
Esok paginya, pintu kembali diketuk Bang Alan. Namun, aku biarkan seolah tak mendengar panggilannya.
"Hooy, buka pintunya! Kau dengar tidak?"
Akhirnya dia berteriak, tetapi aku masih kukuh tidak bergerak untuk membukakan pintu untuknya. Aku masih rebahan di atas kasur kapuk tipis ini. Semua kenangan masa lalu kembali terlintas di dalam kepalaku.
Aku yang langsung jatuh cinta saat melihat dia. Mengejarnya bagaikan orang gila memberikan segala perhatian untuknya. Hingga membuatnya berada di atas awan dan berlaku semena-mena terhadapku. Apakah aku harus mengakhiri semua ini?
Aku lihat Elena yang sedang tidur dengan lelapnya. Seketika hatiku merasa ciut. Apa aku tega, membiarkan Elena tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya? Orang tuaku pasti akan sedih, jika akhirnya kami harus berpisah.
Di luar sana masih terdengar ketukan pintu Bang Alan yang semakin lama terdengar semakin pelan. Aku segera berwudhu, rasa kesal yang tadi menyelinap membuat aku seperti tak mendengar suara azan. Dengan segera kulaksanakan kewajiban dua rakaat.
"Ya Allah, hamba-Mu sungguh merasa dilema. Apakah yang harus hamba lakukan?" Air mataku jatuh tetes demi tetes.
Aku lirik kembali gadis kecil yang masih sangat membutuhkan ayahnya. Sepertinya aku tidak akan tega membuatnya besar tanpa kasih sayang sang ayah.
"Ya Allah, apakah hamba harus memberikan satu kesempatan terakhir untuknya?" Aku lihat kembali Elena, meski ayahnya tak peduli, setidaknya jika Bang Alan berubah, keluarga kecil kami pasti akan sangat bahagia.
Aku bergerak membuka pintu dengan mukena yang masih terpasang menutupi seluruh tubuh. Aku intip lewat kaca jendela, dia tampak duduk meringkuk tengah merenungkan sesuatu. Saat kubuka pintu, matanya beralih padaku dan langsung bangkit.
Aku pikir dia akan marah dan mendorongku lalu masuk dengan amarah. Namun ternyata, semua berbeda dari apa yang aku bayangkan. Dia berlutut di hadapanku. Dia memasang wajah sendu penuh penyesalan. Apa yang dia lakukan? Kenapa tiba-tiba drama begini?
"Maafkan Abang, Dek. Abang nengaku salah. Seharusnya Abang berdiri di pihakmu, bukan malah menyalahkanmu. Harusnya Abang tidak menelantarkan kalian berdua di sana."
Mudah sekali dia berkata seperti itu? Kenapa dia tiba-tiba manis seperti ini? Namun, mulutku kelu. Hanya bisa hening tak menjawab apa pun yang diucapkannya. Aku masuk dan melepaskan perlengkapan sholat yang masih terpasang. Matanya terus mengikuti setiap langkahku.
Aku akan beralih pada pekerjaan yang setiap hari kulakoni. Namun, tumben sekali, ada hal aneh yang terjadi dengan Bang Alan. Dia tidak langsung tidur setelah sampai seperti biasanya. Dia mendekatiku menyerahkan sejumlah uang.
Saat aku hitung, uang tersebut berjumlah dua juta rupiah. "Ini upah untuk malam tadi? Kenapa banyak sekali?" Ini sungguh tak terduga.
Bang Alan menganggukan kepalanya. "Boss memberiku bonus karena bekerja dengan sangat baik."
"Alhamdulillah. Uang ini bisa buat beli mesin cuci murah." Aku segera menyimpannya. Bang Alan tersenyum menganggukan kepala.
__ADS_1
Saat aku hendak lanjut bekerja, Bang Alan sudah berada di lokasi tempatku mencuci, di belakang rumah. "Apa yang kamu lakukan?"
Aku berjalan mendekat, melihat dia sedang menyikat pakaian pelanggan. "Jangan disikat. Ini bahannya tipis!" Berusaha menghentikannya. Namun, dia sudah menyikat pakaian itu beberapa kali baru berhenti.
Aku segera mendorongnya untuk beranjak. Aku cek kembali pakaian yang baru saja disikat menggunakan alat sikat pakaian. "Yaah, jadi berbulu?"
"A-apa aku melakukan kesalahan?"
