
Suamiku hening, dia tidak menjawab apa-apa. Beberapa waktu kutunggu komentar darinya, tak kunjung bersuara.
"Jika seandainya Bang Alan tidak memutuskan hijrah ke kota, mungkin kita tidak akan pernah bertemu untuk selamanya."
"Ekhem, kenapa harus membicarakan dia?"
"Emang kenyataan kan? Mungkin aku akan terpendam jadi gadis dusun yang tidak mengetahui apa pun hingga saat ini."
Mas Aren kembali hening, tetapi ia terus melangkah menuju area parkiran rumah sakit. Sepertinya ia sempat membawaku menggunakan kendaraannya ke tempat ini.
__ADS_1
"Kenapa diam aja?"
"Hmmm, aku tak tahu harus mengatakan apa jika kamu berbicara tentang masa lalu. Karena saat aku membicarakan masa lalu, kamu pasti akan dramatis."
Penjelasan Mas Aren itu, refleks membuatku terkekeh. Aku masih menikmati aromanya, entah kenapa aku suka. Apa mungkin dikarenaman aku terlalu merindu? Hari-hariku yang tak lepas dengan keberadaannya membuatku sunggu menggila kehilangan dirinya yang hanya tiga malam.
"Sepertinya, aku tidak sanggup berpisah jika lebih lama lagi dari ini." Pelukanku di lehernya semakin erat.
"Aaakhh, jangan terlalu kencang. Aku jadi nggak bisa bernafas."
"Salah sendiri kenapa membuatku kangen berat."
"Iya ... Iya ... Maaf ya."
Akhirnya kami sampai di kendaraannya. Aku turun dan aku kembali merankul pinggangnya menempel tak ingin lepas. Mas Aren memasang wajah heran, karena sebelumnya aku tidak pernah seperti ini padanya.
Akan tetapi, ia tidak ambil pusing dan merogoh-rogoh kunci mobil yang ada di dalam kantong celana. Namun, entah kenapa ia tak kunjung menemukan benda itu.. "Geser dikit, Sayang. Aku mau mencari kunci mobil dulu. Ini terlalu sempit karena kamu terlalu mepet," ucapnya.
Degh
Entah kenapa ucapannya barusan membuat perasaanku terluka. Aku melepaskan pelukan dan segera memberi jarak selebarnya. Akhirnya, Mas Aren memasukkan tangan dengan sepenuhnya. Ia merogoh-rogoh kantong celana dan ternyata tangannya malah masuk hingga ke dalam-dalam.
"Sayang, kamu tunggu di sini ya? Aku harus kembali masuk ke dalam. Siapa tau ada yang menemukan kunci mobilku di dalam."
Mata suamiku liar melirik ke kiri dan ke kanan, hingga terfokus pada satu tempat. Dia menggandengku dengan pelan menuju salah satu bangku yang ada di dekat parkiran. Di hadapannya ada taman kecil dengan beberapa tumbuhan bonsai yang tertata dengan sangat rapi.
"Sayang, kamu duduk di sini ya?" Ia menarikku dan menunggu hingga aku duduk di sana dengan baik.
Namun, aku bangkit kembali. "Aku ikut." Aku langsung merangkul lengannya dengan manja.
"Nanti kamu capek bolak-balik. Lebih baik kamu tunggu di sini aja. Aku janji, ngga akan lama kok."
Akhirnya, aku terpaksa duduk di bangku taman berwarna putih itu. Mas Aren langsung berjalan cepat sembari mengikuti langkah yang mungkin kami lewati tadi.
Ah, hatiku sungguh bergejolak melihatnya kembali meninggalkanku. Kenapa aku jadi lebay begini ya? Biasanya aku tidak begini. Kakiku terasa akan berlari mengejarnya.
__ADS_1
Sebuah sosok mengejutkanku tiba-tiba berjalan di hadapanku. Ia sedang mendorong stroller berisi bocah lelaki yang dulu selalu dibawanya.
"Kamu ngapain di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanyanya, tetapi kali ini suaranya datar. Persis seperti dulu saat masih bersamanya.
"Nggak apa."
"Oh, ..." Lalu ia pergi tanpa memberikan keterangan apa pun.
Bang Alan ngapain bawa anaknya itu ya?
Akan tetapi, Bang Alan memutar stroler dah berjalan mendekatiku. "Kamu sendirian? Kamu sakit apa?"
Aku menggelengkan kepala kembali. Dari bagian koridor depan rumah sakit, aku lihat suamiku telah berjalan cepat menuju ke posisiku saat ini.
"Itu, aku dengan suamiku."
Bang Alan memutar tubuhnya. Mas Aren berjalan semakin cepat berdiri di sisiku. Ia segera menarik tanganku meninggalkan Bang Alan bersama anaknya.
"Kenapa ada dia di sini?" tanya Mas Aren.
Aku langsung merangkul lengannya. "Entah lah, aku tak nanya tuh."
"Bagaimana hubungannya dengan temanmu itu?"
"Apa masih perlu kita membahas tentang dia? Biarkan aja! Kecuali kalau kamu ingin mencari-cari alasan untuk kita bertengkar." Aku lirik ke arah belakang, ternyata Bang Alan masih mematung di posisi yang sama.
Mas Aren ingin melirik juga, tetapi aku tarik agar segera menuju mobil. Entah kenapa dia selalu seperti itu padaku, jika segala sesuatu berhubungan dengan Bang Alan.
Di dalam kendaraan, jelas terlihat ia masih mematung menghadap ke mari.
"Apa yang dilakukannya? Kenapa dia terus memperhatikanmu seperti itu?"
"Enggak ah, perasaanmu aja kali, Mas. Mungkin dia melihat sesuatu yang aneh sampai terbengong-bengong gitu."
Mas Aren kembali tidak menjawab, memutar kendaraan keluar dari parkiran menuju pintu gerbang keluar dari area rumah sakit ini. Suasana hening pun menghampiri.
__ADS_1
Kulihat tangan kirinya yang sibuk menggenggam persneling, mengeluarkan urat-urat biru pada punggung tangannya.
"Mas, kenapa kamu marah? Kenapa kamu selalu cemburu seperti itu? Jadi, apa aku yang salah atas pertemuan yang tidak disengaja ini? Apa kamu menyesal, menikahi janda yang masih terikat dengan masa lalu seperti aku?"