
Hrusnya aku tidak mudah tersulut dengan kecemburuan yang tak berarti itu. Akan tetapi seperti kata orang, cemburu itu lambang dari cinta. Ya, aku sangat mencintai suamiku, Mas Aren.
"Buk, kalau setiap hari Ibuk di rumah, Elena senang sekali. Kita bisa bermain dengan sepuasnya." ucap Elena sambil menggendong boneka yang dibelikan suamiku untuk dia.
"Jadi Elena lebih suka kalau Ibuk di rumah saja?"
Gadis kecil itu mengangguk mantap. "Elena jadi bisa lihat Ibuk seharian. Elena kan suka kangen kalau Ibuk tidak ada."
"Tapi kan Ibuk cuma sebentar perginya."
Gadis itu memasang muka bebek membulatkan bibirnya yang mungil. "Elena suka kangen sama Ibuk. Mama temen-temen Elena semuanya di rumah aja. Elena juga pengen punya Ibuk yang di rumah aja." rajuknya.
Hatiku berdesir sedih mendengar ucapan anakku ini. Di usianya yang masih belia ini, pasti sulit baginya jika aku jarang sekali duduk menemaninya.
Apa benar kata mertuaku? Aku harus berhenti dengan kesibukan ini? Rasanya sayang sekali jika aku harus berhenti di tengah jalan seperti ini. Aku tatap kembali wajah gadis kecil ini, tahun depan dia sudah mulai sekolah. Semakin lama, tentunya dia akan semakin besar, dia akan sibuk dengan dirinya sendiri, dan mungkin suatu saat nanti dia akan jarang di rumah dengan segala kegiatan yang dia punya.
Namun, apa benar berhenti kuliah adalah solusinya?
"Buk, sekarang Ibuk masih sakit?" Elena memijit-mijit tanganku dengan jemari-jemari kecil itu.
"Ibuk tidak sakit kok, Sayang. Ibu kan hebat." Aku tak ingin membuatnya merasa khawatir dengan apa yang terjadi pada diriku. Aku harus bisa menjadi wanita yang paling kuat untuknya.
"Tapi, ini apa?" Elena menunjuk bahuku yang dililit oleh perban. Ini gara-gara begal kemarin, ah ... sebuah kesialan karena aku yang tidak mau mendengar suami.
"Ibuk sedang main dokter-dokteran, jadi Papa yang jadi dokter, Ibuk jadi pasien. Nanti Papa yang bantuin Ibuk buat ngobatin luka ini."
Mata dan mulut Elena membulat. "Waaah, Elena juga mau, Buk. Elena jadi yang enjus ... enjus suntik-suntiknya ya?"
"Jangan dong, Sayang. Nanti Ibuk sakit kalau disuntik?"
Ternyata Elena sudah membongkar peralatan dokter-dokteran yang dimilikinya.
*
*
*
Sesaat setelah Elena tidur, Mas Aren menyandarkan diriku pada dadanya sembari memainkan rambutku. Aku berusaha bangkit meski bahu masih terasa ngilu.
"Sayang ...." Aku dan Mas Aren serempak mengatakannya.
__ADS_1
Suamiku menengokku sejenak. "Coba kamu duluan, kamu mau mengatakan apa?"
"Kamu juga mau mengatakan apa, Mas?" tanyaku.
"Coba kamu duluan!" titahnya.
"Kamu aja duluan, Mas!" pintaku.
Lalu kami sama-sama hening sejenak. "Aku mau berhenti—" kembali kami mengucapkannya dengan serempak.
Lalu wajah kami sama-sama mengerut karena ucapan yang serentak barusan. "Mau berhenti?" sekali lagi kami mengucapkannya dengan serentak.
"Coba kamu yang duluan!" titahnya kembali.
Akhirnya aku mulai menceritakan akan harapan yang diinginkan oleh Elena. Aku menyampaikan hatiku begitu terenyuh dengan apa yang disampaikan oleh anakku tadi siang. Mas Aren mendengarnya dengan seksama tanpa menyelanya sedikit pun.
"Bagaimana menurutmu, Mas? Apa aku berhenti saja?"
Mas Aren terlihat berpikir dengan sejenak. "Wah, sayang juga jika kamu tidak menyelesaikan perkuliahanmu, Sayang. Sedikit lagi kok, kamu bisa mendapat gelar sarjana."
Hmmm, ternyata tidak seperti apa yang aku duga. "Apa kamu malu memiliki istri yang cuma tamatan SMP, Mas?"
Dia langsung gelagapan. "Bukan begitu, Sayang. Hanya saja setidaknya kamu bisa membuktikan kepada orang-orang yang katanya menghinamu dulu, bahwa kamu bisa seperti mereka, bahkan lebih."
Benar juga apa yang dikatakan suamiku. Dulu aku ingin sekali membuktikan bahwa aku bisa. Namun, aku pandangi kembali gadis kecil itu yang tidur dengan lelapnya.
"Aku kasihan pada Elena."
Mas Aren pun terdiam dan mulai merasa bingung juga. Masalah anak memang tidak akan pernah usai jika belum juga menemukan solusinya. Aku menyandarkan diri kembali pada dada suamiku ini. Ini sungguh sangat menenangkan.
