
Semakin waktu, aku semakin yakin bahwa aku masih sangat mencintai Nesya. Namun, setiap hari selalu saja ada monyeet-monyeet pengganggu membuntuti ibu dari anakku.
Ponselku mengeluarkan tanda panggilan masuk. Aku lihat itu adalah panggilan dari Dian.
"Ya?"
📳 "Kenapa masih belum sampai?"
"Aku mau jemput cucianku dulu."
📳 "Alasan! Katakan saja kamu ingin bertemu sama pelakor itu lagi!"
"Pelakor apaan? Justru kamu lah yang membuat aku berpisah dengannya!"
📳 "Sekarang kau sok-sok terlihat mencintainya. Dulunya saja kau jual pusakamu ke mana-mana! Atau, gara-gara dia kau melakukan semua itu?"
"Sudah lah, aku jemput laudryan dulu. Setelah itu aku ke sana mengasuh Dilan."
Panggilan ditutup dengan segera aku ke tempat Nesya, mantan istriku berada. Ternyata, salah satu monyet sudah ada di sana.
"Ekhem ... apa aku mengganggu? Mana pakaian bersih yang kemarin aku titip ke sini?" Aku pun tak memedulikan situasi yang ada. Sepertinya dia akan menyatakan cinta pada Nesya. Tak akan aku biarkan.
"Tunggu sebentar!" Nesya masuk ke bagian dalam menjemput pakaian milikku.
"Apa yang kau inginkan dan kenapa masih menitip cucian padanya?" ucap si monyet kedua, karena aku tahu dia adalah adik dari si monyet pertama. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Kau tak perlu tahu, ini cukup gua dan dia yang tahu!" Hahah ... sepertinya dia mengalami ketakutan karena menyadari aku sedang berusaha mendekati Nesya.
"Ingat, kau sudah menalaknya. Jadi, kau tak boleh menikah dengannya lagi."
Sebuah tawa keluar dengan sendirinya dari mulutku. "Kau sungguh lucu!"
bugh
Sebuah pukulan mendarat di daguku. Aku tarik kemeja putih yang ada di dalam jas bewarna gelap. "Gua tak ada niat bercerai dengannya. Namun, jika cerai pun, baru satu kali talak! Gua masih bisa rujuk dengannya meskipun dia belum menikah." Sekarang giliran pembalasan untuknya.
dugh
braaaak
"Ayaaah!" Elena histeris melihat peperangan kecil ini
dugh
dugh
Kami pun saling serang dan saling pukul. Satu lagi, ku layangkan tendangan pada bagian perutnya. Di membalas hendak memberikan tinju pada wajahku.
__ADS_1
"Hey! Kalian ini kenapa? Jangan berantem di sini dong! Sekalian naik ke atas ring MMA aja kalau merasa jagoan begini!"
Nesya mencoba menghentikan aksi kami ini. Aku merasa sangat puas dengan keberuntungan berada di tanganku. Dia lebih banyak menerima serangan beringas anak-anak dusun yang tak pernah diketahui oleh orang-orang kota.
pak
pak
pak
Aduh, pan tat ku ... sakit. Kami berdua mendapat pecutan dari lidi yang dikepang oleh Nesya. Rasanya sungguh sakit dan sangat memalukan. Ini adalah sen jata para emak-emak di dusun jika anak-anak membandel dan tidak menurut.
Saat mendapat ini setelah menjadi seorang ayah, apalagi di depan anakku sendiri, rasanya aku ingin menyembunyikan wajahku di mana pun aku bisa.
"Kalian pikir ini di mana, hah? Sekalian aku daftarkan MMA secara online, mau?"
Kami berdua sama-sama bangkit. Aku mencoba menghalau rasa perih yang ditinggalkan oleh lidi yang dikepang itu. Ternyata, lawan geluudku melakukan hal yang sama. Setidaknya dia tidak pilih kasih saat memberikan hukuman.
"Apa kalian tidak malu mempertontonkan aksi seperti itu di hadapan Elena?"
Dia menantang mataku dengan sangat berani. "Kamu, Bang, kali ini mau ngajarin hal buruk yang baru di depan anakmu? Apa belum cukup dengan semua tingkah anehmu?"
"Buk ...." Elena pasti akan membelaku. Karena yang memulai ini bukan aku, tapi monyeet itu.
Selanjutnya giliran monyeet kedua yang dimarahi oleh ibu dari anakku ini. "Jadi Bang Alven rapi-rapi gini buat adu jotos?"
Dengan bergantian dia melihat kami berdua. Aku tak berani melihatnya, dia sungguh terlihat sangat menakutkan. Akan tetapi, pria yang ada di sampingku masih belum puas dengan pergulatan kami tadi. Dia masih mencari gara-gara dengan menyikutku, tentu saja aku balas sikap kekanakannya.
"Bang Alven sama Bang Alan, silakan saling berjauhan! Aku mau menyesaikan pekerjaan. Awas kalau berantem lagi!"
