
Ponselku bergetar, tengah malam saat baru tidur beberapa detik. Aku lihat pada layar ponsel tersebut tertulis nama saudara laki-lakiku satu-satunya. Tanda merah kugeser, karena aku merasa sedang tidak tertarik berbicara dengannya. Lalu pesan chat masuk, masih dari dia.
[Kamu bisa pulang kapan? Aku akan menyusun tanggal pernikahan sesuai dengan waktu kepulanganmu.]
Hah, Mas Aren mau menikah? Kenapa tiba-tiba begini? Dengan siapa? Aa, jangan-jangan ....
Aku langsung melakukan panggilan, kali ini dia yang menolak panggilanku. Aku pun mencoba menelepon Mama dan Papa, tetapi tak ada yang aktif.
Kedua orang tuaku memiliki kebiasaan selalu mematikan ponsel sebelum tidur. Jadi, aku tidak bisa mengharapkan mereka untuk memberikan jawaban atas tanda tanya yang besar di dalam kepalaku.
Rasa penasaran membuatku beralih panggilan kepada seseorang yang selalu ada di dalam pikiran. Kami memang tidak memiliki hubungan istimewa, tetapi ... Setidaknya aku merasa hubungan kami sudah lebih dari sekedar dekat.
Akan tetapi, waktu telah menunjukan pukul satu dini hari. Aku merasa tidak enak untuk meneleponnya. Hal ini menyebabkan mataku tak terpejam sepicing pun hingga azan subuh menggema.
Setelah laksanakan subuh, aku cek waktu memperkirakan apakah sudah masuk subuh untuk di sana atau belum. Ternyata masih belum.
Sebuah panggilan dari kontak yang tak dikenal, masuk dalam ponselku. Tanpa pikir panjang kugeser lambang hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
📳 "Heh, lu baru saja main-main sama gue ya? Apa yang lu lakuin pada akun sosmed gue?"
Sebuah suara dari seorang perempuan yang beberapa waktu terakhir terus saja menjadi pengacau. Tidak salah lagi, ini adalah suara Zizi.
📳 "Cepat perbaiki! Kalau tidak, siap-siap mendapat pembalasan lebih gila dari gue!"
tut tut tut
Sebelum tidur tadi, aku sempat mengerjai dia. Mengunci akun miliknya dan mengirim sesuatu untuk sekedar lelucuan.
Bukankah dia seorang hacker? Silakan mencoba untuk memulihkannya sendiri dengan kemampuannya yang sangar itu.
Aku kembali mengecek waktu, sepertinya dia sudah bangun. Aku segera mencoba melakukan panggilan dengannya. Aku takut, hal yang tadi malam dibicarakan oleh Mas Aren adalah tentang mereka berdua.
Dengan perasaan campur aduk, aku menunggu jawaban atas panggilan yang terhubung ini. Namun, panggilanku tak mendapat jawaban.
Lalu, panggilan dari kontak tak dikenal kembali masuk pada ponselku. Masih dari orang yang tadi, dari seorang perempuan tomboy bernama Zizi. Aku geser tanda hijau langsung menempelkan pada telinga tanpa mengatakan apa-apa.
📳 "Cepat kembalikan!"
"Selamat berusaha!" Panggilannya kututup.
Kualihkan pada panggilan pada ibu muda yang ada di seberang sana. Sambil menunggu panggilan masuk, ada pesan chat yang masuk.
[ Jika dalam 10 menit tidak kau kembalikan, jangan salahkan gue saat mulai bergerak.]
Panggilan di seberang pun dijawab oleh wanita itu.
📳 "Halo, Bang ... maaf ya, aku lagi sibuk siap-siap ke kampus dulu."
"Oh, ba--" Panggilanku telah ditutup oleh yang di sana.
Aku pun melihat ke arah jendela. Semburat cahaya perlahan mulai menerangi bumi. Perkuliahan pagi ini masih pukul sepuluh nanti. Sepertinya aku bisa tidur agak beberapa jam menjelang ke kampus.
*
*
__ADS_1
*
drrrrt
drrrrt
drrrrt
Ada sesuatu yang membangunkanku dari tidur yang terasa baru beberapa menit. Aku cek waktu telah menunjukan pukul sembilan pagi.
drrrttt
drrrttt
drrrrtt
Ponselku kembali bergetar. Aku lihat pada layar ponsel tertulis tanda panggilan dari Papa. Aku pun menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Pa? Tumben menelepon pada jam kerja? Oh iya, Pa. Aku ingin menanyakan pernikahan--"
📳 "Alven, kamu jago IT kan, tolong Papa .... Ada yang mengacaukan sistem IT perusahaan." Papa memotong ucapanku.
