
Bang Jojo mengambil gelas kopi tadi dan menyiramkannya pada Pak Arendra. Pria yang tadinya duduk dalan keadaan bingung melindungi dirinya menggunakan siku. Beruntung menggunakan jaket kulit yang bisa melindungi dirinya.
"Bang! Kau ini sungguh keterlaluan!" Aku dorong Bang Jojo keluar dari beranda rumah.
"Kau ini sungguh tak tau diri! Sudah untung ditolong malah memenjarakan aku! Kau harus merasakan hukuman yang setimpal!"
Bang Jojo bersiap melayangkan pukulannya kepadaku. Pak Arendra menahan pukulan sepupuku ini. Bapak pun memisahkan kami dan berdiri di tengah.
"Pak Cik, meskipun Pak Cik adik dari ayah, aku tak akan segan-segan pada Pak Cik. Aku anggap hubungan darah di antara kita telah putus."
"Bang, apa kau lupa semua ini salahmu sendiri?"
Bang Jojo kembali mencoba mengejarku dengan wajah amarahnya. "Baru selembar dua lembar begitu saja kuambil, kau sudah perhitungan."
"Itu jerih payah, Bang! Bukan uang yang jatuh dari langit. Belum lagi membayar gaji karyawan, dan pencurian itu kau lakukan tidak hanya satu atau dua kali! Tiap hari! Berapa uangku yang sudah kau ambil?!" Aku tantang wajah beringasnya itu.
"Sudah! Sudah! Tkdak baik bertengkar seperti ini. Kalian ini saudara, harusnya saling bersatu." Bapak kembali berusaha melerai pertengkaran kami.
"Kamu mau saya penjarakan lagi?" Pak Arendra menarikku dan berdiri tepat di hadapan Bang Jojo.
"Kamu akan mendapat pasal berlapis karena hal ini. Pertama sudah mengganggu ketenangan orang lain, kedua melakukan penyerangan dengan menyiram saya dengan air panas, ketiga karena sudah tidak tahu diri melakukan pencemaran nama baik. Semua yang kamu lakukan hari ini sudah saya rekam dengan ponsel ini, dan bersiaplah untuk mendekam dalam penjara untuk kedua kali!" ucap Pak Arendra tak putus sama sekali.
"Kaaau!" Jang Jojo semakin naik pitam mencoba merebut ponsel milik Pak Arendra. Ponsel tersebut berhasil direbut dan dibanting dengan sangat kuat.
braaaakk
Ponsel tersebut langsung retak dan mati. Pak Arendra mengeluarkan sapu tangan memungut dan mencoba menghidupkannya kembali. Akan tetapi, ponsel tersebut tidak bisa menyala lagi.
"Sepertinya dengan ini, sudah cukup menjadi barang bukti. Pasal tambahan karena sengaja merusak benda milik orang lain."
Bang Jojo terlihat semakin frustrasi. Menggaruk kepalanya mulai mundur perlahan. "Awas Kau!"
"Bersembunyi lah! Esok atau lusa saya pastikan polisi akan menangkapmu!" ucap Pak Arendra dengan tenang.
Bang Jojo berlari menjauh sambil menujuk ke arah kami semua. Aku pun mendekat dan mengecek keadaannya. "Coba buka jaketnya."
"Kamu jangan khawatir! Aku baik-baik saja."
Aku menariknya untuk kembali duduk memaksa melepas jaket. Segera kuperiksa keadaannya dan bersyukur tak ada bekas yang berarti.
"Bagaimana keadaanmu, Rendra?" tanya Bapak.
"Saya tidak apa, Pak." ucapnya sedikit canggung.
__ADS_1
"Apa benar kamu akan melaporkan Jojo?" ucap Bapak dengan wajah lesu.
Pak Arendra tersenyum tipis. "Tidak."
"Terus, kok ngancam-ngancam gitu?" tanyaku merapikan keadaan yang sedikit kacau karena ulah Bang Jojo.
"Hanya sekedar gertakan. Dia sudah merasakan dunia di balik jeruji. Bila diancam demikian, pasti akan merasa takut untuk kembali."
Aku yang tadinya merasa cukup tegang, sedikit bernafas lega. Setidaknya, untuk sementara waktu Bang Jojo mungkin tidak akan berani muncul. Bapak pun terlihat sedikit lega, karena Mak sempat bercerita hubungan Bapak dan kakaknya sedikit renggang karena masalah tersebut.
Setelah beberapa waktu hingga situasi lebih tenang, aku membantu Mak memasak di dapur. Memasak menu seadanya yang tersedia. Bukan karena tak mampu, tetapi memang itu yang ada di desa ini.
