Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
65. (PoV Aren) May


__ADS_3

Tiba-tiba saja dua orang tadi yang kulihat beriringan di jalan masuk ke dalam ruanganku. Yang satu masuk dengan cuek tanpa permisi seperti biasanya. Yang satu lagi masuk dengan sembari melihat ke arah luar berulang kali dengan wajah khawatir.


"Ada apa?"


"Boleh numpang nge-print?" ucap Alven sembari melirik Nesya.


"Gak boleh!"


Nesya tampak mengangguk cepat, sepertinya dia tengah pasrah akan suatu hal. "Saya keluar saja." Dia mulai bergerak keluar.


"Tunggu! Kamu sendiri mau ke mana?"


"Oh, saya akan nge-print di luar saja. Maaf mengganggu." Dia menganggukan kepala dan menutup pintu.


"Jadi yang mau nge-print itu sebenarnya siapa? Dia apa kamu?" Alven tampak sedikit merengut padaku.


"Dia." Lalu keluar mungkin mengikuti Nesya tadi.


tok


tok


tok


Pintu diketuk, dan aku bisa memastikan itu bukan Alven. Dia keluar masuk ruang kerjaku dengan seenaknya. Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh seseorang dari luar.


Ternyata, itu adalah Gendis, keponakan Bu Yenni. "Selamat pagi, Pak Rendra."


"Ya, Bu ... ada apa?"


Gendis menutup pintu dan duduk begitu saja pada kursi yang ada. Dia mencoba menatapku dengan lekat. Sepertinya dia memperhatikan bagian wajahku tertempel plester penutup luka.


"Bagaimana keadaanmu? Sepertinya luka di wajahmu cukup parah?"


"Barusan aku melihat adikmu berjalan berdua dengan wanita yang ikut tersorot di dalam video itu. Jadi, sebenarnya dia itu pacarmu apa pacar adikmu?"


"Kenapa pagi-pagi sudah ke sini? Jika cuma buat mengintrogasi, lebih baik kamu keluar. Saya akan masuk kelas pagi."

__ADS_1


Aku segera menyiapkan bahan ajar berupa modul dan flashdisk. Namun, wanita itu terlihat masih belum bergerak juga.


"Masih ingin di sini?"


"Rendra, kenapa kamu selalu begini padaku?"


"Hmm, baik lah .... Saya akan keluar duluan." Sembari menjepit modul yang tadi kusiapkan, kaki pun melangkah keluar dari ruangan yang tidak luas ini.


Gendis bergerak cepat bergelayut di lenganku. "Rendra! Sampai kapan kamu akan terus menyia-nyiakanku seperti ini?"


"Sudah lah! Aku hanya tak ingin mengungkapkan alasan karena tak ingin menyakitimu. Namun, lebih baik kamu berhenti. Cari lah lelaki yang lebih baik dariku!"


Aku mulai menarik handle pintu. Aku lirik Gendis sejenak. "Maaf."


Aku mulai melangkah menuju ruang perkuliahan pagi ini. Beberapa mata menatapku dengan panjang. Aku rasa bukan tatapan cinta, tetapi sebuah tatapan heran mengenai wajahku yang babak belur dan mungkin juga mengenai video yang viral beberapa waktu lalu.


*


*


*


Kasihan juga dia, tetapi aku tidak banyak membantunya. Jika aku kembali banyak berinteraksi dengannya di sini, semua orang akan semakin memojokannya. Mungkin hal yang paling tepat untuk aku lalukan adalah dengan membiarkan semuanya. Karena waktu akan mengobati segalanya.


Beberapa waktu terus berlalu. Nesya terus menghindariku. Bahkan, dia menolak mentah-mentah di saat aku mengatakan ingin bermain ke tempatnya.


Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan pun berganti hingga masuk masa libur semester genap yang sangat panjang. Alven sedang menyiapkan diri mengikuti program S2 ke ibu kota.


Dia sengaja bekerja dengan Papa. Dia mengatakan ingin mencoba bagaimana rasanya memiliki uang hasil dari keringat sendiri.


Perusahaan Papa pun memberi kesempatan kepada Alven untuk mengembangkan ilmu yang dimiliki dengan memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan ke ibu kota.


