
Usai update bab 79, authornya dapat notif dari noveltoon. Tetapi ini adalah karya lomba, memang biasa ditukar oleh pihak noveltoon.
Ternyata, cover yang dikasih kayak gini 😂😂😂
Wkwkwkwkw ... Author ngakak dengan seketika... maaf ya kakak-kakak readers semua, isi ceritaku bukan kisah ranjang-ranjangan sih ya 😂😂😂
*
*
*
Hmmmfff ... hingga sore ini, aku masih berkuliah. Headset bluetooth tengah terpasang di telinga. Sembari mendengar materi, ponselku turut sibuk dalam mengirim pesan kepada seseorang yang berada di tanah kelahiran.
bugh
"Aahhg!"
brak
Seseorang memukul pergelangan tangan dari samping membuat ponsel yang sedari tadi kupegang terlepas jatuh ke bagian depan meja. Dosen yang tadinya berkoar dengan materi yang tertancap di layar proyektor, seketika langsung berjalan mendekat padaku.
"Hmmff, jadi Saudara tidak menyimak apa yang saya jelaskan?"
Aku hanya diam menundukan kepala. Dosen tersebut terdengar sedikit melengos karena kesal.
Aku belum bisa mengambil ponsel, karena mengambilnya tentu harus lewat depan. Rasanya sungguh tidak mungkin dengan dosen terlihat kiiiller. Semoga beliau tidak menandai namaku di catatan kecilnya.
Aku lirik seseorang yang tadinya memukulku. Tampak seorang gadis berambut pendek, dengan kakinya satu disilang di atas paha. Dia menatapku dengan sinis.
"Kuliah jauh-jauh cuma buat pacaran kek begini, mending balik kampung aja sanah!"
Ucapannya sangat pelan, tetapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku pun menantang tatapannya.
"Lu mau apa?"
Dia malah membuang muka dan pura-pura fokus pada laptopnya. Ruangan kuliah kami berbentuk leter U. Entah faktor kesialan apa, aku harus duduk bersebelahan dengan wanita ini. Hah ... tangan ini terasa gatal untuk segera mengambil ponsel yang tadinya masih mengetik untuk membalas pesan Nesya. Akan tetapi, belum sempat aku kirim karena sudah jatuh terlebih dahulu.
*
*
*
Perkuliahan pun usai, aku segera membeli air mineral. Kerongkongan terasa kering, dan hati pun terasa jengkel. Aku tak menyangka, ada wanita seperti itu di dunia ini. Aku baru menyadari, kawan kuliahku rata-rata diisi oleh pria.
__ADS_1
Hari ini aku baru bisa fokus pada kelas setelah ponsel terjatuh. Akhirnya aku menghitung seluruh anggota kelas magister yang serempak denganku. Ternyata semua anggotanya berjumlah 25 orang. Mahasiswa perempuan nya hanya berjumlah dua orangm. Satu si tomboy ngeselin tadi, dan satu lagi seorang perempuan berhijab yang belum aku ingat siapa namanya.
...(Visual Alvendra)...
"Woy Bro, kok sendirian aja?" Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku hampir saja menyemburkan air yang telah terkumpul di dalam mulut. Aku segera menelannya hingga masuk ke dalam perut.
"Hey, Bro!" Aku salami pria berkaca mata yang kuingat adalah teman satu kelas tadi.
"Gue Gibran." ucapnya
"Alven."
"Tadi gue lihat lu duduk di sebelah Zizi." ucapnya lagi.
"Zizi? Siapa?"
"Itu, yang cewek rambut pendek, tomboy tapi cakep. Tapi judesnya luar biasa."
"Ooh, si tomboy ngeselin itu. Lu kenal dia?"
"Dia temen kuliah waktu sarjana dulu. Dia itu dapat keistimewaan dari pihak kampus untuk langsung melanjutkan S-2 secara percuma di kampus ini." terangnya.
"Ooh--"
"Gimana dia menurut lu?" Gibran kembali bertanya.
"Lu jangan cari masalah sama dia, dia itu hacker gaaaanas."
Ooh, canggih juga si tomboy itu. Kecil-kecil gitu ternyata sangat badas.
"Oke, thanks buat infonya."
Setelah itu kami saling bertukar kontak dan bercerita. Gibran telah berkuliah di kota ini semenjak sarjana. Kebetulan dia kuliah di kampus ini juga.
