Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
41. Perkara ban kempes


__ADS_3

*Hari ini Author masuk dusunnya Nesya dulu yaah ... nginap di sana, tidak ada signal. Author nolongin nengokin keluarga Nesya dan Alan dulu ... 😂😂😂 Semoga hari ini lolos kontrak. Jangan lupa beri dukungan ya Kakak semua, siapa tahu bisa mempercepat lolos kontrak dan masuk banner entry Event Lomba Rumah Tangga. Biasanya bab 20 Author udah lolos kontrak, ini udah 40, belum juga 😭😭😭. Ngenes euy, tidak ada pemasukan .... Mungkin sawer iklan dan tips bisa membantu 😂😂*


Hari ini kembali ada dana yang hilang meski jumlahnya tidak besar, tetapi ini sungguh memengaruhi segalanya bila terus dibiarkan.


Dari pada aku terus menduga-duga, lebih baik aku segera memasang CCTV rahasiaku. Tak akan ada yang tahu bahwa pajangan seperti boneka ini adalah sebuah kamera pe nga was.


Setelah itu aku segera menidurkan Elena dan menjalankan ibadah Isya. Mengerjakan tiga mata kuliah untuk esok hari. Aku tengok waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari. Sebelum tidur, aku kembali mengecek peralatan dan kelengkapan pekerjaan untuk esok hari. Aku harus masuk kuliah pagi, makanya aku harus teliti sebelum mengistirahatkan diri.


*


*


*


Keesokan hari di kampus aku langsung menggunakan waktu perkuliahan dengan sebaik mungkin. Berusaha melakukan yang terbaik, agar waktuku tidak terbuang sia-sia. Tak ada yang namanya nongkrong karena saat perkuliahan usai aku harus segera pulang.


Aku pun tak berminat mengikuti kegiatan-kegiatan kampus. Kegiatanku yang sudah sangat banyak, membuatku kelimpungan sendiri dalam membagi waktu.


Saat sampai di rumah, waktu sudah cukup sore. Aku segera menutup toko dan memandikan Elena. Setelah semua rutinitas yang dilakukan berulang dan bergulir di setiap waktunya, sepi pun melanda kembali, aku pun membuka ponsel mengecek kinerja benda yang telah aku beli ini.


Rasanya tidak mungkin menonton seluruh tayangan selama dua puluh empat jam yang terekam. Video aku percepat menujuk keesokan hari. Pergerakan video kembali kupercepat hingga tampak pergerakan yang mencurigakan.


Pada pukul sepuluh pagi, di mana semua orang sibuk menjemur pakaian, dan menyetrika, ada sosok yang datang mendekati laci tempat uang transaksi jual beli disimpan.


"Oooh, jadi dia?"


Aku pun melanjutkan aktifitas membuat tugas dan rutinitas monoton lainnya. Yaah, hanya itu yang bisa aku lalukan saat ini. Aku harus mengikuti waktu yang sudah terjadwal. Jika tidak terjadwal, semua akan kacau.


Kesokan hari kembali mengharuskan aku untuk kegiatan utama sebagai mahasiswa. Berkuliah, sambil mengurus pekerjaan, dan merawat anak sudah menjadi kesatuan yang sudah aku susun dengan epik.


Usai kuliah, aku langsung pamit pada teman-teman yang bubar usai perkuliahan. Aaah, rasanya aku ingin sekali menangkap dengan tanganku sendiri saat si pelaku memulai aksi.


Dengan sedikit berlari kecil, aku menuju area parkiran. Namun ... "Yaaah, bocor?" Roda sepeda motor bagian depan kempes.

__ADS_1


Haduuh, sepertinya rencana operasi tangkap tangan hari ini bakalan gagal. Aku terpaksa mendorong motor mencari bengkel agar bisa menambah angin atau menambal benan motor ini.


Aku masih berupaya mendorong motor ini keluar dari gerbang kampus. Karena di area kampus tidak ada jasa penambahan angin. Perjalanan dari fakultas menuju gerbang pun cukup jauh. Keringat sudah bercucuran di seluru area tubuhku.


Akhirnya aku melihat gerbang, membuatku semakin semangat dalam mendorong kendaraan ini. "Sabar Nesya ... sabar! Untung saja ini hanya kendaraan roda dua. Bagaimana nantinya kalau kamu sempat mendorong roda empat jika pada roda dua saja kamu sudah menyerah?"


Aku terus memberi semangat pada diri sendiri, tetapi sayangnya ... tak ada bengkel yang terlihat. Di bagian gerbang kampus ini hanya terlihat toko peralatan ATK dan fotokopi. Maklum lah, para mahasiswa sangat membutuhkan dua layanan ini. Satu lagi, di area ini adalah tempat berkumpulnya warung nasi, minuman, dan lainnya.


