
Aku terus melanjutkan perjalanan menuju kampus. Aku lihat di parkiran ada mobil Mas Aren. Lalu, yang di hotel tadi siapa?
Aku pun segera menuju ke ruang kantor miliknya. Seluruh kertas berserakan, tangannya di keyboard, tetapi matanya terpejam dengan kepala terangguk-angguk beberapa kali.
Apa yang dikerjakan suamiku hingga membuatnya tidur dalam posisi duduk seperti ini?
Ponselnya telah berada di bawah, aku pungut dan ternyata tidak aktif. Sepertinya dia kehabisan daya. Aku intip layar laptop yang tidak menyala.
Mas Aren tersentak dan membuka mata langsung mengusap mulutnya. "Hmmm, kamu udah datang? Sekarang jam berapa?"
Dia meraba mencari sesuatu di bawah tumpukan kertas yang berserakan di atas mejanya.
"Mencari ini?" Aku goyangkan ponsel yang ada di dalam genggamanku.
Mas Aren mengucek mata menyalakan ponsel. "Yaah, mati?" Dia menanyakan kepadaku. Aku hanya bisa mengkedikkan bahu.
"Kamu pasti khawatir?"
"Ya khawatir lah! Setelah marah tak jelas dan pergi tanpa pamit, mana gak pulang tidak memberi kabar, aku jadi berpikir yang macam-macam."
Mas Aren mengusap wajahnya. "Sepertinya aku harus pulang sejenak." Dia bangkit tanpa memberi komentar atas uneg-uneg yang baru saja kukeluarkan.
"Kamu denger apa yang aku katakan nggak sih?"
Namun dia hanya menelengkan kepala kiri kanan atas bawah tanpa memedulikan koaran yang keluar dengan lancar dari mulutku.
"Maaasss?"
Dia melirikku sejenak, lalu meregangkan ototnya. "Udah marah-marahnya?"
"Belum!" balasku.
__ADS_1
"Harusnya aku yang marah. Tapi mendengar kata itu yang keluar dari mulutmu, kurasa sudah cukup bagiku. Soalnya kamu sangat keren saat mengucapkannya."
Dia ngomong apa sih?
"Tak secuilpun, yang tinggal hanya lah penyesalan ... bla bla bla ... Wiiiisss, keren banget!" Dua jempolnya mengacung di depan hidungku.
"Tapi kenapa kamu main pergi gitu aja? Aku kan jadi bingung mengira kamu marah padaku."
Dia masih sibuk menelengkan kepala mengusap-usap tengkuknya. "Leherku sakit banget, Yang."
"Sakit?" Refleks aku bergerak memeriksa leher yang dikatakannya sakit itu. Aku periksa sejenak dan pengalaman yang memberikan jawabannya.
"Ini gara-gara kepalanya bergelantungan lama dibawa tidur tu. Jadi pegel dan semoga gak salah urat."
"Aaah, ini gara-gara Dekan fakultas kita, mempromosikan aku menjadi Ketua Program Studi Akuntansi Murni, aah ... Aku jadi repot kayak gini." ucapnya masih mengusap lehernya.
"Emang kapan diminta? Kok aku nggak tau?" Aku ingin marah, tapi rasa kasihan lebih banyak. Aku merogoh sesuatu yang bisa diberikan kepadanya. Aah, akhirnya aku menemukan minyak kayu putih yang rock n roll.
"Kemarin pas mau pulang, aku dipanggil ke kantor Dekan. Nah, saat itu lah Pak Dekan mengatakan akan mengukuhkan aku sebagai Ketua Prodi menggantikan Pak Suhandi."
"Naaah, syaratnya banyak banget dan aku harus melengkapi dokumen dan portofolio semasa aku memangku jabatan fungsional. Aaah, mumet!" Mas Aren mengcek kembali laptop yang tadinya dia pakai.
Tanganku masih aktif mengerok lehernya yang dikatakan sakit. Lalu dia menahan dan menyuruhku menghentikan.
"Sepertinya aku harus pulang sejenak untuk mandi dan ganti pakaian. Kalau kamu bagaimana?"
"Aku ada perkuliahan pagi ini. Di rumah ada Bapak dan Mak kok. Mereka turut khawatir saat kamu tidak pulang tanpa kabar."
Sejenak aku perhatikan wajah lelah suamiku yang telah berusaha semalaman memenuhi permintaan Dekan. "Waah, suamiku keren banget. Bisa jadi ketua prodi dalam usia muda."
Mas Aren menguap dan ditutupi oleh kepalannya. "Nggak enak ah sama orang tuamu. Aku mandi di rumah Mama aja."
__ADS_1
Lalu dia tersenyum simpul mengusap kepalaku dengan lembut. "Ini semua adalah rezeki setelah kita menikah. Awalnya aku ingin berhenti saja karena mendapat rentetan masalah dengan ketua prodi lama. Eeeh sekarang tau-taunya malah aku yang diangkat jadi ketua prodi."
"Iya, biar nyahok tu Pak Suhandi! Nggak bisa macam-macam lagi sama suami aku." Aku pun bersemangat mengingat hal itu. Jika dia menempati posisi yang lebih tinggi, tentunya tidak ada yang berani macam-macam lagi dengan suamiku.
Mas Aren kembali mengusap kepalaku dan tertawa memamerkan gigi-giginya yanb belum disikat. "Tidak boleh dendam. Biar kan setan aja yang pendendam."
Refleks aku tertawa diikuti olehnya. Aku memeluk tubuhnya yang masih wangi, menyisakan aroma parfum yang dikenakan di hari lalu.
"Aku belum mandi," bisiknya.
"Gak apa. Biasanya juga gini kok...."
Setelah itu dia pamit pulang ke rumah ibunya untuk mandi dan mengganti pakaian. Sementara aku harus masuk ke ruang kuliah dan duduk di samping Lingga.
Namun, Lingga tidak memberikan respon sama seperti dulu di saat dia mengucilkan aku.
"Kamu kenapa Lingga? Apa ada yang kamu pikirkan?"
Namun, dia tak bergeming dan memilih pindah pada bangku yang lain. Lingga kenapa sih?
*
*
*
Sore harinya, aku ingin mengecek keadaan suami yang katanya sibuk. Siapa tahu aku sebagai istri bisa membantu mengurangi kerepotannya.
"Yang, Alven pulang."
"Oh ya? Pantes yadi aku melihat seseorang yang sangat mirip denganmu keluar dari hotel. Tadinya mau aku tarik dan aku marahi jika itu bener-bener kamu...."
__ADS_1