"Kacau bagaimana?"
📳 "Ada virus yang membuat sistem tak mau bergerak. Papa khawatir ada yang hacking sistem kita. Coba kamu bantu dari sana ya?"
"Aku coba dulu, Pa."
Dengan segera kubuka laptop dan masuk pada server perusahaan milik Papa. Seperti yang dikatakan Papa, sistem tidak merespon sama sekali.
Setelah itu koneksi chip segera disatukan dan bertemu lah siapa pengacau di balik ini semua. Kode pengacau itu dengan angka 2121.
"Zizi?"
Akun perusahaan Papa segera kupulihkan. Lalu memberikan serangan balik pada si pengacau. Setelah itu aku kuhubungi Papa kembali.
📳 "Bagaimana Ven?"
"Coba diakses dulu, Pa? Udah bisa apa belom?"
📳 "Masih belum ni, Ven?"
Aku lihat waktu semakin dekat dengan jadwal perkuliahan.
"Tunggu ya, Pa. Aku siap-siap kuliah dulu."
📳 " Kalau tahu akan begini, lebih baik kamu gak usah S-2 aja Ven? Kamu di sini buat bantu-bantu Papa saja di sini. Kalau begini, Papa jadi pusing kan?"
"Papa tenang saja. Aku akan membereskan semuanya. Tapi tunggu, aku siap-siap ke kampus dulu."
Papa tak tahu saja siapa di balik ini semua. Namun, jika tidak melanjutkan perkuliahan, mungkin ini tak akan terjadi juga. Aku tak akan bertemu dengan gadis tomboy itu. Sepertinya aku harus memberi pelajaran tambahan padanya.
*
*
__ADS_1
*
Aku sengaja duduk di bangku yang ada di koridor depan kelas. Dia berjalan dengan percaya diri dengan senyuman tipis di bibirnya. Aku merasa sangat gemas, tetapi kutahan.
"Jadi lu mau main-main dengan gue?"
Dia terlihat tertawa puas. "Kan sudah gue bilang, jika masih belum juga diperbaiki, jangan salahkan saat telah bertindak."
"Hmmm ... baiklah. Setelah ini jangan salah kan gue juga kalau data lu gue bocorkan pada pihak kepolisian."
"Lu pikir gue takut?" Dia berjalan mendekat dan mendorongku dengan bahunya.
Ternyata ada Gibran yang menyaksikan kami berdua. "Ah, lu sudah gue kasih peringatan. Masih saja gangguin dia. Setelah ini kehidupan lu tak akan dibuat tenang olehnya." ujar Gibran menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menjadi pemenangnya."
Usai perkuliahan dan saat istirahat siang, aku segera membuka laptop dan kembali mencoba memperbaiki settingan server perusahaan Papa.
Sepertinya dia mengubah dengan cepat settingan yang tadi. Sayang sekali saat ini posisiku jauh, jika di sana semua pasti akan beres dengan seketika. Aku mencoba menghubungi kepala IT di sana.
"Ikuti arahan saya."
Aku mengarahkan Om Jeno untuk mengikuti panduanku. Sepanjang waktu istirahat dihabiskan untuk pemulihan server perusahaan.
"Langkah terakhir ketik 'delete' setelah itu enter!" ucapku. Beberapa waktu menunggu dalam hening.
📳 "Aah ... Akhirnya sukses, Ven. Syukur lah ...."
"Coba cek lagi, Om. Apakah semua sudah oke?"
📳 "Tunggu sebentar!"
Zizi berjalan mendekat mengintip apa yang sedang kulakulan. Dia kembali tersenyum tipis.
"Bagaimana? Masih mau main-main dengan gue?"
Gadis berambut pendek itu langsung ku tarik duduk di pangkuan. Kedua tangannya ku komandoi berada di atas keyboard.
"Cepat kembalikan! Kalau tidak gue akan peluk dan cium lu dari sini, bocah pengacau," bisikku tepat di daun telinganya.
*
*
*
Hehehehe ... Lagi ... Masih ada yang mau kenalan ni kakak semua.
Author: LYTIE
Judul: Hasrat Cinta Pertama
__ADS_1