Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-44. Tuhan tidak tidur


__ADS_3

Author suka ngantukan nulis Nesya ini, selalu jadi giliran yang paling akhir gara-gara genre paling ringan. Author nulis 2 Karya Fantasi sama-sama Sistem, 1 romansa, dan satu lagi romansa aksi di gratisan yang awalan W. Jadi, tiap nulis Nesya selalu dapat giliran paling ngantuk, dah typo parahh 🤣🤣🤣🤣 ... Jadi Author usahakan kali ini nulisnya sebelum magrib selesainya abis waktu Isya. Udah gitu, Authornya turu ... Jam 3 bangun ... Nulis Fantasi dulu, sholat subuh ... siap-siap kerja ... pulang kerja nulis lagi ... Omaigat ... Selalu begitu setiap hari ... Sampai gak masak-masak ....


Sesi curcoL selesai 🤣🤣🤣🤣🤣


ini yang romansa aksi yang aku tulis ... Siapa tau minat mencarinya ...



...****************...


Aku terbangun saat perawat pagi-pagi datang mengecek keadaan suamiku. Ia bertugas mengecek berbagai kondisi pasca operasi berat yang dijalani oleh korban kecelakaan, tentunya suamiku.


Suara alat EKG seirama dengan detak jantung suamiku dalam tidurnya yang tenang. Suara deru napas, lewat selang penggabung yang tertempel pada indera pernafasan, menambah semaraknya suasana di dalam ruangan itu, tetapi masih sanggup untuk menghipnotisku, untuk tertidur dalam puncak lelahku.


Tanganku refleks mengucek mata beberapa kali, demi memastikan kehadiran perempuan yang memakai setelah putih atas bawa. Aku pun menggenggam tangan Mas Aren untuk membisikkan sesuatu.


"Aku tinggal untuk salat dulu ya, Mas."


Aku menuju ke kamar mandi untuk berwidhu berwudhu, langsung melaksanakan kewajiban dua rakaat pada waktu Subuh. Dalam diam dan hening, meskipun perawat masih belum menyelesaikan tugasnya, aku berdoa di dalam relung jiwa yang rapuh ini, air mata pun terjatuh di atas mukena saat menengadahkan tangan memanjatkan pengharapan yang tinggi kepada Yang Maha Esa.


Beberapa waktu setelah kurasa cukup, usai hajat mengharapkan suamiku segera pulih, ternyata perawat belum usai dalam tugasnya mencatat rutin hal-hal penting atas perkembangan Mas Aren setiap tiga jam.


"Bagaimana, Sus? Kapan suami saya bisa bangun dari tidurnya ini?"


Perawat itu hanya membalas pertanyaanku dengan senyuman. Lalu ia melanjutkan pekerjaan dalam mencatat perkembangan yang sepertinya belum berubah.


"Sus, kenapa diam aja?"


"Maaf, ya Mbak ... Saya hanya mencatat apa yang diperintahkan dokter. Nanti, segala pertanyaan boleh diajukan kepada Dokter saja. Biar beliau yang menjawabnya dengan lebih akurat." Perawat pun izin pamit keluar kembali.


Aku hanya bisa menghela napas dengan panjang. Dalam hati tiada henti menghaturkan doa kepada Sang Pemberi Segala, mengharapkan suami yang sangat ia cintai segera seperti sedia kala.

__ADS_1


"Tuhan, aku yakin Engkau tak pernah tidur. Aku yakin, kami semua bisa menjalani ini semua. Aku yakin, Engkau tak akan pernah memberikan ujian melebih batas mampuku."


"Namun, hamba mengharap lebih kepada Engkau ... Kuat kan lah dia, buat lah dia menyadari bahwa ada orang-orang yang menantinya di sini. Buat lah dia kembali ke sisi kami."


"Apakah hamba terlambat, jika berjanji akan menjadi istri yang baik baginya? Semoga hamba tidak terlambat. Karena aku tak yakin sanggup bila itu terjadi." Aku tiada henti menangis menggenggam tangan suamiku.


Tadi malam, karena hanya satu orang yang boleh mendampingi pasien, aku meminta mertua dah Bapak untuk pulang.


Mertuaku telah kembali, tetapi Bapak tidak mau saat aku minta untuk pulang saja. Bapak mengatakan, tidur di mushola yang kebetulan cukup dekat dari ruangan suamiku ini. Dengan harapan, jika aku tidak sanggup, Bapak yang akan menggantikanku dalam menjaga Mas Aren.


