
Sepasang tangan menyibak kedua tangan yang berada di bahuku. "Apa maksudmu dengan istri?"
"Kalian main suami istri gitu dalam pacarannya?" tanya Pak Arendra.
Aaah, apa dia tidak tahu aku ini bukan gadis ting-ting lagi? Jadi selama ini dia mengira aku hanya anak kecil.
"Ayaaaaah ...." Elena bergelantungan manja pada kaki Bang Alan.
Aku perhatikan kembali ekspresi Pak Arendra semakin heran. "Ini adikmu? Namun, anak dia?"
"Ternyata kamu begini di hadapan dia?" Ucapan Bang Alan barusan langsung terasa sangat menusuk perasaanku.
"Jadi kamu tidak mau mengakui keberadaan Elena, terhadap kekasihmu? Jika memang begitu ... biar Elena bersamaku saja." Bang Alan merangkul Elena dan menggendongnya kembali.
Tubuhku dengan refleks bergerak merebut Elena dari tangannya dan Pak Arendra terlihat cukup kebingungan. Pak Arendra mencoba menghentikan aksi rebutan kali ini.
"Kasihan dia, kalian ini kenapa?"
Elena tampak sedikit ketakutan memeluk leher ayahnya. "Nak, kenapa kamu malah memilih untuk bersama ayah kamu, Nak? Ini Ibuk, biasanya kita selalu bersama, kan?"
"Eyena tangen cama Ayah, Buk."
"Ta-tapi Ibuk yang selalu bersama kamu, Nak. Apa Elena tidak sayang sama Ibuk?"
Bang Alan melirik aku dan Pak Arendra yang kebingungan secara bergantian. "Aku akan membawa Elena dulu."
__ADS_1
"Jangan, Bang! Kita kan sudah sepakat Elena bersamaku. Kamu sudah memiliki keluarga baru. Kamu sudah memiliki anak juga. Selama ini kamu selalu cuek dan menganggap Elena hanya anakku saja. Kenapa kali ini kamu tiba-tiba pura-pura peduli pada Elena?"
"Karena, hanya Elena yang bisa kubanggakan saat bertemu dengan orang lain." Bang Alan mencium pipi Elena.
"Jadi kau pikir Elena hanya buat bahan pamer?" Aku coba merebut Elena kembali.
Kali ini Pak Arendra menahanku. Aku dorong pria itu. "Apa urusanmu? Aku menginginkan Elena bersamaku! Itu saja!"
"Ini memang bukan urusanku. Akan tetapi, aku kasihan pada Elena. Dia akan kesakitan jika kamu terus seperti itu." terang Pak Arendra.
Aku dekati Bang Alan. "Bang, aku tidak tahu bagaimana keluarga barumu. Namun, aku mohon kepadamu dengan sangat, serahkan Elena kepadaku saja."
Bang Alan melirikku. "Coba tanyakan saja kepadanya. Siapa yang akan dia pilih kali ini?"
"Ta-tapi--?"
"Baik lah, biar aku saja yang menanyakan kepadanya." Bang Alan membelai pucuk kepala Elena.
"Elena sayang, mau ikut siapa? Mau ikut Ayah atau Ibuk?"
Elena melepaskan rangkulan pada leher Bang Alan. Secara bergantian melihat padaku dan Bang Alan. Elena meminta turun dari gendongan Bang Alan. Gadis kecil itu berjalan mendekat padaku, lalu menarikku mendekat kepada Bang Alan.
Elena pun menarik tangan Bang Alan dan dia tersenyum. "Eyena mau cama Ayah dan Ibuk."
Elena bergantian melihat aku dan Bang Alan. "Eyena tangen bobo cama Ayah dan Ibuk. Ayo Ayah, bobo cini cama-cama agi."
__ADS_1
Mohon maaf kemarin tidak up ya kaka readers semua. Soalnya Author lagi perjalanan jauh lintas provinsi. Hari ini Author lelah banget, tetapi harus bersiap-siap dengan pekerjaan di dunia nyata Author. Nanti kalau tidak sibuk, akan author lanjutkan kembali. Jangan lupa komentar dan likenya yaaah ... Terima kasih.
đź’–
đź’–
đź’–
Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.
Napen Author: nophie
Judul karya: Suamiku Kekasih Mamaku
Blurb:
Aletta Wijaya, gadis manis berusia 20 tahun dipaksa menikah dengan kekasih mamanya yang bernama Hans Armando Javier, 39 tahun. Nilam Wijaya, 38 tahun, mama dari Letta, meninggal tepat sehari sebelum pernikahannya dengan Hans berlangsung karena mengetahui rahasia kelam sang kekasih.
Arland dan Merlita Javier, memaksa Letta untuk menikah dengan Hans agar pernikahan bisnis antara keluarga Javier dan Wijaya tetap berjalan.
Sedangkan kakek Wijaya hanya bisa pasrah karena perusahaannya sangat bergantung dengan kucuran dana dari keluarga Javier.
Lalu apakah sebenarnya yang menjadi rahasia seorang Hans?
Berhasilkah pernikahan beda usia antara Hans dan Aletta?
__ADS_1
Temukan jawabannya disini...