
"Maaf, a-aku tadi mau ...."
Kantong-kantong yang berceceran itu segera aku angkat. Aku hela napas panjang supaya emosiku tidak meledak dengan begitu saja. Aku perhatikan pekaian-pakaian tersebut, sudah tersegel dengan rapi.
"Sayang, maaf ya?" sesalnya.
Oke Nesya, dia itu berusaha menolong istrinya. Aku harus segera mengembalikan kewarasan. Aku usap tangannya yang kaku.
"Aku juga minta maaf ya, Mas?"
Sebelum memindahkan ke dalam rak, aku mengecek kerapian pakaian itu terlebih dahulu. "Ini oke." Pakaian itu pindah ke dalam rak.
Selanjutnya, aku melakukan hal yang sama berulang kali. Jika pakaian yang ada lecek lumayan parah, harus aku sortir dan disetrika ulang. Apalagi pakaian kerja dari pelanggan.
"Sepertinya aku harus segera menyetrika ini terlebih dahulu, keburu dijemput oleh pemiliknya. Kamu tunggu di sini sebentar ya?"
Tanpa pikir panjang aku segera menyetrika ulang pakaian tersebut. Ada tiga kantong pakaian yang mesti dirapikan kembali. Pakaiannya menjadi berkerut karena penyegelannya kurang kencang. Jumlah pakaiannya tidak banyak, jadi langsung loyo saat ia jatuh.
"Lama amat, Mas?"
Dari arah luar tersengar bentakan seorang pria. Aku matikan dulu kontak setrikaan itu, dan segera mengecek ke bagian depan. Suamiku terlihat meraba-raba rak.
"Ada apa, Bang?"
"Ini, Mas nya lama sekali mencarikan pakaianku," ucapnya dengan wajah kesal.
"Oh, maaf ya Bang. Suami saya memang belum terbiasa dengan pekerjaan ini. Jadi masih belum hafal posisi-posisinya." Aku tengadahkan tangan. "Mana resinya?"
Ia menyerahkan dan ternyata belum dibayar, dan tanpa uang muka. "Oh, yang ini sedang saya setrika, Bang. Tunggu sebentar ya?"
Ia melihat arah jam tangan dengan mendengkus. "Gimana sih? Katanya sudah bisa dijemput siang? Ini sudah mau sore masih belum beres juga."
"Maaf ya, Mas, atas kelalaian kami. Mohon tunggu sejenak, duduk di bangku di sana. Ini akan segera saya bereskan."
"Dasar, laundry tidak berkompeten," dengkusnya.
Aku hanya bisa mengelus dada, meski rasanya mulut pria muda itu ingin aku sumpal dengan rawit setan.
"Apa lihat-lihat? Cepat kerjakan!" bentaknya menatapku dengan mata tajamnya.
"Eh, Bang! Bisa sabar nggak?" Suamiku mulai turut tangan.
__ADS_1
Aku segera menahan Mas Aren, mengusap lengannya agar tidak usah meladeni dia. Aku pun segera ke belakang melanjutkan pekerjaan yang hampir rampung.
Dengan segera aku masukan pakaian yang hanya tiga lembar itu ke dalam kantong, dan menyegelnya dengan rapi. Dengan gerak cepat aku menuju ke bagian depan dan memasukkan ke dalam kantong laundry.
"Bang, ini sudah selesai. Yang ini kan pakaiannya?" Dia mengecek isi kantong dan menghela napas kasar.
"Iya!" Dia menarik bungkus baju tersebut dengan kasar lalu pergi.
"Bang?" Aku panggil kembali. "Mungkin Abang keluapaan sesuatu."
"Apaan?"
"Bayarannya?" ucapku.
"Aku tidak akan membayar. Aku membaca moto pelayanan pada laundry ini, 'Jangan bayar kami, jika Anda merasa kecewa.' Saya merasa sangat kecewa. Saya tidak akan membayar pekerjaan kalian yang tidak kompeten ini."
Suamiku terlihat tidak menerima alasan tersebut. "Tapi—"
Aku rangkul kembali lengannya. "Nggak apa, Bang. Hari ini kami memang lalai. Abang boleh pergi tanpa membayar kami." Lalu dia pergi memunggungi kami.
"Maafkan aku ya? Aku malah menyusahkanmu," sesal suamiku.
Aku mempercepat langkah dan menyelesaikan pekerjaan dengan secepat yang aku bisa. Aku tidak ingin hal yang sama terulang kembali.
Setelah usai, aku bungkus pakaian-pakaian teesebut dengan cepat. Beruntung belum ada yang datang menjemput laundryan mereka.
"Aku sudah selesai, Sayang."
"Apa aku pindah ke atas saja? Bukannya membantu, aku malah menyusahkanmu." sesalnya.
