Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-8. ( pov Alvendra) Sepatu


__ADS_3


yihiii.. Alhamdulillah aku naik lencana jadi gold... Terima kasih atas dukungan kakak semua ya... šŸ™šŸ˜‡


*


*


*


Aku mendapat kabar bahwa keadaan Nesya cukup buruk setelah menjadi korban begal. Rasanya aku ingin mengutuk saudaraku itu yang tidak becus menjaga istrinya.


Beberapa kali ingin melakukan panggilan pada Mas Aren, tetapi panggilan tersebut tak kunjung dijawab. Apa dia tahu aku akan memarahinya hingga dia mengacuhkan panggilanku?


Aaaah, ya ... Nesya itu sudah menjadi miliknya. Aku tidak boleh memikirkannya lagi. Namun, melupakan seseorang yang ada dalam angan tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Lagi, kelas telah berakhir, aku masih termangu memikirkan akan bayangan semu yang selalu mengisi pikiranku. Ponsel masih berada di dalam genggaman, memperhatikan kontak pada ponsel milik Nesya.


Jemari ini ingin sekali menekan tanda hijau untuk meneleponnya. Akan tetapi, nalarku terus memaksa untuk melupakan dia sebagai wanita yang aku cinta.


duuugh


Sebuah bola yang terbuat dari kertas mendarat tepat di meja hadapanku. Aku menoleh ke arah di mana seorang gadis berambut pendek sedang melirikku sembari menunjuk bola kertas tersebut.


Aku segera membuka bola-bola itu, di sana sedang berisi ancaman yang menurutku cukup aneh. Jujur, aku cukup sulit melupakan kejadian itu, akan tetapi dia malah mengingatkanku kembali.


Aku memberi aba-aba tangan bergerak-gerak menggenggam angin. Wajahnya terlihat mengernyit marah menyembunyikan kedua benda yang ada di dada dengan kedua tangannya.


"Messsuuum!" Sepatu melayang membidik wajahku.


Refleks tanganku menepis benda itu hingga terpental keluar jendela. Aku duduk tepat di dekat jendela. Gadis itu semakin marah, sementara aku langsung mengecek benda yang tadi keluar dari jendela tadi.


Saat ini kami berada di lantai dua. Sepatu itu jatuh mengenai kepala salah satu mahasiswi yang ada di bawah. Dia melihat ke atas tepat kepadaku dengan wajah manyun. Aku memberi aba-aba minta maaf kepada seseorang yang menjadi korban kebrutalan gadis liar berambut pendek itu.

__ADS_1


"Heh, lu yang udah membuat sepatu gue jatuh, cepetan ambilin lagi sepatu gue!"


Aku memilih memasah headphone mendengar musik klasik untuk menengkan pikiran. Dari pada aku pusing mendengar ocehan gadis bar-bar ini, lebih baik aku anggap saja dia tidak ada.


Aku lihat gadis itu komat kamit tidak jelas. Aku tidak tahu dia sedang membicarakan apa. Aku memilih untuk membaringkan kepala bertopang pada tangan.


Namun, gadis itu menarik kasar headphone yang terpasang di telingaku.


"Heh, pria aneh! Lu budek atau apa? Apa lu mau gue bikin perusahaan bapak lu jadi kacau lagi?"


"Lakukan lah!" Ocehannya itu benar-benar membuatku pusing.


Akhirnya aku memilih merapikan peralatan, memasukannya ke dalam tas, memilih untuk pergi. Dia terlihat terus mengikutiku dengan melepaskan sepatunya sebelah lagi.


"Hei, lu denger apa yang gue bilang nggak sih? Ambilin dulu sepatu gue di bawah sana!" Dia mengikuti setiap langkahku.


Akhirnya aku memilih menuju ke bawah ke tempat di mana sepatu gadis itu melayang menimpa mahasiswi lain. Dengan wajah kesalnya, ditambah tidak memakai alas kaki, gadis berambut pendek itu menjadi tontonan unik bagi mahasiswa lainnya.


"Nah, ini Mas-Mas yang di atas tadi. Ini sepatunya, Mas? Kepalaku jadi sakit tau ngga?" Mahasiswa itu merajuk dengan gaya yang sedikit manja. Aku rasa menemukan wanita aneh lainnya di tempat ini.


"Jadi sepatu ini milik, Mbak?" rengeknya membuatku dan Zizi menatapnya secara bergantian. Fix ..., aneh!