Aaah, kenapa aku hanya bisa menyusahkan mereka saja? Seharusnya, setelah berkuarga begini aku bisa melepaskan mereka dari jerat derita. Namun, yang ada hanya menyusahkan dan menyusahkan saja.


Aku pun melangkah kan kaki ingin melihat keadaan Bapak. Semoga Bapak baik-baik saja. Mushola berada tidak jauh dari kamar suamiku. Perlahan aku buka pintu mushola yang sepi itu.


Bapak terlihat sedang membaca Al Quran dan aku memilih untuk tidak mengganggu, merebahkan diri demi meluruskan rasa lelah di tubuhku barang sejenak.


Meskipun bahu dan pinggang terasa pegal, tetapi kali ini harus aku abaikan. Dalam posisi tidur terlentang, aku mengusap perut yang belum terbentuk sama sekali.


"Sayang-Sayang Ibuk, kalian jangan lupa doakan Papa ya? Doakan Papa untuk segera sembuh. Kita semua berkumpul dalam suasana bahagia."


"Bapak baik-baik saja kan? Apa nyaman tidur di sini? Banyak nyamuk nggak?"


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan Bapak. Bapak ini masih cukup muda jika di tempat ini. Bahkan, nyamuk di dusun kita jauh lebih besar dan banyak dibanding di sini." Bapakku tersenyum Tahun ini umurnya baru mencapai 38 tahun. Sedikit lucu sih memang, jika tidak kuat tidur di mushola yang tidak buruk ini.


"Syukur lah, jika Bapak baik-baik saja."


"Bapak seperti dianggap terlalu tua saja? Yang tua itu mertua kamu," canda Bapak. Aku tahu, Bapak mencoba menghiburku, akan tetapi, sepertinya aku belum mampu untuk tersenyum, kecuali suamiku benar-benar telah kembali seperti biasanya.


"Apa kamu sudah lapar? Bapak akan mencarikan sesuatu untuk mengisi perutmu. Jika segera diisi, biasanya nggak akan mual."


Aku menganggukkan kepala dengan cepat. Aku dan anak-anak yang berada di dalam rahim ini harus kuat. Semoga saja tidak seperti kemarin. Kemarin perutku kosong terlalu lama. Sekarang tidak boleh! Suami sedang membutuhkanku untuk ada di sampingnya.

__ADS_1


Oleh karena itu, apa pun yang ditawarkan harus aku terima.


Bapak pun mencoba keluar dari area rumah sakit, sementara aku kembali ke ruang rawat intensif tempat suamiku dirawat. Aku duduk pada bangku kosong tepat di samping brangkar.


Tangannya yang masih terikat selang infus, kembaki aku genggam dan aku cium. Bagian kepalanya, penuh dilingkari oleh perban. Bagian lehernya, diberi bantalan untuk penopang, karena bagian juga mengalami cidera usai terhempas di atas aspal.


"Mas, bangun lah! Bangun lah demi anak-anak kita. Bukan kah kamu selalu mengatakan ingin segera memberikan Elena seorang adik? Namun, ternyata ... kamu malah memberi Elena dua adik sekaligus."


"Jadi, kamu harus bangun untuk kami berempat, Mas. Sadar laah ..."


*


*


*


Tiga hari kemudian, di saat pagi hari aku dibangunkan oleh suara mesin EKG yang tidak seirama seperti biasanya. Aku langsung tersadar melihat grafiknya tidak normal.


Mas Aren mengalami kejang. Tubuhnya naik turun bergetar di atas brangkar. "Mas ... Mas ...?"


Aku segera berlari keluar menuju stand Nakes yang piket. "Dokterr, susteeer ... Tolong suami sayaaa ... Toooolong ..."


Dokter dan Perawat, segera bangun dari tidurnya, bergesa menuju ruang suamiku dirawat. Kali ini aku tidak boleh masuk, hanya diperbolehkan menunggu di luar ruangan.


Bapak pun tergopoh keluar dari mushola terlihat panik ....


...****************...


Ayooo..mampir juga pada karya sahabat Author yaaah ... Kuy .. Cekidot


Napen: sendi andriyani

__ADS_1


Judul: Hasrat Satu Malam With Hot Daddy



__ADS_2