Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
88. (PoV Arendra) Reina


__ADS_3

*Terima kasih buat kakak pembaca semua yang terus mengikuti kisah ini hingga akhir ya ... πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡ ... Love sekebun buat kakak semua*


"Halo, Ibuk cantik ...." ucapku pada seseorang yang ada di ujung panggilan.


πŸ“³ "Aduh, kalau Bapak yang manggil begitu, bulu romaku terasa berdiri dengan seketika."


"Yey ... Emangnya aku hantu apa?"


πŸ“³ "Habis, manggil Ibuk padaku. Biasanya cuma Elena yang memanggil begitu."


"Mulai sekarang harus dibiasakan! Kamu kan tak mau mengubah panggilanku? Ya udah, sekarang kamu harus terbiasa aku panggil Ibuk juga. Nanti anak-anak kita manggilku Bapak aja."


Namun, dari seberang sana tak terdengar sahutan.


"Buk ... Buk, kenapa diam?"


πŸ“³ "Ehm ... Aku jadi malu." bisiknya nyaris tak terdengar.


"Love you ...." Yang di seberang kembali diam.


"Kenapa? Tidak dijawab?"


πŸ“³ "A-aku harus jawab apa?"


"Jawab bagaimana perasaanmu padaku dong."


πŸ“³ "A-aku ...."


"Kamu sudah pernah menikah kan? Kenapa begini saja malu?"


πŸ“³ "Soalnya di antara kami tak pernah saling ungkap rasa, tak pernah saling mengatakan cinta, dan dia ...."


Semakin ke ujung, suaranya terdengar semakin sendu. Sepertinya, dahulu aku juga seperti itu. Namun, kali ini aku tak ingin begitu lagi.


"Sayang."


πŸ“³ ???


"Saaa yaaaang."


πŸ“³ "Apaan sih? Gaje banget."


"Saaaayaaaaang."


πŸ“³ "Kupingku jadi sakit tauk!"


"Selamat tidur, Love you."


πŸ“³ "Bapak juga."


Telpon singkat ditutup begitu saja, dan aku sendiri masih dalam mode bingung. Aku harus sabar, sabar se sabar sabar yang aku bisa. Dia masih menutup hati. Mungkin hari ini belum, tetapi nanti ... aku pastikan dia akan membalas semua rasa yang aku punya.


Semenjak tadi malam, Alven terus berusaha menghubungiku. Dia pasti penasaran, atau mungkin dia sudah menebak. Biar lah, yang penting kali ini aku yang memenangkan Nesya.


drrrrt


drrrtt


Ponselku mulai bergetar. Hampir saja hatiku melonjak mengira sang calon istri yang menelepon. Namun, bukan dia. Kali ini yang menelepon adalah Reina.


"Halo, Rei?"


πŸ“³ "Apa kamu sudah bicara dengan mahasiswamu itu? Gimana katanya?" Suara sendu milik Reina, mengubah suasana hatiku 180 derajat.

__ADS_1


"Bagaimana hari ini? Gani sudah pulang?"


πŸ“³ "Dia hanya pulang sebentar. Lalu pergi lagi."


Ah, aku hampir saja lupa dengan permasalahan antara Reina, Gani, dan Lingga.


πŸ“³ "hiks ..."


Terdengar suara tangisan di ujung panggilan. Mendengar tangisan seorang wanita, membuatku tak tahu harus berkata apa.


πŸ“³ "Ren, aku butuh kamu."


"Baik lah, esok kita bertemu."


πŸ“³ "Aku ingin bicara malam ini juga. Aku-aku-aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku tak punya siapa pun tempat berbagi cerita. Orang tuaku, tak tahu dengan masalah ini. Aku--"


"Maaf Rei, aku tidak bisa menemanimu malam ini. Esok siang saja, aku akan datang bersama calon istriku."


πŸ“³ "Hiks ...."


Hanya tangisan yang bisa aku dengar. Lalu tak terdengar lagi apa pun dari seberang sana.


πŸ“³ braak .... praaang


Terdengar suara pecahan piring dari seberang. "Reina? Rei? Apa yang terjadi? Reii?"


Namun, tak ada lagi suara. Perasaan khawatir mulai menyeruak dalam pikiran. Aku takut, terjadi sesuatu padanya.


Aku segera mencari kunci mobil. Mama yang mendengar suara aku hendak keluar rumah langsung keluar dari kamar. "Malam-malam gini mau kemana, Ren?"


"Aku mau ke rumah Reina."


"Lhoh? Kamu masih berhubungan dengan Reina?" Mendengar ucapan Mama, Papa yang tadinya berada di dalam ikut keluar dari kamar.


"Ren, kamu mau apa lagi dengannya? Sekarang sudah larut malam." Giliran Papa yang bersuara.


Mama dan Papa saling berpandangan. "Sudah lah Ren. Sebenarnya kamu ini memilih siapa? Nesya apa Reina?"