"Tidak apa, Mas. Kapan lagi kita bisa quality time kayak gini? Kalau tidak bekerja, ada Elena nyempil kebersamaan kita. Aku juga senang bisa berduaan begini denganmu. Hanya saja, jangan lebay-lebay gitu. Nanti semua anggota yang bekerja mengundurkan diri karena tidak kuat melihat kebersamaan kita yang meresahkan."
"Mereka nggak akan cemburu kok, kalau kita mesra-mesraan. Aku juga menyesali di mana waktu untuk kita berdua terasa sangat sedikit. Nanti kalau dua jagoan Papa lahir, malah makin nggak ada waktu dong?" ucap suamiku.
"Pasti dong. Siap-siap direcokin tiga bocah yang ingin diperhatikan." tambahku.
"Nggak apa, enak rame-rame. Kalau perlu tiap tahun kita menambah adik buat Elena."
"Diiih, enak bener ngomong yaa? Jangan-jangan ini yang tadi mau kamu katakan?" Aku tarik pipinya karena merasa sangat gemas dengan keinginannya.
Makin sore, pelanggan pun berdatangan, baik yang mau menjemput pakaian, maupun yang ingin memasukkan pakaian kotor.
__ADS_1
Saat semua karyawan telah pulang, aku pun ingin menutup toko. Akan tetapi ada satu pelanggan perempuan dengan wajah garang yang datang marah-marah membawa bungkus kresek dengan pakaian yang sudah lecek.
"Nesya, sepertinya kamu sudah bosan ya membuka laundryan ini?" bentaknya.
"Maaf, Bu? Ada yang bisa saya bantu? Apa ada kendala dengan pakaian yang dijemput?"
Dengan beringat ia mengeluarkan pakaian-pakaian dari dalam kantong tersebut dan melemparnya ke wajahku. "Kamu sengaja ya mengganti pakaian mahal saya dengam pakaian-pakaian gembel ini?"
"Maksud Ibu, apa?" Aku menarik kembali pakaian dengan aroma berbeda dengan parfum laundry di tempat kami ini.
"Masih nanya? Itu bukan pakaian saya! Nggak level lah! Cepat membalikan lagi mana pakaian saya! Pakaian saya itu mahal! Produk import! Nggak banget sama baju jelek ini!" kesalnya.
"Kalau boleh tau coba saya cek dulu ya, Bu?" Aku menengadahkan tangan ingin mengecek ulang resi pengambilan.
Lalu aku bandingkan dengan resi yang ada di dalam kantong. "Lho? Ini kan sama, Bu, namanya?"
"Tapi ini bukan pakaian saya! Cepat carikan kembali!"
Aku pun mencoba mengeluarkan beberapa bungkus pakaian yang masih tersisa. "Coba Ibu cek! Yang mana pakaian Ibu di antara ini semua?"
Lalu ia memeriksa dengan teliti. Beberapa saat kemudian dia menyudahi pengecekkan. "Tidak ada pakaian saya di sini! Jangan bilang pakaian saya ketukar dibawa pulang sama orang?" tekannya lagi.
"Maaf, ya Bu. Mohon tunggu sebentar. Saya akan mengecek kembali pelanggan yang membawa pakaian keluar hari ini."
Aku pun mencoba menghubungi satu per satu pelanggan. Namun, tak ada yang mengaku salah bawa.
"Maaf, Bu. Apa Ibu yakin ini bukan pakaian Ibu?"
"Apa maksudmu?"
"Pelanggan yang lain tidak ada yang merasa salah membawa pakaian. Entah mereka yang tidak jujur, atau mungkin Ibu yang tidak jujur kepada kami?" ucapku berusaha setenang mungkin.
"Jadi kamu tuduh saya berbohong? Jadi kamu tidak mau mempertanggungjawabkan kesalahan yang udah kamu buat ini?" Makin lama, suara ibu itu semakin tinggi.
"Maaf ya, Bu. Jika tidak ada bukti begini saya juga bingung. Bukan saya menuduh, hanya saja tidak ada yang mengatakan bahwa pakaian mereka tertukar." ucapku dengan tenang.
"Jadi sebenarnya Ibu ke sini mau apa?" Mas Aren tiba-tiba ikut masuk menengahkan keadaan.
"Jika pakaian saya salah, ya mesti ganti dong. Pakaian saya itu mahal! Satu lembarnya aja di atas satu juta! Itu ada lima lembar! Tinggal kalian kalikan buat ganti rugi!" bentaknya lagi.
"Bu ... Ibu sudah tau belum hukum bila Ibu melakukan black campaign kayak gini pada perdagangan seseorang?" tanya suamiku dengan tegas.
__ADS_1