
Judul baru: TERNYATA SUAMIKU GGL
Jangan kaget nanti judul dan covernya berubah jadi seperti ini ya kak ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ Sepi banget lho cerita ini, sampai disaranin temen ganti judul dan cover. 😂
Bang Jojo sungguh keteraluan. Aku tak menyangka dia bisa mengatakan hal semua itu kepadaku. Apa aku tak cukup baik selama ini kepadanya? Namun, perasaanku juga tak enak saat melihat dia berada di balik jeruji besi.
"Ibuuuk ... Ibuuuuk kenapa pulangnya lamaaa?" Elena menyambutku yang baru saja kembali dari kantor polisi.
Aku sambut Elena yang tidak tahu apa pun mengenai masalah ini dengan pelukan. Aku bersyukur saat semua terjadi, Elena sedang asik bermain di rumah belakang.
"Maafkan Ibuk ya, Nak. Ibuk balik lagi ke sekolah." Aku belai rambut panjangnya dan dia mengangguk dengan wajah polos.
"Kak, terima kasih sudah mau mememani Elena, ya. Kalau tidak ada Kakak, aku pasti sudah sangat kebingungan." Aku kembali berdiri dan menggandeng Elena.
Kak Vina tengah bersiap mengenakan jaketnya dan menganggukan kepala. "Iya, gak apa. Bang Jojomu itu emang kudu diberi pelajaran."
"Apa Kakak sudah mengetahui semua kelakuannya?"
Kak Vina mengangguk. "Maaf ya, tidak memberitahukannya kepadamu. Aku diancam jika memberitahukannya kepadamu. Sepertinya Bang Jojo mu itu memiliki sedikit kelainan. Agak rada-rada ...." Kak Vina memutar telunjuknya dekat kepala.
"Aku tak tahu harus mengatakan apa kepada bapakku dan ayahnya nanti. Mereka pasti akan sangat marah kepadaku yang membuat Bang Jojo masuk penjara."
Kak Vina menepuk pundakku pelan. "Kamu jangan mengkhawatirkan hal yang tak jelas seperti itu. Tindakanmu ini sudah sangat tepat untuk memberikannya pelajaran. Seharusnya dari dulu kamu melakukannya."
"Kemarin-kemarin aku masih bingung harus bagaimana. Aku sendiri merasa takut jika melakukan semuanya sendirian."
Kak Vina tertawa geli beberapa saat. "Bisa jadi hari ini adalah waktu yang paling tepat kali ya? Karena ada tiga pahlawan yang datang untuk membantumu."
"Kak Vina bisa saja ...."
"Jadi mau yang mana? Balik sama mantan, atau pilih salah satu dari duo saudara?" Kak Vina terus menggodaku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. memeluk Elena dari belakang.
Kak Vina membungkukan tubuhnya berbicara kepada Elena. "Elena mau sama siapa hayo? Sama Ayah, Papa pertama, atau Papa kedua?"
Elena melirikku sejenak? Dia mungkin bingung dengan apa yang ditanyakan oleh Kak Vina. Aku juga tidak tahu apakah dia masih menyimpan memori saat masih bersama ayahnya dulu.
__ADS_1
"Udah dulu ya, aku pulang dulu." Kak Vina melambaikan tangannya.
"Sekali lagi, terima kasih banyak ya, Kak. Maaf sudah banyak merepotkan."
Dia hanya mengacungkan jempol dan berlalu menuju kendaraan yang terparkir di tempat biasa.
"Elena udah mandi, belom?"
Elena menganggukan kepala. "Tante Vina udah mandikan Eyena."
"Oh, bagus laaah." Aku pun hendak bergerak untuk menutup pintu toko. Ternyata di luar Bang Alan tengah menyandarkan dirinya di dinding toko ini.
"Kenapa belum pulang?"
"Aku hanya ingin memastikan semua dalam keadaan baik-baik saja."
"Sudah! Kamu jangan sok perhatian lagi kepadaku!"
Dia tersenyum kecut. "Baik lah, aku pergi." Dia mengintip mencari seseorang.
"Elena, Ayah pulang dulu." Dia melambaikan tangan pada gadis kecil kami. Jika dari dulu dia seperti ini kepada kami, mungkin aku tak akan pernah meminta untuk berpisah.
