
Mungkin dia tidak mengetahui bahwa aku telah mengetahui segalanya. Sebodoh-bodoh istrinya, ia pasti mengetahui segala perubahan yang terjadi pada suaminya.
Aku tahu ia tidak bisa melihatku dengan baik, bisa dikatakan buta total. Namun, aku menunggu sendiri ia mengeluhkan keadaannya kepadaku. Akan tetapi, dia berlaku seolah semuanya baik-baik saja.
Hari ini dia drama meminta nasi goreng yang harus dibuat di rumah. Aku tahu, ia sedang merencanakan sesuatu. Aku sengaja bersembunyi dan beberapa waktu kemudian terlihat dokter dan perawat beriringan menuju ruang rawat suamiku yang telah dipindahkan ke ruang biasa.
Setelah itu dokter dan perawat masuk, aku kembali mencoba mendengarkan apa yang mereka rahasiakan.
"Apakah istri saya sudah meninggalkan rumah sakit?" tanya Mas Aren.
"Tadi kami lihat dia sudah beranjak keluar. Apakah Anda siap mendengarkan hasil dari serangkaian pemeriksaan yang kita lakukan kemarin?" Terdengar suara pria, dan sepertinya itu suara dokter.
"Tentu saja saya siap, Dok."
"Ini kita buka dulu hasil pemeriksaan pada mata Anda. Pada bagian vital mata Anda, tidak terdapat masalah yang berarti," terang dokter.
"Jadi, ini maksudnya?"
"Jadi, sepertinya kebutaan Anda bukan karena kerusakan pada mata."
Hatiku terasa berdesir hebat, tetapi aku berusaha untuk menahannya, meski air mata ini masih begitu saja jatuh dengan sendirinya. Suara dokter pun hening beberapa saat. Sementara aku masih mengendap di balik pintu mendengarkan rahasia yang diungkapkan oleh suamiku.
"Selanjutnya hasil CT-scan secara menyeluruh."
Suamiku tak bergeming mendengarkan penjelasan selanjutnya.
"Hasilnya menyatakan bahwa saraf bagian belakang Anda mengalami pendarahan hebat. Jadi, hal itu lah yang menyebabkan penglihatan Anda mengalami masalah."
"Lalu, apakah dengan melakukan pembedahan pada mata membuat penglihatan saya bisa kembali, Dok?"
"Saya rasa pembedahan yang akan kita lakukan bukan pada mata Anda. Tetapi syaraf-syaraf pada mata yang ada di dalam rongga kepala Anda. Ini adalah operasi besar, dan kami tidak bisa melakukannya jika tidak mendapatkan persetujuan pendamping Anda."
Degh
Jantungku terasa berdenyut hebat. Rasanya sungguh sangat sakit hingga membuat napasku menjadi sesak.
"Operasi bagian kepala?" Suamiku terdengar sedikit keberatan. "Saya rasa itu agak ...."
Aku tak sanggup mendengar kelanjutannya dan memilih beranjak menjauh. Akan tetapi, nyatanya langkah kaki ini sungguh berat. Aku tak sanggup lagi lebih jauh dari ini. Aku merasa tidak tega meninggalkannya.
__ADS_1
Oh, Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan? Namun, aku takut melepaskannya melakukan bedah di dalam rongga kepala.
Ternyata, cobaan ini masih belum usai menghampiri keluarga ini. Aku hanya bisa memeluk dua janin yang ada di dalam rahim ini.
"Dek, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Sementara papa kalian terus menyembunyikan keadaannya dari kita. Apakah kita bisa menjadi mata buat papa kalian?"
Aku teringat ia meminta nasi goreng. Aku segera mencari abang-abang yang biasanya menjual nasi goreng di bagian depan rumah sakit. Ternyata, pelanggannya cukup ramai.
"Bang, aku mau beli nasi goreng, tapi aku mau masak sendiri, boleh?"
Lalu ia melihat para pelanggan yang telah mengantre. "Mbaknya mau nunggu dulu hingga semua pesanan saya buatkan?"
"Oh, nggak apa, Bang. Aku akan menunggu. Ini permintaan orang ngidam."
Abang pemilik gerobak nasi gorengnya mengangguk. "Kalau permintaan orang ngidam, emang kudu diturutin."
