Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
7. Lokalisasi


__ADS_3

"Apa kamu tidak mendengar apa yang saya tanyakan? Orang tua kalian ada di mana? Kalian ini adik kakak kan?"


Hah? Adik kakak? Aku kembali memandangi Elena yang terus menjangkau pria tersebut. "Bukan ... bukan ... Kam---"


Sebuah tarikan menghentikan kelanjutan ucapanku terhadap pria yang tidak dikenal tadi. Aku lihat si pemilik tangan menarikku dengan kasar. "Kau sudah berani macam-macam ya? Tak bisa melihat lelaki tampan sedikit pun ya? Sekali saja ada pria tampan, langsung kau dekati?"


Aku ikuti langkah Bang Alan kembali melihat ke arah belakang. Tampak pria tersebut bersidekap dada memperhatikan kami. Lalu aku buang muka mengikuti arah langkah Bang Alan yang membawaku.


"Kau berani-beraninya ya bicara dengan pria lain di belakangku?" Tuduhan demi tuduhan terus diucapkan oleh lelaki yang menjadi suamiku ini.


Aku tarik tanganku kembali. Harusnya aku yang marah. Kenapa malah dia yang marah? Padahal dia dengan seenaknya menyalahkanku di hadapan orang lain. Apalagi di hadapan Nina. Teman sekolah yang selalu bersaing denganku saat memperebutkan posisi pertama di kelas. Meskipun seluruh siswa di kelasku hanya berjumlah dua puluh orang.


"Lalu kau sendiri bagaimana? Apa aku hanya sekedar pajangan, saat kamu berada di dekat orang yang kamu suka?"


Wajah Bang Alan yang putih terlihat merah karena amarah. Miris sekali bukan? Dia yang memulai, dia salah sangka sendiri, dia pula yang marah sendiri. Apakah hanya dia yang boleh marah?


"Kamu sudah berani?" bentaknya.


"Hek ... hek ... hek ...." Elena menangis mendengar suara Bang Alan yang menggelegar.


Bang Alan menggaruk kepalanya gusar. "Suruh anakmu diam!" hardiknya kembali. Hal ini membuat tangisan Elena semakin menjadi dan keras.


"Huwaaaaaaa ... Ibuk ... Ibuk ...." Elena menyembunyikan wajahnya dalam dada memeluk erat diriku.


"Jadi dia ini, hanya anakku?" Aku pergi menjauh darinya sambil menenangkan Elena.


Terlihat Bang Alan mengendarai motor butut miliknya, melewati, dan pergi meninggalkan kami berdua. Aku sudah tahu dia tak berperasaan. Namun, kali ini aku baru sadar, dia tidak mencintaiku sekali darinya. Hingga dia tega meninggalkan kami berdua di tempat ini.


Dia pikir aku tidak bisa pulang? Aku lihat pasukan ojek online yang sedang mangkal menunggu orderan. Aku dekati dia hendak menggunakan jasa tanpa memakai aplikasi. Aku tidak memiliki ponsel, jadi hanya bisa memesan manual. Itu pun kalau dia mau.


"Bang, boleh memakai jasa Abang tanpa aplikasi?"


Beberapa waktu dia terlihat memikirkan sesuatu. Lalu dia menganggukan kepala. "Apa boleh, sekalian mengantarkan pesanan pelanggan?"

__ADS_1


"Tentu saja boleh, Bang. Kami bisa jalan-jalan sekalian."


Aku setuju, yang penting kami bisa kembali ke rumah dengan selamat. Langit yang tadinya biru, sudah beralih menjadi gelap. Aku mengikuti perjalanan pengemudi ini untuk mengantarkan pesanan makanan secara online untuk pelanggan.


Elena sudah terlelap dalam gendongan, tetapi kami belum juga sampai. Kami dalam perjalanan menuju sebuah wisma atau sejenis penginapan murah. Berarti pengguna jasa pengemudi ojek ini adalah seorang yang sedang menginap di sini.