Zizi mengambil pasangan sepatunya dari lokasi tempat mahasiswi cengeng itu meletakkannya. Namun, gadis yang menjadi korban merebut sepatu itu kembali.


"Heh, apaan sih lu?" bentak Zizi.


"Mbak harua ganti rugi dulu atas cidera yang didapat oleh kepalaku!" rengek gadis itu yang kali ini sedikit membuatku tergelak. Lucu! Sumpah!


Namun, reaksi berbeda yang diperlihatkan Zizi. Gadis berambut pendek itu menatap tajam padaku. "Lu yang membuat sepatu gue jatuh! Berarti lu yang harus ganti rugi."


Gadis manja tadi sedikit menatapku dengan wajah menghiba seperti kucing yang kehujanan. "Jadi Mas yang melempar sepatu ini keluar hingga membuat kepalaku benjol?"


"Heh, lu ini udah mahasiswa! Jangan sok imut gitu! Pada dia lagi?" rutuk Zizi terlihat kesal.

__ADS_1


Aku mendekati gadis itu. "Maaf ya, Mbak. Kalau begitu bagian mana yang sakit? Biar aku yang periksa."


Gadis itu pun meringsek manja padaku. "Ini, Mas ... iniii." Dengan leluasa sekali tangannya mengangkat tanganku mengarahkan pada bagian kepala yang katanyanya benjol.


"Mas, Mas ... Kalau boleh tukeran kontak, aku anggap semuanya lunas." bisiknya menjinjitkan kaki hingga tepat berbicara di telingaku.


"Hih, lu cari kesempatan ya mesum?" rutuk gadis bernama Zizi itu.


"Emang kenapa, Mbak? Apa kalian pacaran?" tanya gadis manja itu.


Zizi terlihat sedikit canggung dengan pertanyaan itu. Sementara aku memastikan bahwa hubungan kami bukan lah sesuatu yang istimewa. Akan tetapi, tetap ... aku memilih diam.


"Kalau kalian bukan pacaran, boleh dong aku lebih deket lagi sama Mas yang cool kebangetan ini?"


Pernyataan yang blak-blakan gadis manja ini sontak membuatku terkejut. Hal ini menyadarkan aku bahwa wanita di kota besar memang memiliki keberanian yang lebih untuk berterus-terang.


Gadis manja itu mengulurkan tangannya. "Namaku Monica, Mas. Aku mahasiswa baru S-1 jurusan teknik sipil."


"Kamu teknik juga? Yakin memilih jurusan ini?" tanyaku merasa tidak yakin akan kenyataan yang aku lihat. Setahuku perempuan yang kuliah pada fakultas teknik rata-rata sebelas dua belas lah dengan Zizi.


"Beneran, Mas. Ini kartu mahasiswa aku." Dia benar-benar mengeluarkan kartu mahasiswanya dan entah dengan bodohnya pula aku membuka dan membacanya.


Tiba-tiba, gadis itu mencubit daguku, dengan refleks aku menepis tangannya itu. Ini bukan lah kebiasaanku dekat dengan seorang wanita dengan berlebihan seperti ini. Saat mendekati Nesya pun dulunya hanya lah sekedar berjalan beriringan. Menggandeng tangan Nesya pun aku belum pernah.


"Maaf," ucapku melihat wajahnya yang sedikit shock melihat reaksiku.


"Maaf, Mas. Aku gemes lihat dagu mas yang seksii. Aku suka khilaf mencubit dagu yang menggemaskan seperti itu." ucapnya mengusap tangannya yang aku tepis tadi.


"Hahaha, kocak." Terdengar suara wanita yang tertawa melihat kejadian ini, siapa lagi kalau bukan Zizi.


"Mangkenye, Neng? Tangan lu tu dijaga-jaga dikit napa? Main tempel aja sama dagu orang? Apalagi dagu kulkas macam dia." Zizi beranjak dari kami. Kedua kakinya sudah terpasang kembali sepatu yang tadi dilepasnya.


"Lu pasti penasaran ingin tahu nama pria berdagu seksii ini kan? Ingat ya? Catat namamya baik-baik! Namanya Alvendra pria mesum menyebalkan seantero kampus ini."

__ADS_1


Lalu gadis itu berlalu dan pergi meninggalkan kami berdua. Sementara gadis manja bernama Monica ini menyerahkan ponselnya dengan senyum lebar di bibirnya.


"Mas Alvendraaaa, bagi kontak nya dooong. Biar aku bisa semakin sering melihat dagunya itu."


__ADS_2