Kebetulan sekali sedang musim peralihan, hingga bapak bisa mendapat ikan yang cukup banyak di irigasi sawah menggunakan bubu. Ikan kecil yang masih segar digoreng dengan bumbu yang sangat sederhana. Sementara nasi yang ditanak pun adalah hasil panen dari sawah sendiri.
Aku melihat Pak Arendra menyantap makanan sederhana ala dusun ini. Dicampur dengan rebusan pucuk ubi dan sambal terasi, begitu lahap disantap berkali-kali masuk ke mulutnya.
"Pak, doyan apa lapar?" ucapku. Namun, Mak menepuk tanganku memberi kode untuk tidak usah berkomentar.
Mungkin karena perjalanan berat, ditambah udara sejuk dusun ini membuat selera makan pria yang selalu menolongku menjadi meningkat. Atau bisa jadi karena tidak pernah menyantap menu sederhana seperti ini. Seperti yang diucapkannya, ibunya di rumah tidak pernah memasak.
Usai makan, Bapak kembali mengajak untuk berbicara dengan serius. "Bagaimana Nesya? Bapak rasa kamu sudah memikirkan dengan matang jawaban dari keinginan Rendra untuk menikah denganmu."
Aku lihat kembali ke arah Pak Arendra, netra tersebut tak henti terus menatap menanti jawaban dariku. Hmm, apakah aku bisa mencoba dulu? Namun, aku takut bila kembali gagal dalam pelayaran berikutnya. Elena sudah bisa berpikir. Aku khawatir jika ....
"Hmm," kupandang wajah Pak Arendra. "Hmmm ... bagaimana ya? Aku rasa jika langsung menikah pasti akan--"
"Aku yakin pasti sangat indah." sela Pak Arendra tiba-tiba.
Mak dan Bapak terlihat menahan senyum karena reaksi spontan dari Pak Arendra. "Jadi merasakan indahnya pacaran setelah menikah kan?" Bapak mulai menggodaku.
"Iya, sepertinya pacaran setelah menikah lebih menarik. Karena akan banyak kejutan yang tidak diketahui sebelumnya." tambah Pak Arendra masih tidak berkedip.
"Kenapa Bapak seyakin itu?"
"Kok panggil begitu? Panggilan yang lebih mesra dong," canda Mak ikut menggodaku.
"Tidak apa Mak, itu adalah panggilan mesranya untukku." Pak Arendra turut serta menggodaku.
"Jadi bagaimana Nesya? Apa kamu menerima dia?" Bapak kembali ke intinya.
Aku lihat ke arah Mak, ternyata Mak mengangguk tanda setuju. Kulihat arah Bapak, tak ada isyarat yang terlihat. Kulihat Pak Arendra, dia mengangguk dengan senyum di bibirnya.
"Apa Bapak mau menerima Elena?"
__ADS_1
"Menurutmu selama ini bagaimana?"
Dia memang terlihat sangat dekat dengan Elena. Namun, apakah itu sudah cukup?
"Jangan lama-lama! Bukan kah Pak Kades sudah menunggu kalian. Kalau Juned tidak mau menyerahkan tanahnya, biar satu petak sawah yang paling besar milik kita saja untuk sekolah nanti."
"Benar kah, Pak?" Bapak memberikan kejutan luar biasa kepada kami.
"Iya, semoga masa depan anak-anak dusun kita bisa lebih baik lagi ke depannya."
Aku langsung memeluk Bapak dan Mak. "Terima kasih, Pak ... Mak."
"Jadi bagaimana denganku?" Pak Arendra masih menunggu jawaban.
"Baik lah, Pak. Mari kita coba pacaran setelah menikah."
*
*
*
Setelah memberikan informasi kepada Kades, dan meminta Kades untuk menyiapkan pembangunan sekolah sederhana, aku meninggalkan sejumlah uang memercayakan segalanya kepada pimpinan desa ini.
"Aku harus mencari uang yang banyak dulu, Pak. Agar sekolah ini bisa digunakan tahun ajaran baru nanti. Jadi, anak-anak tamatan SMP nanti bisa jadi siswa pertama sekolah baru di desa kita."
Sebuah genggaman tak pernah lepas dari tanganku. Dia terlihat tersenyum menganggukan kepala mendukungku.
"Kami akan mencarikan kepala sekolah juga untuk sekolah ini. Agar, segala prosedur administrasi yang dibutuhkan segera terpenuhi, sebagai syarat utama pengadaan sekolah yang baru," ucap Pak Arendra ... aah, calon suamiku ini.
*
*
*
Ayo Kak ... mampir di karya sahabat Author yang lainnya 😇
Napen: St. Nurul ng
Judul: Gelora Noda & Cinta
__ADS_1