Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
21. Pelayanan gratis


__ADS_3

"Oooh, jadi Pak Rendra mengusir saya nih?"


Perempuan yang dipanggil Bu Gendis tersebut melirik aku dan Lingga secara bergantian. "Kalian itu mahasiswa ya! Jaga lah sikap dengan pendidik kalian!"


Aku menganggukan kepala. "Baik, Bu. Terima kasih." Sepertinya aku tidak perlu banyak membantah. Patuh aja dulu, dari pada masalahnya semakin bertambah.


"Kalau begitu saya ke fakultas dulu, Pak Rendra." Bu Gendis menatap Pak Rendra yang sibuk membolak-balik lembaran yang entah apa. Lalu dia mengangkat wajah sejenak, mengangguk dan menatap lembaran kembali tanpa jawaban.


Bu Gendis terlihat sedikit kecewa. Dia memperbaiki kacamata dan bergerak meninggalkan kami. Lalu aku bagaimana? Situasi ini sungguh sangat membingungkan.


"Saya juga harus pergi, Pak?"


"Tunggu! Kamu masuk dulu ke ruang kerja saya!"


"Lalu saya boleh masuk juga, Pak?" tanya Lingga.


Pak Rendra menatap Lingga dengan cara yang sedikit berbeda dengan ku. "Anda tunggu di luar dulu. Ini masalah insternal saya dan mahasiswa saya."


Walau tidak memahami maksud dosen aneh tersebut, akhirnya aku nyelip masuk duluan ke dalam ruang kerja Pak Arendra. Ruang kerja yang tidak terlalu luas tersebut, hanya terisi satu kursi yang bisa berputar, satu meja yang tidak terlalu besar, dan dua kursi berada di hadapan meja.


Di sekeliling ruangan tersebut terdapat beberapa rak yang dipenuhi buku-buku. Aah, kenapa aku langsung merasa malu pada diri sendiri? Koleksi buku-buku yang aku miliki pun tidak sampai satu ruang rak yang ada.


Hmmm ... berarti usahaku masih kurang. Aku masih belum cukup rajin.


"Silakan duduk!"


Pak Arendra duduk di kursi putar miliknya. Aku duduk di salah satu bangku kayu yang tersedia. Beliau memperlihatkan lembaran tersebut kepadaku.


"Berdasarkan daftar yang saya dapat, kamu adalah salah satu mahasiswa yang akan saya bimbing."


"Jadi Anda pembimbing akademik saya, Pak?"


"Ya." jawabnya singkat tanpa melihat ke arahku sedikit pun.


"Itu saja, Pak?"


"Siapa bilang itu saja? Kamu masih ingat kejadian terakhir kita bertemu?" Kali ini dia membuka ponselnya.


"Di rumah Kak Vina?"


"Bukan!" ucapnya ketus. Dia memperlihatkan dua botol yang biasanya ada di dalam etalase tokoku sebagai pemutih.


Apakah ini ... oh tidak ... tanganku secara secara refleks menutup mulut. Lalu foto botol tadi digeser memperlihatkan bagian tubuh atas yang tidak tertutup. Refleks aku menutup mata. Meskipun aku sendiri sudah terbiasa melihat tubuh bagian atas Bang Alan, tetapi melihat milik pria lain tentu saja berbeda.


"Buka matamu! Lihat ini!" bentaknya.

__ADS_1


"Ta-tapi, Pak!"


"Lihat!" bentaknya kembali.


Aku terpaksa menurunkan tangan yang tadinya menutupi kedua mata. Dengan perasaan sedikit ragu, aku mengintip kembali gambar tersebut. Namun, layarnya sudah gelap dan terkunci.


Kebiasaanku secara refleks ingin mengetuk layar yang hitam tersebut. Akan tetapi, kedua jari kami bersenggolan. Dia juga melakukan hal yang sama seperti apa yang aku pikirkan.


"Ups ... maaf, Pak."


"Hmm ...." Dia mengaktifkan kembali ponsel tersebut. Dia memperbesar pada satu titik lalu menyerahkan padaku.


"Ini karena parfum abal-abal yang kamu berikan. Selain baju saya menjadi rusak, kulit pun menjadi lecet dan perih. Kamu harus mempertanggungjawabkan ini semua!"


"Pak, yang saya berikan adalah parfum pakaian untuk disemprot saat disetrika. Kenapa kulit Anda malah menjadi lecet?"


Mata pria yang ada di hadapanku ini berputar. "Ekheeemm ..." Dia menutup mulut dengan punggung tangan yang mengepal. "Kebetulan saya gunakan untuk menyemprot tubuh saya."


Oh Tuhan, apa yang harus saya lakukan untuk menahan tawa ini? Rasanya sungguh lucu membayangkan parfum yang disemprot sebelum disetrika, malah dijadikan parfum untuk badan. Jika itu cairan pemutih, tentu akan terasa sangat perih.


