Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
71. Ayah sayang Ibuk dan Elena


__ADS_3

"Kalian pikir ini di mana, hah? Sekalian aku daftarkan MMA secara online, mau?"


Kedua pria itu bangkit sembari mengelus bagian yang kena serangan sapu lidi pengusir setan yang aku susun sedemikian rupa. Lidi-lidi itu sengaja aku kepang.


"Apa kalian tidak malu mempertontonkan aksi seperti itu di hadapan Elena?"


Lalu aku langsung menantang netra mantan suamiku. "Kamu, Bang, kali ini mau ngajarin hal buruk yang baru di depan anakmu? Apa belum cukup dengan semua tingkah anehmu?"


"Buk ...." Elena menyela ucapanku. Sepertinya dia tidak suka aku berlaku demikian kepada Ayahnya.


Setelah itu netra berpindah tempat pada pria di sampingnya yang tengah melepaskan jas yang tadinya melekat. "Jadi Bang Alven rapi-rapi gini buat adu jotos?"


Kedua pria itu menundukan kepala, tetapi masih saling sikut-sikutan.


"HENTIKAN!"


Lalu suasana hening beberapa waktu. Aku kembali teringat pada pekerjaan yang tanggung tadi. Aku harus segera menyelesaikan semua, agar Bang Alan segera beranjak dari tempat ini.


"Bang Alven sama Bang Alan, silakan saling berjauhan! Aku mau menyesaikan pekerjaan. Awas kalau berantem lagi!"


Mereka masih hening. "Elena, kamu bantu Ibuk ya? Jagain Ayah sama Om Alven! Jika mereka berantem lagi, panggil Ibuk ya?"


Elena menganggukan kepala dan mengacungkan jempol. "Oke, Buk." Lalu Elena duduk di bangku kasir.


Aku segera melanjutkan menyetrika pakaian milik Bang Alan. Beberapa waktu hanya terdengar keheningan, dan pakaian milik Bang Alan sudah aku kemas serapi mungkin.


Setelah selesai, pakaian yang sudah masuk ke dalam kantong besar, kubawa menuju bagian depan. Yang satu duduk di depan meja kasir sembari melihat bayangannya pada kaca yang ada di sana, memperhatikan lebam pada wajahnya.


Sementara Elena bersama ayahnya duduk di bagian luar. Bang Alan tengah menghisap rokok di samping Elena. Ini membuat darahku naik hingga ke ubun-ubun.


Aku lempar pakaian milik Bang Alan tepat di sampingnya. "Ini, sudah selesai dan boleh dibawa!"


Dia bangkit lalu membuang benda yang terjepit di jemari langsung menginjak api pada rokok tersebut benar-benar padam. Setelah itu mengambil benda yang ada di dalam kantong besar yang tadi aku lempar. Dia mengeluarkan dompet dari dalam kantong.


"Berapa semuanya?"

__ADS_1


"Kali ini aku kasih gratis, tetapi setelah itu Abang tak usah datang ke sini lagi. Datang-datang hanya memberi contoh buruk kepada Elena."


Bang Alan mengeluarkan secarik uang bewarna merah dari dompetnya. "Kembaliannya boleh kamu ambil buat jajan Elena. Aku tak akan berhenti sampai di sini saja." Dia menyerahkan uang tersebut masuk ke dalam genggamanku.


Uang itu aku lempar kembali padanya. Namun, uang itu dibiarkan jatuh ke bawah. "Elena tak membutuhkan uang darimu!"


Raut Bang Alan berubah dengan kening berkerut. "Oh, begitu? Ternyata kamu masih dendam padaku."


"Terserah kamu mau bilang apa. Namun, jika kamu masih saja memberi contoh buruk seperti ini, mending tak usah datang ke sini!"


Dia hening menatapku, lalu bergantian melihat seseorang yang berada di belakangku. "Aku pikir, seiring berjalannya waktu akan membuatmu memaafkan semua kesalahanku. Aku ingin kamu tahu bahwa aku bukan lah Alan yang dulu. Namun, sepertinya tak ada hal baik yang kamu ingat tentang diriku."


Masih bisa dia berbicara seperti itu? Dalam ingatanku memang tak ada satu pun hal indah saat bersamanya. Ada pun dia berpura-pura baik hanya untuk menutupi kebobrokan yang dilakukan di belakangku.