"Sekarang giliranmu, Mas. Kamu mau mengatakan apa tadi ya?"
Mas Aren kembali berpikir, dia terlihat sedikit salah tingkah. "Bagaimana menurutmu jika seorang suami tidak bekerja?"
Kenapa pertanyaan itu membuatku de javu pada masa lalu ya? Refleks aku meninju kasur, tiba-tiba emosiku langsung naik ke atas kepala.
Mas Aren menggaruk pelipisnya melihat reaksiku yang mungkin dianggapnya sangat tidak terduga. "Reaksimu sungguh sangat di luar dugaan."
"Aku teringat akan masa lalu, Mas. Siapa suami yang tidak mau bekerja itu? Aku akan menjadi orang yang nomor satu untuk menyuruhnya menceraikan suaminya itu."
Saking menggebunya, aku sampai menunjuk ke atas langit-langit rumah ini karena saking kesalnya. "Cukup aku saja yang mengalami itu semua, karena pria malas itu pasti semuanya sama."
__ADS_1
Mas Aren terlihat menciut entah kenapa. Ia terdiam dan memilih merebahkan diri lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Aku bagai merasa ditonton oleh cicak, dan mereka seperti menertawakanku, aaahh ... kok aku merasa dikacangi ya?
Selimut itu aku tarik dan semangat 86 aku gelitik suami yang tidak tahu kenapa seperti merajuk karena reaksi refleks ku tadi.
"Maaas, kamu kenapa?"
Aku tarik tangan suamiku itu di bagian yang tidak terluka. Dengan perasaan malas dia melihatku lalu membuang muka.
"Kamu kenapa?" Aku ulangi kembali pertanyaan yang belum mendapat jawaban.
"Jika aku yang menjadi suami malas itu gimana?" gumamnya hampir tak terdengar olehku.
Setelah aku cerna kembali ucapan pelannya itu aku tarik ia hingga benar-benar dekat denganku. "Coba ulangi? Jadi kamu tidak bekerja lagi? Kamu dipecat, Mas? Apa ASN bisa dipecat?" Mulutku begitu saja menodongnya dengan sejuta pertanyaan heran karena pertanyaannya barusan.
Dia menundukkan kepala dan menggeleng sejenak. Mas Aren tidak mengatakan apa pun. Tingkahnya ini tentu membuatku merasa gemas dan kesal.
"Ayo lanjutkan lagi! Aku kan bingung kalau ceritanya sepotong-sepotong begitu?"
Lalu suamiku mengutarakan keinginannya untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya yang sekarang. Dia mengatakan bahwa suasana di dunia kerjanya saat ini terasa sangat tidak nyaman. Dia merasa segala yang dilakukan saat ini menjadi sorotan.
Aku paham bagaimana suamiku yang sedikit introvert. Dia bukan tipikal yang nyaman jika disorot seperti itu kecuali di saat dia harus mengajar. Jika disorot oleh orang-orang satu profesi dengan tanggapan negatif, tentu rasanya sangat terbebani.
Air mataku menetes dengan sendirinya mengingat segala masalah yang dialaminya saat ini adalah karena ulahku. Jika saja dia tidak mengenalku, mungkin dia tidak akan mengalami masalah seperti ini.
Aku peluk dirinya, aku menangis terisak di dadanya. "Maafkan aku, Sayang. Sepertinya hidupku hanya terus memberimu beban."
Mas Aren mendorongku menarik dagu agar melihatnya dengan lurus. "Jika kamu tidak suka aku menganggur, aku akan membatalkan niatku." Mas Aren membelai rambutku.
Ah, seharusnya aku yang menenangkan dirinya, membesarkan hatinya, tetapi malah membuatnya bersedih seperti ini.
"Aku bukan tidak suka kamu nganggur, Mas. Hanya saja aku mengalami trauma gara-gara suami tidak mau bekerja. Namun, jika kamu memang sudah tidak kerasan lagi bekerja di sana, aku akan mendukung segala keputusanmu."
Aku tidak tahu reaksi seperti apa yang digambarkan suamiku pada wajahnya. Karena aku sedang menyembunyikan wajahku yang penuh air mata di dalam dada bidangnya.
"Maafkan aku, Sayang. Mungkin aku yang terlalu berlebihan. Karena di mana-mana dunia kerja pasti ada plus dan minusnya. Tinggal pribadi masing-masing yang menemukan solusi yang terbaiknya."
"Sepertinya, aku tidak bisa berhenti. Aku tak akan membiarkan istriku bekerja mati-matian demi aku dan keluarga kita nantinya."
"Semoga masalah ini bisa segera berlalu." bujuknya kembali.
__ADS_1
Lagi dan dia lagi yang membujukku. Sepertinya aku memang hanya lah seorang istri yang tidak berguna dan bodoh.
"Mas, jika kamu memang merasa sangat tidak nyaman, bagaimana kalau kita sama-sama berhenti saja dari sana? Kamu berhenti sebagai dosen, sedangkan aku berhenti menjadi mahasiswa?"