Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
92. (PoV Arendra) Terdakwa


__ADS_3

Aku tak tahu apa yang menyebabkan dia marah. Namun sikapnya ini membuatku merasa semakin gemas melihat tingkah kekanakannya. Biasanya dia selalu terlihat sok dewasa melebihiku.


Jangan mentang-mentang dia pernah menikah lebih dulu, dan nemiliki anak, bisa merasa lebih dewasa dari pada aku. Salah ... Tentu saja salah. Hari ini adalah pembuktian bahwa dia yang kekanakan. Kata-kata yang selalu diteriakinya padaku.


Tubuhku seakan tak terkendali ingin mencicipi bibirnya yang satu tahun terkahir membuatku penasaran. Warna merah muda, meskipun tanpa dipolesi oleh gincu atau apalah yang membuat warna pada bibir setiap wanita.


Dia sudah tidak bisa bergerak karena sengaja kujepit dalam pelukanku. Akhirnya, aku bisa memeluknya juga. Namun, dia mendorong dengan tenaganya yang cukup kuat.


"Pak ... Kita ini belum halal! Silakan kembali ke peraduanmu. Aku tak ingin orang lain menggerebek tempat ini disangka merupakan tempat mesum." Dia bersidekap dada, membelakangiku, lalu mendengkus.


"Katakan padaku, kenapa kamu marah?"


"Pikir aja sendiri!"


Rasanya aku ingin kembali memeluknya. Namun, apa yang dia katakan memang benar. "Baik lah, aku pulang. Semoga esok pagi kamu udah mau mengatakan alasan kamu marah tak jelas seperti ini."


Cup


Kucium pipinya dan langsung kabur. Sejenak kulirik Nesya termangu memegang pipinya melihat ke arahku yang terus menuju kendaraan.


Beberapa pesan chat dari Alven masuk pada ponselku. Nesya masih menunggu kepergianku bersiap menutup pintu rolling tokonya.


[ Mas ... jangan katakan kamu hanya ingin mempermainkan Nesya. ]


[ Kamu hanya ingin mencuri perhatian Mbak Reina lagi kan? ]


Nesya masih mengintip sembari memegangi pipinya yang telah merasakan kecupan pertama dariku. Ini baru di pipi, dia sudah begitu. Apalagi nanti jika di bibir, di leher, atau ... Aah—


tiiin


Mesin telah kunyalakan, sekaligus kuberi tanda bahwa aku akan jalan. Akan tetapi, tanpa tanda perpisahan, dia menutup pintu begitu saja.


Kendaraan langsung kulajukan dan segera menuju ke rumah. Pesan-pesan dari Alven kuabaikan. Pertanyaan yang sama terus dilontarkan oleh adikku itu menyangka aku hanya sekedar bermain.


Dulu ... mungkin memang benar. Aku pikir dia akan mudah jatuh cinta padaku. Namun, nyatanya aku lah yang akhirnya tergila-gila jatuh untuk mencintainya. Sementara, Aku tak tahu bagaimana perasaan dia yang sebenarnya.


Sesampai rumah, seperti biasa ... Suasana kembali sepi dan sunyi. Kedua orang tuaku telah masuk ke kamarnya, sekarang giliranku masuk ke kamarku.

__ADS_1


*


*


*


"Pak Rendra, apa Anda sadar atas perilaku yang Anda pertontonkan di hadapan civitas akademika di kampus ini?"


Aku disidang oleh ketua jurusan Akuntansi, Profesor Wirandaya Kusuma. Kali ini semua dosen yang berada dalam kesatuan jurusan Akuntansi duduk menyaksikan aku yang dilaporkan oleh Pak Suhandi, sebagai dosen yang tidak bisa menjaga nama baik tim pengajar.


"Saya tahu, Pak. Mungkin banyak yang tidak berkenan dengan perilaku saya, kemarin."


"Hanya saja, saya merasa berhak memperkenalkan calon istri dengan orang-orang yang ada di sini."


"Bukan kah tidak ada larangan menikah antara dosen dengan mahasiswanya?"


"Lagian, kami ini sama-sama dewasa. Bapak dan Ibu tahu, kami memiliki hak untuk membangun keluarga sendiri."


Semua orang yang ada di ruangan ini saling lirik. Mungkin ada yang membenarkan, mungkin ada yang membantah. Ketua jurusan pun sedikit tercekat dengan pernyataanku barusan. Beliau meminum air yang ada di hadapannya.


"Kami semua tahu, Anda ini masih masih muda. Hanya saja, kami berharap Anda mampu menjaga sikap. Anda boleh berdekatan dengan mahasiswi yang akan Anda nikahi."


