
"Wanjiir, jadi gara-gara itu gue gak dipanggil-panggil oleh perusahaan yang kemarin?"
"Bisa jadi. Gue kurang tau juga. Yang jelas, gue udah nyaman dengan pekerjaan yang sekarang. Mana bisa ee naa ee naa tiap ada orderan, dapat duit lagi."
"Gue mah udah dapat tiap hari sama bini."
"Katanya lu butuh duit?"
Akhirnya aku tergoda juga dengan ajakan Zico. Memang benar adanya aku sangat membutuhkan uang. Namun, pekerjaan itu sungguh ... hmmm ... setelah dipikirkan kembali, aku putuskan untuk mencoba.
"Baik lah, bagaimana caranya?"
Zico menyuruhku datang ke suatu tempat. Kami bertemu di sana. Dia memperhatikan penampilanku dari atas hingga ke bawah. Rambut acak-acakan, pakaian lusuh, sendal jepit lusuh.
Berbeda sekali dengan penampilannya yang sangat keren. Aku sebagai lelaki saja memandang Zico saat ini begitu keren.
"Kalau penampilan lu kayak gini, lu gak bakalan laku." Dia memainkan dagunya.
"Lalu gue mesti gimana?"
"Ya ganti gaya lah! Beli baju baru, sepatu baru, parfum, apa kek ... Biar lu bisa jadi keren!" ucapnya.
"Ya, gue sih mau. Tapi gue gak punya duit. Ini habis bertengkar sama bini gara-gara gue minta duit ke dia."
Zico menertawakan keadaanku. "Jual hape lu! Beli pakaian beberapa pasang, sepatu, parfum, dan jangan lupa alat pengaman!"
"Maksud lu kon doom?"
"Iya lah! Apa lagi?"
"Gak mau aah! Pakai gituan bukannya gak enak? Gue pernah nyoba, aah ... ga enak!"
Zico menepuk kepalaku. "Lu mau aman apa mau kena penyakit ke la min? Kalau mau aman, lu kudu wajib menggunakan benda itu. Ini pelanggan kita datang dari berbagai kalangan. Kita gak tau mereka main di mana aja. Jadi kudu pakai pengaman!"
__ADS_1
"Oh ya, satu lagi! Pengaman bisa membebaskan kita dari tuduhan yang akan dilayangkan kepada kita. Siapa tau dia lagi hamil, terus memakai jasa kita, beberapa waktu kemudian menuduh kita sudah hamilin dia. Jadi itu itu bisa dihindari jika lu selalu menggunakan pengaman."
Aku mengangguk paham. Akhirnya aku ditemani oleh Zico menjual ponsel yang sudah skian waktu berada di tanganku. Sungguh sayang memang, tetapi nanti gantinya akan dapat lebih cepat.
Ponselku terjual murah, jauh dibanding harga saat dibeli dulu. Namun, bagaimana lagi? Ini sudah bekas beberapa tahun pakai. Nanti tinggal nyari alasan saja yang meyakinkan saja pada Nesya.
Pakaian-pakaian baru ku titipkan di rumah Zico. Dia mengajakku datang ke sebuah klub malam. Zico mendekatkan dan membisikan sesuatu di telingaku. "Lu udah siap?" Aku mengangguk. "Pengaman?" Aku beri tanda jempol, karena sudah aku persiapkan.
"Biasanya lu main sama bini berapa ronde?" tanya Zico lagi.
"Tak tentu, yang penting sampai gue lelah, baru gue hentikan."
Zico menurunkan matanya mengarah ke senjata perang yang ada di pangkal pahaku. Dia tersenyum jenaka dan tangannya pun membelai milikku yang perkasa ini.
"Lu gak bakalan nyesal bekerja di sini. Otong lu top cer juga kayaknya."
Aku tepis tangannya yang membuat perasaanku menjadi membuncah. "Sia lan lu!"
Setelah itu Zico mengajakku mojok sambil memesan minuman, ditraktir oleh Zico. Dia memperkenalkan semua orang yang berada di dalam klub ini. Dia pun bercerita saat ini sedang kuliah di salah satu kampus swasta yang ada di kota ini.
"Yaaa, karena kerja begini gue bisa membiayai kuliah juga. Nanti gue bisa punya gelar sarjana juga. Nanti gue bisa kerja di kantor. Siapa tau gue bisa dapat istri dari kalangan elite kan?"
"Aaah, sialan lu! Kenapa gak ngajak dari dulu? Kalau dari dulu gue bisa kuliah dan punya bini elite juga kan? Bukan bini kayak dia, kampungan."
"Aaah, sialaan lu. Lu buru-buru balik dusun langsung nikah, malah nyalahin gue!" Zico berpikir beberapa saat. "Kalau udah bosan sama bini lu itu, kasih ke gue aja! Dia cantik gitu, dibilang kampungan."
Apa? Dia bilang Nesya cantik? Dia tidak tahu saja, Nesya itu wanita yang sangat mengesalkan. Akan tetapi, kenapa aku merasa kesal saat dia mengatakan istriku cantik?
Zico membuyarkan lamunanku. Dia menunjuk seorang wanita yang bertubuh sintal dan bohai. Berbeda sekali dengan Nesya yang kurus kering seperti korban kurang gizi.
"Dia itu Tante Nita. Suaminya pria kaya yang jarang pulang. Setiap suaminya keluar negeri, dia pasti mencari pria-pria muda seperti kita."
Aku mengangguk memahami. "Hei, lihat! Dia melihat ke sini! Dia ke arah sini!"
__ADS_1
Seseorang yang disebut tadi berjalan melambaikan tangannya kepada kami. Zico membalas lambaian tangan wanita itu dan memberi kode agar aku melakukan hal yang sama.
"Co, ada anak baru?" ucap wanita yang dipanggil Tante Nita itu.
"Iya nih Tan, malam ini perdana bagi dia!"
"Masih per ja ka kah?" Wajah Tante itu terlihat berubah mupeng. Aku bisa membaca gelagatnya.
"Bu---" Aku akan menjawab, tetapi dicegat oleh Zico.
"Iya nih Tan, ini adalah malam pertama baginya." Zico memberi kode-kode agar aku mengikuti ucapannya.
"Namamu siapa anak baru?"
"Alan, Tan."
"Ooh, Alan! Malam ini aku ingin bersama kamu. Aku tunggu di luar!" Dia berjalan lebih dahulu.
"Dia sungguh tak neko-neko," ucapku sembari melihat arah langkahnya.
"Lu akan dibayar mahal olehnya. Lu main bagaimana saat lu perja ka dulu! Lu paham kan?"
Tentu saja aku paham, dan segera beranjak mengikuti pelanggan pertama. Dia menungguku di mobilnya. Kami menuju hotel berbintang dan kami akan melakukannya di sana.
Usai memarkirkan kendaraan, Tante Nita menggandeng dan menyandarkan dirinya pada lenganku dengan manja. "Aku suka sekali brondong kinyis-kinyis kayak kamu."
"Aku juga suka pada Tan--"
"Nita! Jangan panggil Tante! Malam ini kita adalah pasangan!" selanya.
"Baik lah, Sayang!" ucapku.
"Nah, gituu dong, Sayang. Aku penasaran, apa kamu bisa membuatku puas atau tidak."
__ADS_1
Aku hanya mengulum senyum, dia akan aku buat minta ampun. Seperti apa yang terjadi pada Nesya.