Menyadari ini semua membuatku menepuk jidat secara refleks mengingat kebodohan yang telah aku lakukan. "Baik, Pak. Jadi berapa yang harus saya bayar untuk menebus kesalahan yang telah saya lakukan? Ini sungguh sebuah kekeliruan yang benar-benar tidak disengaja."


Pria yang ada di hadapanku ini menyandarkan dirinya bersidekap dada menyunggingkan senyuman misterius. "Apa benar kamu mau bertanggung jawab atas perbuatanmu ini?"


"Saya tidak membutuhkan uangmu. Namun, saya sangat membutuhkan kamu. Kamu harus memberikan pelayanan gratis kepada saya!" Dia menatap lurus padaku. Lalu matanya turun ke bawah.


Apa lagi ini? Apa yang dia pikirkan? Aku segera menutup bagian dada dengan kedua tanganku. Senyum sinis tersungging di bibirnya.


"Kamu pikir saya pria seperti apa?"


"Bapak terlihat sangat aneh?" Ups ... keceplosan.


"Kamu terlalu jujur ya? Awas nanti nilai mata kuliah Pengantar Akuntansimu, empat SKS!"


Aduh, kok rasanya apes banget ya? "Hebat ya? Enak banget jadi dosen. Main ancam gitu buat gertak mahasiswa? Apa Anda selalu begini?"


Matanya langsung menghunus ke arahku dengan tajam. "Terserah apa yang kamu pikirkan. Yang penting kamu harus mengganti segala kelalaianmu yang membuatku rugi secara fisik, dan materi."


Apakah separah itu akibat kelalaian yang tidak disengaja ini? "Sebutkan saja berapa nilai yang harus saya bayar! Agar semua urusan kita selesai tanpa ada lagi yang mengganjal."


"Apa tidak kamu dengar? Saya minta ganti rugi dengan pelayanan gratis selama dua tahun!"


"Pelayanan apa yang harus saya lakukan? Bukan pelayanan ples-ples kan?"


"Iya! Harus plusplus! Kamu harus melakukannya dengan sempurna! Jika tidak, saya akan menambah masa hukumanmu."

__ADS_1


Hukuman seperti apa yang ada di dalam pikirannya? "Kenapa harus dua tahun?"


"Siapa tahu dua tahun lagi saya sudah memiliki istri. Jadi saya tidak membutuhkan kamu lagi."


Apa benar dia menginginkan aku? "Kenapa baru dua tahun lagi? Bukan kah Anda sudah mapan dan sangat dewasa? Hari ini juga Anda sudah bisa menikah."


"Tidak semudah itu-- ekheeemm ...." Dia seperti tersadar telah bicara terlalu banyak.


"Kamu harus melakukannya hingga dua tahun ke depan! Kamu harus--"


"Jangaaan! Do---saaaa!" Aku cukup histeris mengucapkannya. Membuat telapak tangan yang lebar itu memenuhi setengah wajah untuk menutup mulutku.


"Kamu ini???" Dia membentakku. "Sepertinya kamu terlalu banyak pengalaman hingga berpikir buruk tentang saya."


Ya, di dalam otakku hanya memikirkan bahwa semua pria itu sama. Mereka hanya mau enaknya saja. Tidak memedulikan bagaimana perasaan wanita yang tersakiti karenanya. Ya, mau enaknya mengumbar has rat dengan mudah.


"Kenapa bengong gitu?" Dia membuyarkan isi pikiranku yang berpikir buruk tentangnya.


"Jadi mulai esok kamu harus melakukannya untuk saya!"


"A-apa? Kenapa terlalu cepat? Sepertinya saya belum siap."


Dia tersenyum tipis. "Karena pakaian saya sudah menumpuk semenjak terakhir bertemu denganmu!"


"Maksudnya?"


đź’–


đź’–


đź’–


Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.


Napen Author: AG Sweetie


Judul karya: NOT YOU


Blurb:


Rumah tangga yang mati-matian dipertahankannya selama ini, hanya untuk sebuah identitas lengkap di mata dunia, berakhir karam begitu saja. Rahasia besar yang disembunyikannya bertahun-tahun, terkuak sendiri oleh pengakuannya.


Di samping itu, dalam kehancuran yang dia alami, seseorang dari masa lalunya datang. Seseorang yang menjadi alasan awal kehancuran Vlora. Namun, siapa sangka? Orang itu bukanlah pria yang dimaksud, bukanlah masa lalu Vlora yang sesungguhnya. Lantas siapa orang yang dimaksud? Kehancuran apa yang sudah dia ciptakan? Dan apa kaitannya dengan rahasia yang disembunyikan Vlora?


__ADS_1


__ADS_2