"Jadi, saya selaku Ketua Jurusan Akuntansi di Fakultas ini, mengharapkan supaya Anda, bisa membatasi diri dalam bersikap saat bertemu dengan calon istri."


Aku lirik semua orang yang ada di dalam ruangan ini. Aku teguhkan hati untuk menahan gejolak saat berada di tengah sebagai terdakwa yang dituntut oleh para saksi.


"Bagaimana saksi? Apakah ada tambahan?" tanya sang ketua.


"Saya harap Saudara Rendra ditambahi hukumannya dengan surat teguran dan sanksi lainnya." ucap Pak Suhandi.


Aah ... Dia pasti sangat dendam padaku. Seharusnya semenjak awal aku tidak menerima penawaran beliau saat ingin memperkenalkan dengan Dewi—putrinya.


"Saya pikir perlu diskorsing juga, Pak Ketua." ucap Bu Yenni. Kali ini adalah tante dari Gendis.


Ah, aku lelaki. Ini hanya hal yang biasa! Aku tidak boleh terlihat gentar! Tak akan ada yang bisa memecatku selain negara. Lagian kasus ku ini sepele, hanya dibesar-besarkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukaiku.


"Saya rasa, permintaan Bapak Suhandi, dan Bu Yenni terlalu berlebihan. Yang kita tuntut hanya perbaikan sikap di hadapan civitas akademika di fakultas saja."

__ADS_1


Pak Wira melihat ke arah seluruh peserta yang menyidangiku. "Bagaimana menurut yang lain? Apakah perlu kita tambah dengan sanksi kepada dosen muda kita ini?"


"Saya rasa tidak perlu Pak Wira. Menurut saya wajar jika dia begitu. Dia masih cukup muda, dia merasakan indahnya jatuh cinta, jadi bisa saja dalam sesaat dia lupa diri. Mungkin setelah ini Pak Rendra bisa lebih berhati-hati lagi." Profesor Burhan, salah satu guru besar ternyata membelaku.


"Benar."


"Benar." Dan, disambut oleh yang lain.


Pak Wira sebagai ketua jurusan terlihat mengangguk. "Baik lah, sepertinya sebagian besar dosen jurusan ini memberikan kesempatan bagi Anda, Pak Rendra. Jadi, kami harap untuk ke depannya Anda bisa lebih berhati-hati lagi."


"Baik, Pak. Saya paham." Mungkin dengan begini semua akan selesai dengan segera.


"Baik lah, rapat kita selesaikan dan semua yang bertugas dipersilakan untuk melaksanakan tugas sebagaimana semestinya."


Semuanya bubar, tinggal lah aku yang sendirian di sini. Beberapa waktu kunikmati duduk di kursi pesakitan ini.


kreeek


Terdengar pintu dibuka dari arah luar. Aku tengok orang yang berada di luar sana. Dia adalah Nesya yang menghampiriku karena mungkin dia tahu, aku tengah diha jar sendirian di tempat ini.


Dia berjalan mendekat secara perlahan. Aku tak boleh membuatnya khawatir. Aku harus membuang segala kekacauan di dalam hati. Ku berusaha melebarkan senyuman melihat dia yang tampak sendu.


Aku bangkit dan menepuk pundaknya. Dia terlihat memegang beberapa lembar selebaran yang belum sempat kubaca. "Kamu jangan khawatir. Semua baik-baik saja."


Nesya mencari sesuatu dari dalam ranselnya. Ternyata sebotol air mineral dan menyerahkannya kepadaku. "Ini semua pasti sangat berat untuk Bapak. Maafkan aku ya? Telah membuat Bapak mendapat banyak masalah. Aku rasa, aku tak pan—"


Dia terdiam saat telunjukku menyegel bibirnya yang terus menyalahkan diri sendiri.


"Aku mencintaimu, kamu adalah yang paling pantas berada di sisiku. Semua baik-baik saja kok. Kamu jangan mengkhawatirkanku."


Dia mengangguk. "Sekarang Bapak minum dulu."


Aku kembali duduk dan membuka botol dan langsung meneguk minuman yang diberikannya. Mataku kembali ke beberapa lembar selebaran yang ada di tangannya.


Aku ingin mengambil lembaran itu, tetapi ditarik dan dimasukan ke dalam tas. Ini sungguh aneh dan aku berusaha merebut apa yang disembunyikannya itu. Saat aku berhasil mendapatkannya, isi selebaran itu sungguh membuatku marah.


"Siapa yang menyebarkan ini?"

__ADS_1



...(Maafkan fotonya jelek ... Lom profesional edit-edit dalam dunia perfotoan)...


__ADS_2