"Elena duduk di sini dulu ya? Ibuk mau mandi dulu sejenak."
Elena mengangguk dan aku siapkan makanan ringan agar dia bisa duduk dengan tenang saat aku membersihkan diri.
*
*
*
Huuuffftt ... langkahku terasa sangat berat setelah memarkirkan kendaraan di kampus. Aku tahu dari Lingga mengenai kehebohan yang viral akibat ada yang mengunggahnya tanpa sepengetahuan kami.
Aku lihat beberapa senior menatap tajam kepadaku. Aku hembuskan nafas secara perlahan merasa sesak. Lingga memberitahukan bahwa para fans dosen aneh itu meradang mengetahui bahwa dosen kesayangan mereka ternyata berada di tempatku.
Aku harus segera menuju ruang kuliah. Aku tak ingin melihat tatapan tajam yang terus tertuju kepadaku. Aku memilih posisi paling belakang dan duduk paling pojok. Mencari buku dan menutup kepalaku dengan benda itu sembari menunggu kedatangan Lingga.
__ADS_1
Semakin waktu kelas semakin penuh, dan dosen perkuliahan pun telah datang. Aku buka buku yang menutup kepala, tetapi Lingga memilih duduk di bangku depan. Mungkin dia tidak melihat keberadaanku. Di sebelahku duduk seorang teman pria bernama Rizki.
"Weeeh, ternyata artis yang viral duduk di sini." celetuknya kaget melihatku.
"Sssttt!" Aku beri kode telunjuk di bibir.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Katanya kamu itu pelakor yang udah merebut suami orang. Akan tetapi, kamu juga pacaran sama Pak Rendra dan hendak menikah dengannya. Jadi, berita yang benar itu yang mana?" Rizki menodongku dengan sederet pertanyaan.
"No comment!" Lalu aku membuka buku tulis untuk materi perkuliahan hari ini. Membiarkan lelaki muda bernama Rizki sibuk dengan pikirannya sendiri.
Saat perkuliahan berakhir, aku menunggu semua orang keluar dari kelas. Aku berharap Lingga mau menungguku untuk bareng pergi makan siang ke kantin.
Namun, aku kehilangan dia. Dia sudah keluar duluan bersama yang lainnya. Aku ditinggal sendirian. Aduh, hatiku ... kenapa jadi sedih begini? Barangkali dia mengiraku tidak masuk. Kucoba menghibur diri sendiri.
Hari ini, aku sendirian. Padahal pada beberapa kesempatan aku biasa melakukan semuanya sendiri. Namun, tak seberat ini. Ternyata, aku kesepian.
Aku baru menyadari saat kelas sore usai, bahwa kenyataannya Lingga sengaja menghindariku. Apa aku menyinggung perasaan Lingga? Padahal saat dia menelepon kemarin, semua terdengar terdengar baik-baik saja.
Ternyata, begini rasanya dijauhi oleh seseorang yang biasa dekat dengan kita. Apa yang harus aku lakukan untuk agar bisa berbicara kembali dengan Lingga?
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" Suara seorang pria membuatku sukses mengangkat kepala yang terasa berat semenjak tadi. Aku tengah duduk merenung di salah satu bangku di koridor kampus.
Pria itu duduk di sampingku. "Ini pasti berat untukmu?"
Aku tidak memedulikan semua berita buruk yang ada. Karena bagiku semua tak seberat masalah hidup yang pernah aku alami. Aku hanya merasa hampa dan kehilangan seorang sahabat.
"Kenapa masih diam begitu? Kamu bisa mengatakan apa pun yang kamu pikirkan."
"Bang Alven nyari Pak Aren? Aku pulang dulu." Aku bangkit dan segera menuju parkiran untuk pulang ke rumah.
"Ven? Kenapa kamu ke sini? Nyari aku?" Itu suaran Pak Arendra. Aku tidak memedulikannya dan terus berjalan menuju parkiran.
Saat sampai di parkiran, ternyata Bang Alven masih mengikutiku. "Kenapa, Bang? Bukan kah udah ketemu kakaknya?"
"Apa aku bilang datang ke sini buat mencari dia?"
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku ingin pulang bareng kamu. Aku mengecek kendaraanmu masih terparkir di sini, makanya aku cari ke dalam." terangnya.
Di belakang Bang Alven, ada Pak Arendra yang terlihat kusut.