"Kami sudah memutuskan menikah."


"Menikah? Menikah dengan siapa?" Tanya Mama panik. "Kamu mau menikah dengan Reina? Jangan bilang kamu jadi perusak rumah tangga Reina dan Gani?"


Aku tidak sempat menjelaskan kepada Mama saat ini. Aku harus segera pergi. Tanpa berkata lebih banyak lagi, aku beranjak menuju ke rumah Reina.


Sampai di rumah Reina, semua terasa sunyi. Aku mencoba melakukan panggilan lewat seluler. Terdengar alunan musik terdengar dari jauh yang mungkin ringtone dari ponsel Reina. Akan tetapi, Reina tidak menjawab panggilanku.


Sekali lagi kucoba melakukan panggilan. Hanya ringtone alunan musik yang sama kembali terdengar dari jauh. Dugaan demi dugaan terus keluar dari dalam kepala.


Perlahan kucoba menarik gagang pintu rumah ini. Suara gemeletuk pintu terbuka pun memecahkan suasana sunyi. Pintu tidak terkunci, apa yang terjadi? Setahuku, Reina bukan lah wanita ceroboh yang bisa lupa untuk waspada.


Aku masuk dan suasana rumah itu tetap sunyi. "Rei ... Reina?"


Aku terus melangkahkan kaki bergerak mencari-cari seseorang yang tadinya memintaku untuk segera hadir di sisinya. Langkah kakiku semakin dalam masuk ke bagian tengah rumah.


"Reina? Kamu di mana? Aku di sini."


Kali ini kakiku melangkah masuk ke arah ruang makan. Di sana aja meja makan yang sedikit berantakan. Aku kembali bergerak mencari Reina, dan dia kutemukan dalam keadaan pingsan.


"Rei ... Rei? Bangun!"


Di tangan reina, kutemukan sebilah pi sau dan tangan yang satu nya lagi telah dibanjiri da rah segar. Aku segera mengambil pisau tersebut untuk menyobek bagian bawah celana. Mengikat pergelangan tangannya yang terluka untuk menghentikan aliran da. rah.


Tanpa pikir panjang, aku segera membawa Reina ke rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, Reina langsung ditangani oleh para nakes. Sementara, aku berada di luar ruang emergency mencoba menghubungi Gani.

__ADS_1


Beberapa kali panggilanku ditolak. Nanun, aku terus mencoba melakukan panggilan tanpa putus asa. Akhirnya, setelah sekian kali, panggilanku dijawab juga.


πŸ“³ "Hmmm ..." jawabnya dengan memelas.


"Lu di mana?"


πŸ“³ "Apa urusan lu dengan keberadaan gue?"


tut tut tut


Panggilan pun terputus. Aku kembali mencoba melakukan telepon ulang, tetapi ponsel milik Gani sudah tidak aktif lagi.


Aku harus menghubungi siapa lagi? Aku tidak memiliki kontak keluarga Reina. Jika menjemput mereka, siapa yang menemani Reina di sini?


Aku sempat berpikir untuk menghubungi seseorang yang selalu ada dalam kepala. Namun, dia pasti kesulitan jika aku panggil saat ini. Nesya tidak mungkin membawa Elena ke sini tengah malam begini.


Hah! Aku hanya bisa mengusap kepalaku. Situasi ini benar-benar pelik dan rumit. Aku tidak bisa meninggalkan Reina, dan terpaksa menunggu di sini.


Beberapa waktu kemudian, dokter yang menangani Reina keluar dari ruang darurat tersebut. "Apa Anda yang mengantarkan pasien tersebut ke sini?"


"Benar, Pak. Bagaimana keadaan Reina?"


"Apa Anda suami pasien?"


"Bukan, Pak. Saya saudara jauhnya."


Dokter sedikit mendelik dan mengusap dagu dengan jemari. "Hmm ... Sepertinya ada masalah dalam rumah tangga pasien ya? Jadi ini lah yang membuat pasien depresi?" gumam dokter yang masih bisa kudengar dengan jelas.


"Sayang sekali, padahal pasien tengah hamil muda. Seharusnya, suaminya bisa menjaga perasaan dia. Terlebih lagi, di saat dia hamil muda seperti ini."


"Jadi saat ini Reina hamil, Dok?"


*


*


*


Pagi pun datang, Gani sampai dengan wajah amarah. Aku bersiap ingin menghajar suami dari Reina itu.


bugh


bugh


bugh


"Dasar dosen ke pa rat! Lu udah selingkuh dengan bini gue, hah?"


*


*


*


Yuhuuuu ... Mampir ya pada karya Author kece berikut ini:


Napen: Mama Reni


Judul: Cinta Tanpa Kata



Napen: Yayuk Triadmaja

__ADS_1


Judul: Suamiku Arogant



__ADS_2