
*Senin: Mode ngemis vote lagi. wkwkwkw ... bagi vote nya ya kakak 😇
Kami serempak melihat ke arah belakang. Melihat orang yang ditunjuk Elena merangkul wanita yang saat ini menangis di bahunya.
Ternyata mereka masih sedekat itu ya? Namun, wajah Pak Arendra kenapa seperti itu. Antara enggan tetapi kasihan. Akan tetapi, kelakuan mereka ini sebenarnya sudah sangat tak pantas Dia kan statusnya masih istri orang lain.
"Ck-ck-ck, Mas Aren mau-maunya aja diperlakukan seperti itu. Katanya benci? Tapi ngapain masih meluk-meluk kayak gitu?" celetuk Kak Vina.
"Emangnya apa yang terjadi di antara mereka?"
Kak Vina hanya mengedikan bahu melanjutkan menyuapi makanan ke mulutnya. Mataku masih tertarik kembali melihat pemandangan tersebut, kembali melihat ke pasangan tadi.
Pria tempat bersandar menyerahkan tisu kepada di wanita. Si wanita masih menangis tersedu. Lalu dia terlihat mengedarkan pandangannya. Kedua mata kami pun akhirnya bertemu. Dengan segera dia mendorong si wanita dan dia terlihat salah tingkah.
Aku membuang muka melihat ke arah anggota laundry yang lain. Akan tetapi, mata ini terus saja penasaran hingga dengan sendirinya melihat ke arah yang tadi. Namun, kali ini sang wanita wanita hanya terlihat sendiri. Di mana dia? Kenapa tiba-tiba menghilang?
"Ekhem ... mencari seseorang?" Terdengar suara seseorang dari sisi buta yang terabaikan oleh penglihatanku. Kepalaku berputar melihat ke sisi itu.
"Kenapa lihat-lihat?" Kedua tangannya tengah dilipat dan dagunya naik menyipitkan mata.
"Silakan kembali ke sana, Pak. Ada yang sudah menunggu di sana. Namun, tangannya hati-hati, bisa membuat semua orang salah duga."
"Jadi, kira-kira siapa yang salah duga?" tanyanya.
"Suaminya lah ... nanti Bapak dan dia bisa dituntut selingkuh oleh pihak lain."
Matanya liar melihat seluruh sisi meja kami. "Biar lah, toh semua tak seperti yang terlihat. Ternyata kalian ada acara bersama? Namun, kamu tidak bicara apa-apa padaku."
"Lah? Emangnya kita sedekat apa hingga semuanya harus saya ceritakan pada Bapak."
"Hihi--" Kak Vina terkekeh mendengar ucapanku.
"Jadi sampai hari ini masih antara dosen dan mahasiswa?"
"Maaf--"
Ucapan seorang wanita mengalihkan perhatian kami. Dia adalah wanita yang menangis tadi.
"Maaf, sepertinya aku membuat kalian bertengkar." Lalu wanita tersebut tertunduk setelah melihatku.
__ADS_1
"Maaf, aku sudah menuduhmu kemarin sore."
Lalu, matanya beralih kepada pria yang berdiri di sampingnya. "Maaf Ren, lebih baik aku pergi saja." Dia beranjak, masih terlihat dalam keadaan tak baik-baik saja.
Aku bangkit mendorongnya agar mengikuti wanitap itu. Sepertinya dia memang membutuhkan seseorang untuk berbagi kisah.
Ketika pada kejadian yang sama, aku mengalihkan kesakitanku dengan kegilaan terhadap pekerjaan. Lambat laun, aku bisa menata hati dan tanpa kusadari pekerjaan tersebut membuahkan hasil yang berlipat ganda.
Tarikan tangan seseorang membuyarkanku dalam lamunan. Ternyata, aku terus ditarik oleh pria tadi untuk mengejar wanita tersebut ke meja tempat dia duduk tadi.
"Reina, aku ke sini hanya untuk mengatakan bahwa kamu pasti bisa menyelesaikan semuanya." Pak Arendra menggenggam tanganku dengan erat.
"Aku tahu, seharusnya aku tidak memaksamu ke sini untuk menemaniku. Aku hanya membutuhkan tempat bersandar."
"Kamu selalu seperti ini yang hanya mengingatku si saat kamu sulit. Selama ini kamu ke mana saja? Lalu, apa hanya ini artiku bagimu?"