Aku pun duduk menunggu hingga pesanan pelanggannya selesai semua. Setelah itu penjual nasi goreng menyilakanku memasaknya sendiri.
"Emang siapa yang ngidam, Mbak?"
"Suamiku." Aku sudah menyelesaikan proses memasaknya.
"Waaah, jadi Mbak nya yang hamil?" tanya sang penjualnya terkejut.
"Biasanya yang ngidam kan istrinya ya, Mbak? Ini malah suami yang ngidam."
"Hehehe, iya Bang. Kebetulan suamiku juga lagi dirawat di sana. Jadinya manjanya dobel."
Lalu sang pedagang terkekeh mendengar mendengar penjelasanku. "Emang rata-rata gitu sih Mbak. Kalau lelaki sakit, pasti manja banget. Tapi kalau istrinya yang sakit, pasti tetap menyelesaikan semua. Kata istri saya nggak boleh lama-lama sakitnya. Seisi rumah bisa kacau kalau sakit kelamaan."
"Bener sekali, Bang." Aku menyerahkan sejumlah uang padanya.
"Nggak usah, Mbak. Siapa tau dagangan saya bisa makin ramai kalau ada wanita hamil yang memasak di sini." ucap sang pedagang.
"Ah, apaan sih, Bang? Aku ini pembeli meski masak sendiri." Uang itu kutinggalkan di gerobaknya dan segera beranjak.
"Makasih ya, udah numpang masak."
Aku melanjutkan langkah kembali ke kamar suami. Aku intip ia dari kaca di pintu ruangan tersebut, ia terlihat merenung dengan wajahnya yang sendu.
__ADS_1
Tok
tok
tok
Aku lihat ia tersentak dan segera mengusap pipinya dengan cepat. Aku pun harus mengubah suasana hatiku yang sebenarnya bagai merasa tersayat sembilu. Namun, bibir terpaksa tersenyum, meski ia tidak akan bisa melihatnya.
"Waah, cepet banget sampainya, Yang." Suamiku mengulurkan tangan kirinya, padahal aku berada di sisi kanannya.
Aku segera melangkah memutar brangkar menyambut tangan kirinya itu. Aku langsung masuk ke dalam pelukannya.
"Aku tak tega meninggalkanmu lama-lama, Mas. Makanya aku buru-buru untuk kembali."
"Waaah, seperti biasa. Aroma nasi goreng buatanmu selalu menggoda."
Aku segera membukakan wadah nasi goreng yang terbuat dari styrofoam. Dia tidak protes sama sekali, karena ia memang tidak benar-benar melihat makanan yang aku bawa.
"Mau makan sendiri, Mas?" tanyaku mengujinya.
"Aku pengen disuapin kamu. Kamu juga sekalian makan bersamaku."
"Baik lah."
Lalu suamiku terus berceloteh sambil makan, memperkirakan posisiku berada. Meski perkiraannya selalu salah, kali ini aku tidak berkomentar. Meski air mata terus jatuh tanpa suara mendengar ia terus berceloteh menceritakan hal yang telah seribu kali ia ceritakan.
"Makanannya habis, Mas." Ah, tanpa sengaja aku masih terbawa suasana hati. Sehingga suaraku sedikit parau. Aku segera mengusai air mata dan mengambil air segera meminumnya.
"Kamu menangis, Sayang?" Ia meraba-raba wajahku.
"Enggak, kok. Kenapa, Mas?" Beruntung air mata telah kering di pipiku.
"Tadi aku dengar kamu menangis."
"Enggak kok, aku tertawa mendengar cerita lucumu kok. Hahaha ..." Aku memaksakan diri untuk tertawa meski kelopak mataku telah membendung banjir bah yang siap terjatuh.
"Sayang, esok aku pulang ya? Aku mau ajukan cuti dulu kepada pihak kampus untuk beberapa waktu."
"Baik, Mas. Sepertinya aku juga mau ajukan cuti juga sampai waktu yang tidak ditentukan. Aku ingin selalu bersamamu," ucapku kembali menyamdarkan diri dalam pelukannya.
__ADS_1
"Duuh, kok aku malah betah sakit begini ya? Kamu jadi jinak seperti kucing begini tanpa ngeyel," ucapnya membuat air mata ini terus terjatuh tanpa henti.
"Sayang, kamu kenapa sih?"