Dia juga berasal dari pulau seberang, tetapi dari Pulau Kalimantan. Jadi tentu dia tahu sekali bagaimana rasanya berada di tanah rantau, sangat kesepian.
Dua tahun, ya ... dalam dua tahun aku harus selesai. Apa mungkin dalam dua tahun ke depan Nesya sudah menyelesaikan perkuliahannya?
Hmmm ... aku ingin segera melamarnya. Sebenarnya, aku ingin sekali mengajak Nesya menikah setelah bekerja kemarin. Namun, Mama memaksa untuk melanjutkan kuliah. Malah dengan tega membanding-bandingkan aku dengan Mas Aren yang bisa berkuliah di luar negeri.
Aah, jangan kan keluar negeri. Berada di luar kota berbeda dengan Nesya saja rasanya sudah menyiksaku. Ternyata, benar kata Dylan. Rindu itu berat.
"Bro ... Yok ... siap-siap buat jadwal berikutnya!"
Aku mengikuti langkah pria yang berasal dari tanah Borneo itu. Kami mencari makan terlebih dahulu. Di sana ada perempuan berambut pendek yang makan sendirian. Kali ini satu kakinya naik ke atas.
ck ck ck
__ADS_1
Kali kedua menemukan wanita langka di dunia ini. Kantin terlihat sesak diisi oleh mahasiswa yang kelaparan. Semua meja telah penuh, kecuali meja di mana Zizi berada. Dia makan sendirian di meja kosong.
Aku pun mengajak Gibran untuk bergabung duduk bersamanya. Namun, Gibran menolak.
"Jangan ke sana. Biar kan Nyai Kunti itu Makan sendirian dengan tenang. Kita cari tempat lain saja."
"Ah, ribet. Di sini aja!"
Aku menuju lokasi wanita berambut pendek itu makan sendirian tanpa pengganggu. Aku pun duduk di bangku seberangnya melirik ke arah Gibran tetap menolak untuk duduk di sana.
Wanita yang katanya bernama Zizi terus menyuapi makanannya melebihi kerakusanku saat kelaparan.
"Apa lu, liat-liat?" Matanya mendelik kesal padaku.
Aku tak menjawab ucapannya dan mulai melakukan ritual makan siang. Perempuan berambut pendek itu menyudahi makannya dan mencuci tangan.
"Heh, orang kampung ... ambilin air!"
Aku lirik ke arah matanya memandang. "Ini?" menepuk tutup teko yang tak jauh dari posisiku.
"Iya itu! Emang ada yang lain?" Dia menjawab dengan bentakan.
"Ooh ...." Namun, teko air itu makin kubuat jauh dari jangkauannya.
"Nah, itu. Ambil sendiri!" Aku melanjutkan makan siang yang terganggu olehnya.
Perempuan yang tadinya dalam posisi duduk di bangku dengan satu kaki naik ke atas, mulai bangkit dengan mendorong kursi secara kasar.
braak
Dia berjalan membawa gelas menuju teko yang tadi kubuat semakin jauh. Aku masih menyuapi makan siang ke dalam mulut. Terdengar dia mulai menuangkan air ke dalam gelas dan langsung meneguknya.
"Hey, orang kampung."
Aku menoleh kepada gadis tak sopan yang tak bisa memanggil nama dengan baik itu. Dia terlihat masih menuangkan air ke dalam gelas yang sama.
Aku merasa tak tertarik untuk menjawab ucapannya dan memilih untuk melanjutkan menyantap makanan yang baru separuh masuk ke dalam lambung.
"Ternyata lu orangnya gemesin yah?"
Tiba-tiba, aku merasa tidak enak dengan seketika. Aku merasa dia akan melakukan sesuatu yang buruk kepadaku.
Aku harus berpikir dengan cepat. Jangan mentang-mentang jadi orang baru di sini, dia bisa berlaku semena-mena denganku.
Aku menyuapi makanan dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Air, mana air yang terakhir dituangkannya tadi? Aku yakin dia belum meminum air tersebut.
Dia berjalan ke arah belakangku, dan ternyata berhenti tepat di titik buta yang tak bisa kulirik. Aku segera menarik tangan dan tubuhnya hingga dia tepat terguling di atas pangkuanku. Matanya membulat, bersiap melakukan penyerangan.
...(muka datar Alven)
__ADS_1
...