Aku cubit tangan Pak Arendra. Aku merasa ini bukan lah saat yang tepat untuk melampiaskan rasa sakit hatinya pada wanita yang tengah berduka ini.
Pak Arendra mengusap tangan bekas cubitanku tadi. Lalu entah sengaja atau apa alasannya, dia menarik pipiku.
"Kamu gemesin banget, Sayang."
Hati tak akan ada yang tahu. Aku tak ingin berharap pada pria yang selalu berubah-ubah ini. Mood swing-nya sungguh sangat dramatis membuatku gampang terombang-ambing.
"Papa, kenapa ga ajak Elena?" Elena tiba-tiba saja sudah nimbrung bergelayut di kaki Pak Arendra.
"Papa?" tanya wanita di hadapan kami ini.
"Sebenarnya kalian sudah menikah atau belum? Siapa anak ini?"
Pak Arendra langsung menggendong Elena, dan merangkul pundakku seenaknya. Aku berupaya untuk melepaskan diri, karena merasa tak enak. Apalagi karyawan laundry juga ikut melihat kejadian ini.
"Ini Elena, anakku." jawabku.
"Aku pikir kamu ini masih mahasiswa. ternyata, kamu--"
"Aku memang masih mahasiswa Mbak, tetapi aku sudah memiliki anak."
Aku lihat Elena memeluk Pak Arendra. Sementara Pak Arendra mencium pipi Elena dan membelai rambutnya.
__ADS_1
"Kamu beruntung ...." ucap wanita itu kepadaku.
"Kenapa begitu, Mbak?"
"Kamu adalah wanita beruntung, yang tidak akan diduakan oleh Arendra. Dia adalah pria setia, apalagi kamu bisa memiliki anak. Berbanding terbalik denganku sang penghianat dan belum juga memiliki anak setelah hampir tujuh tahun menikah."
"Sempat aku berpikir mungkin karena ini lah dia mulai mencari wanita lain yang jauh lebih muda."
Lingga memang sangat mudah jatuh cinta, tetapi rasanya tak mungkin Lingga sampai mengganggu rumah tangga orang lain.
"Mungkin, Mbak salah paham. Aku rasa tidak mungkin mereka selingkuh."
Wanita tersebut menatapku dengan nanar. Lalu mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Ternyata, dia mencari ponsel dan membuka galeri di dalam ponsel tersebut dan menyerahkannya kepadaku.
Gambar-gambar yang diperlihatkan kepadaku, membuat secara refleks menutup mulutku. Di dalam foto tersebut, terlihat Lingga dengan pria yang seingatku adalah suami wanita ini tengah berangkul mesra dengan mulut sang pria tengah mencium bagian dada Lingga.
Foto-foto lain juga sangat memberatkan dan aku bisa menilai sendiri mereka memang positif adalah pasangan kekasih.
"Ini bukannya teman kamu?" ucap Pak Arendra.
Aku tak bisa mengelak. "Benar, Pak. Ini adalah Lingga."
"Lalu, setelah ini bagaimana?"
Beberapa waktu wanita itu terdiam menundukan kepala. Punggungnya bergetar, kembali terhanyut akan kepedihan mendalam yang bisa aku rasakan. Dengan refleks tangan ini menepuk pundaknya.
Mulutku kelu untuk berucap. Aku tak tahu bagaimana cara menghiburnya, karena aku menikmati semuanya sendirian.
"Maaf kan aku," ucap wanita itu.
"Sekarang aku tahu bagaimana rasanya dikhianati. Ini adalah hukuman yang pantas aku terima atas kelakuanku kepadamu dulu."
Pak Arendra hanya membisu memeluk Elena yang sibuk memainkan bibirnya. Dia membuang muka, mengkin teringat akan asa yang gagal dibangun dengan wanita impiannya ini.
"Jadi, setelah ini bagaimana?"
Wanita itu sekedar menggengkan kepala. "Semenjak semalam, dia belum menghubungiku sama sekali. Aah, aku rasa dengan terang-terangan dia menunjukan hubungannya dengan wanita itu."
Lingga ... apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu sampai seperti ini?
__ADS_1
"Ren ... aku ingin tahu kapan tanggal pernikahan kalian. Aku akan mengusahakan datang pada hari itu. Aku akan turut bahagia jika impian kalian berdua terealissasi dengan segera."