Setelah sampai, tampak Bang Ojol menelepon sang pelanggan untuk segera menjemput pesananya keluar. Seorang wanita yang bertubuh sintal, dengan wajah cantik memesona, tetapi berpakaian ngetat keluar dari salah satu pintu penginapan yang persis rumah petak atau bedengan itu. Wanita tersebut terlihat sangat anggun dan berwibawa.


Aku melihat bayangan pria yang bertelanjang dada berdiri di pintu. Aku belum sempat melihat wajahnya, dia sudah kembali masuk ke dalam. Barangkali saja dia menginap dengan suaminya di sini.


Bang Ojol kembali ke motor menggelengkan kepala mengusap wajah. Pemandangan tersebut pasti sangat menggairahkan baginya. Aku saja yang perempuan merasa panas melihat setiap lekukan tubuhnya, ditambah lagi dia menggunakan pakaian yang sangat minim.


"Kenapa, Bang?" Sedikit ku goda Bang Ojol yang terlihat mencoba mengusap wajahnya.


"Saya selalu was-was jika mendapat pesanan dari sini. Untung saja bukan lon *te yang mesan."


Aku memandang Bang Ojol dengan sedikit berpikir. "Emangnya kenapa dengan tempat ini?"


"Ini seperti lokalisasi para pecandu sek* bebas. Sepertinya tente yang tadi itu penggunana jasa g*-go-lo."


"Ya gampang. Kalo tante tadi dandanannya cukup berkelas. Dia tidak agresif, tutur bahasanya pun lembut. Berarti dia pengguna jasa. Jika dia perempuan, tentu memakai jasa gi go lo. Sepertinya, dia itu wanita kaya yang kesepian." Bang Ojol mulai menyalakan mesin motor.


Saat kendaraan sudah melaju, aku bagai melihat motor yang aku kenal terparkir di salah satu sudut tempat ini. Aaah, mungkin karena gelapnya malam, membuat semua motor butut mirip dengan motor Bang Alan.


"Hah ...." Tiba-tiba aku merasa kesal mengingat dia meninggalkan kami begitu saja. Mungkin dia sudah berangkat kerja. Esok pagi, aku akan buat perhitungan dengannya.


"Ada apa, Mbak?" tanya Bang Ojol yang tidak aku ketahui namanya.


"Enggak, Bang. Aku tiba-tiba kesal teringat seseorang yang meninggalkan kami berdua."


"Waaalaah ... jadi Mba ditinggal berdua dengan anaknya? Lagi berantem dengan suaminya?"


Aku tiak bisa menjawab apa yang ditanyakan oleh Bang Ojol ini. Beberapa waktu berjalan, akhirnya kami sampai juga dan memberi ongkos sedikit lebih dari yang diminta Bang Ojol. Sebagai ucapan terima kasih sudah mengantarkan kami dengan selamat.

__ADS_1


Esok paginya, pintu kembali diketuk Bang Alan. Namun, aku biarkan seolah tak mendengar panggilannya.


"Hooy, buka pintunya! Kau dengar tidak?"


visual: (kalo tidak suka, boleh di-skip ya)


Nesya Adeni (18 tahun) selama jadi istri Alan



Alano Putra (21 tahun)



Saat masih bahagia bersama






Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.


Napen Author: Putri Nilam Sari


Judul karya: Pendamping Hidup Mommy Sashi


Blurb:


Bercerita tentang manis pahitnya kehidupan seorang wanita cantik bernama Sashi yang harus berjuang membesarkan putranya seorang diri setelah kematian suaminya karena kecelakaan. Sashi yang seorang desainer harus mampu mengelola dan mempertahankan perusahaan peninggalan suaminya dari sifat tamak adik iparnya.

__ADS_1


Seiring waktu, Sashi berubah menjadi seorang CEO wanita dan seorang Ibu serta akan menguak misteri kematian suaminya. Apakah ketika semuanya terkuak Sashi masih sendiri, atau ia berhasil menemukan pendamping hidupnya?



__ADS_2