"Aku juga ingin kamu tahu, bahwa Nesya yang sekarang bukan lah Nesya bodoh seperti dulu!"


"Baik lah ... sepertinya kamu masih membutuhkan waktu agar kita bisa bicara dengan kepala dingin. Mungkin saat ini lebih baik aku pergi dulu." Sebelum Bang Alan pergi, dia membelai kepala Elena dengan senyum lirih di bibir.


"Nanti Elena ambil uang itu buat jajan ya?" Bang Alan menunjuk uang yang sama-sama kami biarkan tadi.


Aah, ya ... bagaimana pun juga Bang Alan adalah ayah kandung dari anakku. Bahkan, wajah Elena lebih mengikuti ayahnya dari pada aku.


Bang Alan melirikku sejenak dan pergi. Aku merasa bersalah melihat Elena menatap sang ayah dengan wajah sedih seperti itu. Apakah baru saja aku melakukan kesalahan? Atau, aku menyampaikannya dengan cara yang salah?


"Jadi, sebenarnya mantan suami mu itu masih ingin kembali bersamamu?" Aku menoleh pada Bang Alven, sang pemilik suara.


"Tak mungkin."


Dia berjalan mendekatiku. "Kenapa kamu seyakin itu? Lihat ini!" Dia menunjuk lebam yang ada pada wajahnya.


"Sebenarnya, apa yang terjadi?"


"Aku tak bisa mengatakan banyak hal. Tapi, satu yang aku tahu bahwa dia ingin kembali bersamamu. Bagaimana denganmu?"


Aku kembali melihat gadis kecil yang terus melihat ke arah hilangnya sang ayah. Ayahnya telah menjauh menggunakan motor. Setelah bercerai, dia tak lagi membawa kendaraan roda empat.

__ADS_1


Aku berjongkok menyetarakan tinggiku dengan Elena. Wajahnya terlihat sendu menatapi punggung ayahnya yang terus menjauh.


"Kenapa Elena sedih begitu?"


"Elena masih kangen Ayah, Buk. Kenapa Ibuk marah-marah terus sama Ayah?"


Oh, Tuhan ... aku melupakan sesuatu bahwa gadis kecil ini terus tumbuh. Dia sudah mulai berpikir. Dia semakin cerdas dan bisa mengutarakan segala yang ada di dalam pikirannya.


"Maaf kan, Ibuk ...."


"Buk ... apa boleh Ayah tinggal di sini?"


Kenapa dia bisa berbicara seperti itu? Rasanya, sungguh tidak mungkin jika dia masih mengingat moment saat bersama ayahnya? Kami berpisah saat Elena berumur kurang dari dua tahun. Akan sangat sulit baginya mengingat memori saat itu.


"Ayah bilang, Ayah sayang sama Ibuk dan sayang Elena juga. Ayah ingin tinggal sama-sama dengan kita. Ayah cerita, dulu selalu menemani Elena tidur saat pulang kerja. Elena mau lagi, Buk. Apa boleh, Buk?" tanyanya dengan wajah polos.


"Jadi, Ayah yang mengatakan semua itu?"


"Setiap Ayah ke sini, Ayah selalu bilang sayang pada Ibuk dan Elena."


Satu buket bunga, tiba-tiba berada di hadapanku. Aroma bunga-bunga tersebut begitu wangi, mengalahkan parfum laundry yang aku miliki.


"Bang Alven, ini buat apa? Hari ini, bukan hari ulang tahunku."


"Ambil aja!"


Lalu, ku sambut bunga-bunga tersebut dan aku pun bangkit. "Dalam rangka apa nih?"


"Nanti malam aku akan pergi."


"Lhoh? Kenapa tiba-tiba? Kok nggak cerita dari kemarin? Jika mendadak begini, aku kan jadi bingung mau ngasih apa?"


Dia menggelengkan kepala. "Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Aku hanya ingin mengatakan satu hal kepadamu."


"Mau mengatakan apa? Kok wajahnya serius banget?"

__ADS_1


Dia melirik kiri kanan dan menggaruk pelipis seakan tak nyaman jika mengatakan semuanya di sini. "Apa kamu mau ikut denganku?"


__ADS_2