Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-7. Belah dadaku!


__ADS_3

"Tidak mungkin, Pak. Istri saya jago bela diri."


Polisi tersebut hanya menganggukkan kepala beberapa kali. Mempersilakan aku untuk memastikan apakah benar dia adalah istriku atau bukan.


Aku mendekati brangkar tempat seorang wanita yang diperban bagian bahu. Saat melihat wajah itu, wajah yang beberapa hari terakhir selalu aku lihat, kali ini dia tertidur dengan sedikit ringisan.


Aku belai rambutnya yang hitam dan panjang. "Sayang?" Dipastikan wajah itu memang milik istriku yang ngambek semenjak tadi malam.


"Sayang? Maafkan aku. Harusnya aku tidak membiarkanmu pergi sendirian dalam keadaan kalut seperti tadi." Aku raih tangan Nesya dan menggenggamnya.


Genggamannya membalas genggamanku membuat asa melambung dengan jauh. "Sayang, kamu sudah bangun?" bisikku tepat di telinganya.


Perlahan mata Nesya terbuka memandangku dengan wajah sayu. Genggamannya terasa semakin erat. "Maafkan aku, Mas. Sepertinya ini adalah hukuman bagi istri yang keras kepala seperti aku." lirihnya membuat hatiku terenyuh.


"Jangan berkata seperti itu! Ini hanyalah sebuah kebetulan yang bisa jadi pelajaran bagi kita."


Meskipun aku hanyalah orang yang kedua baginya, aku berharap akan menjadi yang terakhir mengisi hidupnya. Nesya menganggukan kepala.


"Seharusnya aku tidak larut dengan apa yang ada di dalam pikiranku. Aku hanya takut masa laluku terulang kembali." ucapnya sendu.


"Seburuk apakah masa lalumu dengan mantanmu hingga berpikir semua pria itu sama?"


Nesya terlihat merenung sesaat dan melirikku kembali. Matanya menyiratkan sebuah masa lalu yang dialami bersama mantan suaminya terlihat cukup berat.


Namun, apa hanya aku saja yang merasa hubungannya terlihat cukup baik dengan si Alan itu. Hingga membuat desiran amarah masih memuncak bila melihat pria itu kembali mencoba mendekat pada wanitaku ini.


"Mulai hari ini, apa pun yang memgganjal, sebaiknya disampaikan. Jangan ada yang menyela sebelum semuanya jelas!" ucapku. Nesya menganggukkan kepalanya dan aku hanya membelai kembali kepalanya.


Netra kami saling bertemu tanpa putus. "Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanyanya setengah berbisik, nyaris tak terdengar.


"Tentu saja, Sayang. Apa aku harus mengeluarkan gombalan ala zaman dahulu?" ucapku untuk menggodanya.

__ADS_1


"Gombalan seperti apa?"


"Dulu di zaman aku sekolah, ada sebuah gombalan yang sangat laris diucapkan. Apa kamu mau mendengarnya?"


Nesya menganggukan kepala. Dia pasti tidak mengetahui apalagi zaman iklan itu muncul, dusun dia berada belum masuk listrik. Listrik ada di desa itu baru sekitar delapan tahun terakhir.


"Kalau kamu belum percaya juga, belah dadaku!" bisikku kembali.


Nesya tercengang dan terkekeh mendengarnya. Ternyata gombalan yang dulu dianggap garing di masa aku SMA dulu, masih bisa membuatnya tersenyum.


*


*


*


Keesokan pagi, Nesya kembali kubawa pulang langsung menjemput Elena di rumah orang tuaku. Gadis kecil itu terlihat cukup terkejut melihat apa yang sedang terjadi pada ibunya ini.


"Nesya, sekarang kamu sudah berkeluarga. Dari pada kamu pusing mengurus banyak hal, lebih baik kamu fokus saja pada keluargamu. Kalau kamu di rumah saja, mungkin tidak akan seperti ini!" ucap mamaku membuat Nesya bingung.


"Bagaimana kalau kamu tinggal di sini saja fokus mengurus suamimu, Aren?"


"Maksud Mama aku harus menghentikan bisnis dan kuliah?"


"Ya, paling tidak kamu bisa mengurus suamimu dengan baik."