Dia memperlakukan kami bagai anak kecil nakal yang harus diawasi. Padahal yang anak-anak adalah pria muda di sampingku ini. Aku sudah dewasa, anakku sudah empat tahun.
"Elena, kamu bantu Ibuk ya? Jagain Ayah sama Om Alven! Jika mereka berantem lagi, panggil Ibuk ya?"
Elena menganggukan kepala dan mengacungkan jempol. "Oke, Buk." Lalu Elena duduk di bangku kasir.
Aku jemput Elena dan segera menggendongnya mengajak duduk di luar. Pemandangan di dalam tempat ini sungguh tidak menyenangkan. Dari pada dia menyulut amarahku kembali, lebih baik mengajak Elena ngobrol.
"Ayah, kenapa pukul-pukulan sama Om Aven?" Elena menyandarkan dirinya duduk dalam pangkuanku.
Aku memeluk Elena dan mencium pucuk kepala gadis malang ini. "Ayah hanya main sama Om Aven. Maaf ya, sudah membuat Elena kaget?"
"Apa Elena boleh main kayak gitu juga sama Cecil? Elena suka main sama Cecil di rumah belakang."
Aku segera mengangkat Elena, dan membuat Elena tepat melihat wajahku. Aku menggelengkan kepala. "Elena tidak boleh main kayak gitu sama temennya ya? Itu mainnya orang-orang besar kayak Ayah dan Om itu."
"Kok, Elena ga boleh main kayak gitu?"
__ADS_1
Aku pun mengusap rambut panjang yang dikepang dua ini. "Tadi itu hanya ungkapan bahwa Ayah sangat sayang sama Ibuk."
"Ayah sayang Ibuk? Sayang itu apa, Yah?"
cup
cup
Aku cium kedua pipi darah dagingku ini. "Ini adalah cara untuk ungkapin rasa sayang."
"Tapi tadi Ayah bilang sayang sama Ibuk? Kok cium pipi Elena?" Elena mengusap pipi bekas aku kecup tadi.
"Ayah juga sayang sama Elena." Kembali kuusap kepala Elena. "Dulu kita selalu tidur bertiga. Apa Elena mengingatnya?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepala. "Kapan kita bobo bersama?"
"Dulu, saat kamu masih sangat kecil, kita bertiga tinggal di tempat yang sama. Apa kamu mau jika Ayah tinggal bersama lagi dengan kalian?"
Elena memelukku dan hening beberapa waktu. Dia bangkit dan mencium kedua pipiku. "Elena sayang Ayah. Ayo, Yah ... bobo sini lagi."
Aku kehabisan kata. Hanya bisa membuka kotak rokok lalu membakarnya. Kuhisap dalam-dalam, menikmati sensasi yang dibuat oleh rokok itu di dalam diam. Aku ... sungguh menyesali kebodohanku.
Tiba-tiba satu bungkus besar pakaian bersih mendarat begitu saja di sampingku. "Ini, sudah selesai dan boleh dibawa!"
Dia pasti merasa marah melihatku kembali merokok. Aku segera bangkit melempar benda yang baru satu kali kuhisap itu.
"Berapa semuanya?"
"Kali ini aku kasih gratis, tetapi setelah itu Abang tak usah datang ke sini lagi. Datang-datang hanya memberi contoh buruk kepada Elena."
Tidak bisa begitu, aku serahkan uang yang aku dapat sebagai seorang Daddy. "Kembaliannya boleh kamu ambil buat jajan Elena. Aku tak akan berhenti sampai di sini saja."
Namun, uang yang aku beri dilempar kembali. "Elena tak membutuhkan uang darimu!"
"Oh, begitu? Ternyata kamu masih dendam padaku."
"Terserah kamu mau bilang apa. Namun, jika kamu masih saja memberi contoh buruk seperti ini, mending tak usah datang ke sini!"
"Aku pikir, seiring berjalannya waktu akan membuatmu memaafkan semua kesalahanku. Aku ingin kamu tahu bahwa aku bukan lah Alan yang dulu. Namun, sepertinya tak ada hal baik yang kamu ingat tentang diriku."
"Aku juga ingin kamu tahu, bahwa Nesya yang sekarang bukan lah Nesya bodoh seperti dulu!"
Ya ... aku sudah tahu. Kamu bukan lah gadis dulu yang selalu aku sakiti.
"Baik lah ... sepertinya kamu masih membutuhkan waktu agar kita bisa bicara dengan kepala dingin. Mungkin saat ini lebih baik aku pergi dulu." Aku pun membelai kepala Elena berusaha memberikan senyuman meski hatiku terasa perih.
"Nanti Elena ambil uang itu buat jajan ya?"
__ADS_1
Elena mengangguk dan langsung mengambilnya. "Ayah ke sini lagi yaa ...."
Masih adakah kesempatan untukku? Kali ini aku pergi, mengalah ... menunggu keajaiban. Aku pun harus segera mengasuh Dilan.