Tak satu pun bengkel yang terselip di sekitar sini. Jadi, aku harus kemana? Apakah belok ke kiri, atau belok ke kanan?


Akhirnya dengan memejamkan mata aku memutuskan memilih belok ke kanan. Semoga saja ada bengkel di sebelah sini. Aaah, aku belum hafal area kampus ini. Jadi tidak tahu bengkel terdekat berada di mana.


tiiiin


Suara klakson kendaraan tersebut mengejutkanku. Aku tengok arah belakang ternyata itu adalah Bang Alan. Pintunya pun terbuka, tetapi aku memilih untuk mempercepat langkah mendorong motor ini.


"Dek! Dek!"


Terdengar suara Bang Alan mengikuti langkahku. Kenapa dia ada si sini? Aaah, mood yang sudah buruk gara-gara tidak ada bengkel jadi semakin hancur gara-gara melihat wajahnya.


"Sayang, kamu mau ke mana?"


Aku menghentikan langkah. Itu bukan suara Bang Alan. Standar motor aku turunkan dan menoleh ke belakang. "Pak Aren?"


"Sssttt!" Telunjuk berada di bibirnya. Aku teringat, dia protes saat dipanggil Aren oleh Kak Vina. Namun, lucu juga kalau dia dipanggil Aren ... rasa manis seperti langsung melekat di lidah.


Mata ku pun berpindah ke arah seseorang yang berada di belakang dosen muda ini, di sana masih berdiri Bang Alan dengan kedua tangan berada di pinggang melirik kami dengan tajam.


"Mau ke mana dorong-dorong motor seperti ini?"


"Nyari bengkel," ucapku kembali melirik ke arah Bang Alan.


"Sini, biar aku saja yang dorong!" Pak Arendra mengeluarkan sapu tangan miliknya dan menyeka keringatku.

__ADS_1


Aku kembali melirik ke arah Bang Alan, dan dia tampak menggaruk kasar kepala dan beranjak masuk ke dalam mobilnya. Terdengar suara kendaraan dinyalakan dan mobil itu pergi meninggalkan kami.


Pak Arendra terus menekan-nekan sapu tangan dengan arah tak beraturan. Matanya, terus melihat ke arah laju kendaraan Bang Alan.


"Sudah, Pak, hentikan! Dia sudah pergi, tidak perlu drama lagi." Aku tepis tangannya yang sudah menekan bibirku dengan sapu tangan itu.


Dia terkesiap dan mengusapkan sapu tangan tersebut ke seluruh wajahku. "Hentikaaaan!" Aku dorong tangannya yang sudah ngawur itu.


"Senyum dooong! Jelek tauk!"


Aku lebarkan bibir dengan mata melotot lalu mendorong Pak Arendra untuk melanjutkan perjalanan mencari bengkel. Namun, dosen aneh ini menahanku mengibaskan tangannya.


"Kamu nyari bengkel?" tanyanya. Aku pun menganggukan kepala.


"Kenapa mesinnya gak dinyalakan saja?"


"Dulu kata Bapak kalau ban kempes kayak gini jangan dikendarai, nanti malah merusak bagian velg nya." jelasku.


"Emang kamu seberat apa bisa membuat velg motor ini rusak? Jika jalan jelek, mungkin memang akan merusak. Tapi kamu lihat sendiri kan? Jalan bagus seperti ini kamu masih bisa mengendarakan motor kempes kok."


"Aaahg? Masa?"


Pak Arendra pun menyalakan motor ini. "Aku bawa ke bengkel dulu! Kamu boleh menunggu di sana!" Menunjuk mobilnya yang sedang berdiri di seberang jalan.


"Kamu jagain! Itu gak dikunci!" Lalu dia pergi entah ke mana.


Aku yang masih mode bingung, bergerak masuk ke mobil bewarna putih itu. Mobil ini dalam keadaan mati dan semua jendela dalam keadaan tertutup. Ini benar-benar pengap gerah. Aku pun memilih untuk kembali keluar, menyandarkan diri pada pintu kendaraan ini.


tiiiiinn


Lalu sebuah kendaraan roda empat berhenti tepat di depan mobil Pak Arendra. Dari arah pintu pengendara, keluar seorang wanita yang mengenakan pakaian kerja. Wajahnya cukup familiar, dan aku mencoba mengingat siapa wanita itu.


"Kamu? Kenapa berdiri di mobil Pak Rendra?"

__ADS_1


Nah, sekarang aku ingat. Wanita ini adalah dosen fakultas lain yang mendatangi Pak Arendra waktu itu.


"Kamu? Kenapa diam saja? Kamu tidak menghargai saya ya?"


__ADS_2