"Ma, aku bisa mengurus diri dengan baik. Aku juga bisa memastikan bisa mengurus Mama Papa, beserta keluarga kecilku sekaligus. Apa Mama lupa aku sudah menjadi mandiri semenjak kecil?"


Mama terperangah mendengar pernyataan yang baru saja aku ucapkan. Mama seakan tak percaya bahwa putra sulungnya ini sudah begitu dewasa.


"Aku yang sekarang bukan lagi anak kecil, Ma. Aku yakin kami bisa menjalaninya kok. Tentunya jika Mama merestui apa yang dijalani istriku saat ini."

__ADS_1


Mama terlihat menghela nafas panjang. "Apa Mama saja yang mengajukan pensiun dini?" celetuk ibuku.


Papaku terlihat menahan senyum dan mengangguk setuju. "Bagus, Papa setuju. Lagian usia Mama juga sudah tidak produktif bekerja di kantoran. Lebih baik bersiap menjadi nenek yang baik yang nemenin cucu di rumah."


"Enak saja dibilang tidak produktif? Gini-gini Mama punya banyak prestasi lho?" Mamaku tidak mau kalah atas guyonan Papa barusan.


"Papa dan Mama tenang saja, kami berusaha untuk tidak menyusahkan Mama dan Papa jika tidak dalam keadaan terdesak." ucap Nesya dengan wajah yang sangat meyakinkan.


"Bagaimana pun, aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik untuk Mas Aren, ibu yang selalu menyayangi Elena, dan menantu yang berusaha melakukan segala hal dengan sebaik mungkin."


"Mungkin, aku bukan wanita yang sempurna bagi Mas Aren, tetapi aku selalu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mas Aren memiliki pendidikan tinggi, setidaknya aku bisa memiliki gelar sarjana."


Nesya menarik tanganku dan menatap netraku dengan dalam. "Yang beberapa waktu lalu, aku janji tidak akan aku ulangi. Aku hanya takut kejadian masa lalu terulang kembali." Lalu, Nesya tertunduk dengan wajah penuh sesal.


Aku rangkul istriku hanya bisa memberikan sedikit anggukan. Setelah itu kami berpamitan kepada kedua orang tuaku membawa Elena pulang. Nesya kuminta untuk istirahat dulu hingga kondisinya stabil, menemani Elena sekaligus menengok karyawan laundry yang bekerja bersamanya.


Sementara aku bersiap dengan secepatnya tetap mengusahakan berangkat untuk bekerja seperti biasanya meski bisa dikatakan sudah cukup terlambat.


Setelah berpamitan kepada dua orang yang sudah menjadi bagian hidupku, aku melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas normal. Meskipun sudah jelas ke kampusnya datang terlambat, tetap harus mempercepat langkah.


Setelah sampai di kampus, aku berusaha lewat sedikit jauh dari ruang ketua jurusan kami. Saat mengendap-endap, ternyata malah kepergok ketua program studi, Pak Suhandi yang sengaja berdehem menyatakan bahwa dia melihatku bagai tikus yang ketahuan mencuri sesuatu.


Aku hanya mengangguk dan melanjutkan langkah hendak langsung menuju ruang kuliah.


"Baru datang?" tanya beliau padaku.


"Oh, tadi saya langsung ke ruang kelas, Pak. Saya tidak mampir dulu ke ruang jurusan kita."


"Lalu kamu dari mana?" Pak Suhandi masih menyelidikiku.


"Tadi ponsel saya ketinggalan di mobil, Pak. Makanya saya kembali ke mobil, takutnya ada panggilan penting. Saya permisi dulu, Pak. Kasihan mahasiswa saya sudah menunggu di kelas."

__ADS_1


Aku kembali menganggukan kepala dan mohon izin menuju ke ruang kuliah. Bertemu dengan Pak Suhandi membuatku merasa seperti melaksanakan ujian besar secara mendadak. Setelah berbelok ke bagian koridor lain, akhirnya aku bisa merasa sedikit lega.


Entah mengapa aku merasa suasana di tempat kerjaku ini semakin tidak nyaman. Apa aku harus mengundurkan diri dari pekerjaan ini?


__ADS_2