
*Mohon maaf ya kakak semua, tidak update kemarin 🙏*
"Mas, jika kamu memang merasa sangat tidak nyaman, bagaimana kalau kita sama-sama berhenti saja dari sana? Kamu berhenti sebagai dosen, sedangkan aku berhenti menjadi mahasiswa?" katanya.
Tentu saja aku tidak setuju dengan apa yang diucapkannya ini. Ini sungguh tidak masuk akal, karena demi mendukungku dia malah semakin ingin berhenti berkuliah.
"Jangan. Aku membatalkan keinginan untuk berhenti, kamu juga harus membatalkan keinginanmu juga."
Dia bangkit memutar kepala menatap lurus langsung ke netra yang aku punya. "Lalu Elena bagaimana?"
Sejenak aku melihat gadis kecil itu tidur, wajahnya terlihat damai dengan suara nafas terdengar sangat halus dan teratur mengisi sunyinya diam di antara kami berdua.
"Bagaimana kalau kita bawa ke kampus saja?"
*
*
*
Elena berlarian ke sana ke mari membuatku pusing mengikuti setiap gerakannya. Aku pikir, Elena akan bersikap tenang seperti biasanya jika dibawa ke kampus hari ini. Untuk sementara pada jam kosong ini, aku bertugas mengasuh Elena.
Namun, dia berputar-putar mengajakku berolah raga mengelilingi kampus. Sepertinya, dia sedang mencari ibunya yang sedang ada perkuliahan.
"Jangan ke sana, ayo kita main ke tempat lain!"
Elena memasang wajah manyun, akhirnya memilih untuk mendekat dan menggenggam jemariku memilih untuk patuh. Kepalanya sedikit mendongak ke atas menatapku.
"Pa, Ibuk belajar di mana?"
"Kalau Ibuk belajar, jangan diganggu ya? Biar Ibuk bisa cepat menyelesaikan sekolahnya, setelah itu Ibuk bisa duduk dengan tenang di rumah. Kamu mau Ibuk di rumah aja kan?"
__ADS_1
Rona wajah yang tadinya suram, berubah menjadi cerah. Semburan gigi putih terlihat di sela bibirnya yang merekah. Elena mengayunkan kepalanya naik dan turun. "Mau, Elena mau Ibuk di rumah temani bermain."
"Nah, gitu doong, ini baru anak Papa. Kalau begitu, ayo main dulu ke sana." Aku gandeng gadis kecil yang cantik ini menuju suatu tempat yang ramah anak pada salah satu pojok kampus.
Salah satu tempat kampus ini, terdapat lokasi penitipan anak bagi dosen yang tidak memiliki pengasuh di rumah. Di sana tentu terdapat banyak mainan anak. Tanpa berpikir panjang, Elena kubawa di sana.
Melihat perosotan dan ayunan, membuat Elena berlari menuju benda yang miliki tangga tersebut. Tanpa rasa takut, gadis berusia lima tahun itu menaiki anak tangga satu demi satu.
"Papa ... Elena lebih tinggi daripada Papa." soraknya melambaikan tangan kepadaku saat dia sudah berada di puncak.
"Hati-hati!"
Dengan wajah cerah, mata berbinar, tawa lebar di bibirnya, Elena meluncur ke bawah terdengar sorakan kecil keluar dari mulutnya.
Setelah mendarat dengan sempurna, Elena berlari menuju sebuah ayunan yang ada di sana. Namun, ternyata ada seorang bocah laki-laki yang sepantaran dengannya juga ingin menaiki ayunan tersebut.
"Aku yang duluan, kamu naik itu saja!" Bocah laki-laki itu menunjuk perosotan yang dinaiki Elena tadi.
Sementara itu anak laki-laki tadi menarik rantai yang satunya lagi. "Aku duluan."
Maka, terjadi lah aksi saling rebut antara Elena dengan anak lelaki itu. Dari pada terus bertengkar seperti itu, akhirnya aku memilih duduk di ayunan tersebut.
"Udah, kalian berdua dilarang main ini. Main yang lain saja!"
Anak lelaki itu tersentak kaget. Wajahnya yang tadi mengerut saat aksi saling rebut kali ini berubah sayu dengan bibir sedikit membulat.
"Huwaaaaa ...." terdengar suara tangisan yang langsung nyaring membuat semua orang melihat ke arahku.
Aku pun beringsut turun dari ayunan tadi mencoba menghibur anak laki-laki itu. Elena tertawa geli melihat aksiku yang dianggapnya menggelikan. Akan tetapi, reaksi berbeda diberikan bocah laki-laki itu, tangisannya malah menjadi semakin keras.
Seorang wanita yang tadinya berbicara dengan pengurus tempat titip ini mendatangi kami yang tengah heboh ini. Ada yang menangis, ada yang membujuk, dan ada yang tertawa geli.
__ADS_1
"Ekheeem ...."
Bocah laki-laki yang tadinya menangis langsung memeluk wanita itu. Aku merasa sedikit tidak enak melihat netra wanita yang kemungkinan ibu dari bocah itu, menatapku dengan tajam. Aku pun berjalan mendekati ibu dan anak itu.
"Mama, Om itu nakal." adunya.
"Maaf ya, Mbak, bukan maksud saya membuat anaknya menangis. Saya hanya ingin melerai pertengkaran anak Mbak, dengan anak saya. Akan tetapi—"
"Sudah! Tak perlu dijelaskan! Saya melihat sendiri." Dia tidak memberi kesempatan untukku menjelaskan. Dia pergi menarik anaknya masuk ke dalam gedung.
Elena yang tidak memikirkan betapa malunya aku saat ini, sudah asik sendiri dengan ayunan yang dia mainkan. Oke, huufftt ... aku harus melupakan apa yang baru saja terjadi. Demi kebahagiaan anakku juga.
Namun, tidak sampai satu menit Elena sudah beralih lagi ke tempat lain. Elena mulai mengintip pada bagian permainan di dalam bangunan. Aku ikut merasa penasaran turut mengintip ingin tahu apa yang ada di dalam.
"Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
Aku melirik seorang wanita muda mendekati kami. Sepertinya dia salah satu karyawan tempat ini.
"Hmmm, anak saya ingin tahu ada apa saja di dalam sana."
"Apakah Bapak sudah registrasi untuk menjadi anggota titipan anak di sini?" Dia sejenak memperhatikan style-ku yang rapi menggunakan dasi.
"Apakah Anda dosen kampus ini? Bapak dosen dari fakultas mana?"
"Oh, hmmm ... Saya hanya mengintip sejenak—" Tiba-tiba ponselku bergetar. "Tunggu sebentar."
Tak kuduga, ini adalah panggilan dari ketua jurusan. Aku meminta diri untuk menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Prof. Selamat pagi."
"Pagi, Rendra. Saya dengar tadi kamu dan istri membawa anak ke kampus?"
__ADS_1