Awalnya Alven menolak. Aku tahu apa alasannya menolak kesempatan itu. Dia pasti merasa khawatir akan jauh dengan Nesya di saat hubungan mereka terlihat semakin akrab. Namun, akhirnya luluh setelah mendapat bujukan dari Mama.


Sementara, Nesya selalu menjauh dan menghindariku. Aku tidak tahu alasan dia berlaku seperti itu. Namun, aku rasa masih karena masalah video tersebut.


Tahun ini, usiaku telah masuk di angka 32 tahun. Satu per satu undangan demi undangan aku datangi tanpa pendamping.

__ADS_1


Setiap mengajak Nesya untuk menemaniku datang ke kondangan, dia selalu menolak. Terkadang, aku memaksa Alven atau Mama yang menemaniku datang ke pesta pernikahan teman-teman semasa sekolah dan kuliah.


"Mana pendampingmu Ren? Masa sampai hari ini masih belum bisa melupakan Reina?"


"Iya, bulan May nanti."


"May kapan? Ini udah Juli!" ucap temanku yang sedang bersanding dengan gagah di samping mempelai wanitanya yang mengenakan pakaian pernikahan adat di sini.


"Bisa May tahun depan, May tahun depannya lagi, May tahun berikutnya lagi. Kayak iklan zaman kita sekolah dulu. Maybe yes maybe no ...." Lalu kami tertawa.


Sambil menikmati hidangan, aku kembali teringat pada pertanyaan kawanku tadi. Apakah benar yang dikatakan oleh nya?


Namun, aku merasa sudah cukup lama tidak memikirkan Reina. Mau dia belum memiliki anak, mau udah, mau banyak, aku sudah tidak pernah lagi mencari tahu berita tentangnya.


Aku sudah tidak sakit lagi saat nama itu disebut kembali. Namun, ada satu nama yang kali ini selalu membuatku merasa kesal. Dia yang selalu menjauh dariku.


Memang benar, pada awalnya aku pikir mendapatkan hati janda itu sangat lah mudah. Para janda pasti ingin segera memiliki pendamping baru karena mereka terbiasa ditemani meski hanya sejenak.


Akan tetapi, semuanya tidak berlaku pada Nesya. Dia seolah menutup diri dari semua pria yang ingin mendekatinya. Hal ini membuatku sangat putus asa.


Apakah aku tak lebih menarik dibanding suaminya dulu. Apakah pekerjaan yang aku miliki membuat dia merasa terbebani? Atau, karena merasa trauma akan pernikahannya yang telah gagal?


Di musim libur ini, Nesya sama sekali tak pernah menginjakan kakinya ke kampus. Elena pun terlihat semakin besar. Aku hanya bisa meliriknya dari jauh.


Mobil aku parkirkan di seberang jalan agar Nesya tidak menyadari keberadaanku. Dia tampak sangat sibuk bekerja sebagai karyawan di sana.


Sebuah kendaraan roda dua menepi mendekati laundry mencuri perhatianku. Barang kali saja dia pelanggan laundry yang hendak mengambil pakaian bersih miliknya.


Elena masih asik bermain sembari menari-nari memegang ponsel di bagian depan toko. Pria tadi menghentikan motor, tetapi helm fullface yang dikenakan tidak dilepas sama sekali.


Aku mulai merasa aneh melihat gelagatnya. Aku segera keluar dari mobil yang ada di seberang jalan dua jalur ini. Aku ingin menyeberang untuk memastikan semua baik-baik saja.


Pria itu seperti mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket kulit bewarna gelap yang dia kenakan. Dia terus mendekati Elena sembari lirik kiri kanan.


"Hooy! Mau apa kau?" Aku mencoba menghardiknya. Akan tetapi, dia seolah tak mendengarku. Selain posisiku yang masih cukup jauh, dia juga mengenakan helm fullface yang mampu meredam suara.


Aku harus cepat menyeberang. Gerakan pria itu terlihat semakin aneh. Ada sebuah mobil berhenti di dekatnya. Dia mengeluarkan suatu benda dengan gerakan cepat menangkap Elena.

__ADS_1


Elena meronta berteriak. "IBUUUK ... IBUUUK ...."


__ADS_2