Aku tatap Bang Alan, wajahnya terlihat sungguh-sungguh khawatir. Hatiku yang rapuh ini gampang sekali luluh. "Biar aku yang ganti rugi. Abang tidur saja temani Elena."
Bang Alan mengangguk, berlalu dan aku segera melanjutkan untuk mencuci pakaian. Setelah semua selesai, aku pun membersihkan diri. Seperti kegiatan rutin, aku mengantarkan pakaian para pelanggan dan membawa pakaian kotor baru yang langsung dititipkan.
Sebelum pulang, aku membeli bahan makanan untuk dimasak. Para ibu-ibu terlihat kembali berbisik sambil melirik ke arahku. Kali ini aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Mba, apakah ada yang tidak berkenan dengan kehadiran saya? Apa aku melakukan kesalahan?"
Salah satu peserta gibah mendekat kepadaku. "Apa kamu mengetahui pekerjaan suamimu?"
Aku mengangguk dengan sempurna. "Tentu saja aku tahu."
Aku tatap wajah mereka satu per satu. Kenapa mereka terlihat aneh seperti itu? Apakah salah jika Bang Alan bekerja di klub malam?
"Kenapa ya, Mba? Ada yang salah?"
Ibu-ibu peserta gibah saling bertatapan. Mereka seperti tak percaya aku merelakan suamiku bekerja di klub malam setiap harinya. Setelah semua bahan kubeli, aku segera pulang dan pamitan kepada mereka.
Beberapa langkah berlalu, aku kepikiran dengan apa yang mereka yang mereka ucapkan. Aku lirik kembali ke arah warung, mereka tampak masih melanjutkan pembicaraan mereka.
Aku pun melanjutkan perjalanan pulang, memasak makanan kesukaan suami. Melihat dia lembut seperti ini, membuatku merasa jatuh cinta kembali kepadanya. Seandainya saja dia selalu seperti ini. Kami pasti akan menjadi pasangan sehidup semati.
"Waaah, senyum-senyum aja?" goda Bang Alan.
"Soalnya aku suka kalau Bang Alan seperti ini."
__ADS_1
Sesaat dia terdiam, lalu tersenyum kepadaku. Bagiku sikapnya seharian ini sungguh terlihat aneh. Apakah hal yang disembunyikannya?
Waktu beranjak menuju gelapnya malam dan seharian ini Bang Alan berlaku sangat baik kepadaku. Aaah, jarang sekali dia seperti ini. Aku persiapkan pakaian terbaik untuk suamiku berangkat kerja. Pakaiannya tentu harus rapi dan wangi.
"Daah, Ayaaahh ...."
Bang Alan melambaikan tangannya kepada kami dan menyalakan motor tersebut. Kali ini kami mengantarkan Bang Alan sampai ke jalan, sambil melambaikan tangan menatap motor butut yang semakin menjauh. Setelah itu, kami pun beranjak hendak masuk ke rumah. Tiba-tiba seseorang menarikku masuk ke dalam sebuah mobil.
"Ada apa ini?"
Aku lihat ibu-ibu di warung tadi menggunakan pakaian serba hitam, memakai kaca mata hitam, di saat malam.
❤
❤
❤
Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.
Napen Author: Desy Puspita
Judul karya: Gairah Cinta Sang Presdir
Blurb:
Tampan, kaya, berkuasa dan sempurna. Tiada kurangnya seorang Mikhail Abercio, tak pernah ia duga kesempurnaan yang ia miliki ternyata belum cukup untuk mendapatkan kesetiaan dari seorang wanita.
Dikhianati sang kekasih dan melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita yang dia cintai tengah bercinta bersama sahabatnya di apartemen membuat Mikhail Abercio merasa gagal menjadi laki-laki. Sakit, dendam dan kekacauan dalam batinnya membuat pribadi Mikhail berubah 180 derajat bahkan sang Mama angkat tangan dengan ulah putranya.
Hingga, semua berubah ketika takdir mempertemukannya dengan gadis belia yang merupakan mahasiswi magang di kantornya. Valenzia Arthaneda, gadis cantik yang baru merasakan sakitnya menjadi dewasa tak punya pilihan lain ketika Mikhail menuntutnya ganti rugi hanya karena hal sepele.
"1 Miliar atau tidur denganku? Kau punya waktu dua hari untuk berpikir," bisik Mikhail Abercio sebelum kemudian kembali duduk ke kursi kekuasaannya. Dia tidak suka basa-basi, apalagi jika harus membuang waktu dengan gadis ingusan seperti Valenzia.
__ADS_1