
Diam-diam aku mengikuti suamiku yang berjalan menuju pada kendaraannya. Aku bersiap untuk membuka pintu penumpang di saat ia telah membuka kunci mobilnya.
Namun, dari arah belakang aku melihat kendaraan angkot terlihat tidak terkendali melaju dengan kecepatan tinggi. Aku sudah berlari berusaha mengejar suamiku dan akan menariknya menjauh.
"AWAAAAS!" Ada yang menahanku dari belakang.
Braaaaaakkk
Namun ternyata aku terlambat. Kendaraan itu menabrak suamiku hingga membuat pintu mobilnya terlepas dan suamiku terpental tepat di kakiku.
"Maaaas? Maaas?"
Aku segera menaikkan kepala suamiku yang mulai mengalirkan daraah segar. Aku merobek kemeja Mas Aren untuk menutupi bagian luka di kepalanya akibat benturan ke aspal.
"Tolooong! Tolooong panggilkan emergency!"
"Tooooloooong! Siapa pun tolong akuu!"
Tak ada lagi yang bisa aku perbuat selain berteriak tak jelas. "Siapa pun, toolong suamiku!"
Sebuah kendaraan pick up berhenti dan pengemudinya turun. "Mari Mbak, naik sini saja! Kalau menunggu ambulance, pasti akan lama."
Aku mengangguk setuju, dan membiarkan orang-orang itu mengangkat tubuh suamiku.
"Papa! Paaaapaaaa! Paaaapaaaa!" Elena teriak-teriak menangis ditahan oleh bapakku.
Aku tidak tahu lagi, yang penting suamiku harus segera ditangani. Aku naik terlebih dulu ke atas pick up, dan menempatkan kepala Mas Aren dalam pangkuan.
"Maaas, seharusnya aku tidak meminta banyak hal tadi kepadamu. Maaas ... Kamu harus bangun! Maaassss!"
Bapak, dan Elena turut naik ke atas pick up ini. "Mak mau mengambil benda-benda penting yang ada di dalam mobil dulu! Nanti Mak akan membawa pulang, dan membawa peralatan dari rumah."
Aku hanya mengangguk, aku tidak tau lagi dengan hal lain. Yang aku inginkan hanya lah keselamatan suamiku.
__ADS_1
"Papaaaa! Paaaaapaaaa!" Tangisan Elena terus menemani perjalanan ini.
Aku tak menyangka satu kebahagiaan sederhana yang aku rasakan berakhir begitu cepat. Hanya dalam hitungan menit, tidak ... tapi hanya dalam hitungan detik, semua kebahagiaan itu memudar begitu saja.
Tanganku masih menahan aliran darah yang terus mengalir pada kepala bagian belakang suamiku. 'Ya, Allah ... Jangan Engkau buat mimpi burukku menjadi kenyataan.'
Apakah aku boleh berdoa seperti itu? Mimpi buruk itu kembali menghantuiku. Aku hanya bisa menciumi suamiku yang tidak berdaya itu.
"Maaas, kamu harus bertahan. Jangan tinggalkan aku!"
Setelah beberapa waktu perjalanan yang terasa panjang, akhirnya kendaraan bak terbuka ini berbelok memasuki area rumah sakit. Bapak turun duluan sambil menggendong Elena memanggil perawat. Tidak beberapa lama, brangkar pun datang menyambut suamiku.
Aku terus mengikuti langkah di tempat suamiku diperiksa. Suamiku dipindahkan pada sebuah brangkar yang ada di dalam ruang emergency. Lalu, tirai di ruang gawat darurat itu ditutup.
Aku mencoba untuk mengintip dan menemani suamiku, akan tetapi para perawat melarangku melakukanya.
"Silakan Ibu duduk dulu. Serahkan kepada kami!" Perawat tersebut memberikan penekahan pada diriku yang dilanda kegelisahan.
Tidak mungkin rasanya aku akan tenang melihat suamiku seperti itu. Aku merasa sangat bersalah, apalagi seharian ini aku selalu saja menyusahkannya. Setelah itu, aku baru menyadari bahwa Bapak dan Elena tidak ada di lokasi ini. Aku pun melangkah kembali keluar, mencari bayangan dua orang tersebut yang tidak terlihat sama sekali.
"Anak-anak Ibuk, kalian harus kuat ya? Bantu Ibuk untuk kuat bersama kalian dalam menghadapi ini semua." Kuusap perut yang masih begitu tipis itu, terus melangkah keluar dari beranda depan.
Akhirnya, aku melihat Bapak tengah memangku Elena yang masih sesegukan karena menangis. Mereka duduk pada sebuah bangku dekat pos satpam. Saat Bapak melihatku, wajah khawatirnya terlukis jelas meski semenjak tadi hanya diam tanpa mengatakan apa-apa.
"Buuuk, Papa Elena mana?" Elena berlari memelukku. Aku berjongkok menyamaratakan posisi agar bisa memeluknya yang juga terlihat sangat ketakutan.
"Bagaimana keadaan Aren, Nesya?"
Aku pun bangkit, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa. "Dokter masih memeriksa dan melakukan penanganan."
"Bapak kenapa tidak ikut ke sana?"
Bapak menatap Elena yang masih memeluk sesegukan pada perutku. "Kata security, boleh membawa anak kecil yang tidak memiliki kendala ke sini. Jadi, kami dilarang masuk."
__ADS_1
Aku menurunkan kembali pandangan menatap gadis yang akan menjadi seorang kakak ini. "Kalau begitu, Elena dan Datuk pulang saja, ya?"
Elena menggelengkan kepala, menengadahkan wajahnya menatapku. Hidungnya merah, dan matanya bengkak. "Elena mau lihat Papa ..." Lalu ia menangis kembali menyembunyikan wajahnya memelukku.
"Iya, nanti lihat Papa setelah pulang ke rumah saja. Ibuk akan bawa Papa pulang." Tangisanku hanya bisa kujatuhkan ke dalam. Karena aku sendiri tidak tahu akhirnya akan bagaiman.
"Sekarang Elena pulang dulu sama datuk, ya?" Rambut Elena yang telah acak-acakan aku sugar ke belakang.
"Tapi, Ibuk harus janji membawa Papa pulang ya?" rajuknya.
"Iya, kamu pulang dulu sama Datuk."
Akhirnya Elena menganggukkan kepalanya dan aku serahkan Elena langsung ke tangan Bapak.
"Mertuamu sudah dihubungi?" tanya Bapak.
Ah, aku lupa. Aku benar-benar melupakan itu karena di dalam kepalaku, hanya memikirkan apa yang terjadi pada suamiku. "Biar lah, Pak. Aku akan menangani semuanya sendir—"
"Nesya!" Suara Bapak sedikit meninggi. "Kamu tidak boleh begitu! Bagaimana mungkin kamu membiarkan orang tuanya tidak mengetahui kondiainya. Bagaimana pun, Aren adalah anak mereka. Jadi kamu harus menghubungi mereka dengan segera!"
Kepalaku bergerak segera mencari ponsel yang ada di dalam tas yang terselempang dengan teliti.
"Habis ini kamu harus langsung menghubungi mertuamu!"
Aku hanya bisa menggukkan kepala. Aku takut jika kedua orang tua Mas Aren akan membenciku karena telah membuat anak mereka jadi seperti ini.
"Kalau begitu, Bapak pulang dulu mengantarkan Elena. Setelah itu, Bapak akan membawa barang-barang yang dibutuhkan untuk di rumah sakit ini."
"Bapak akan membawa Elena, titipkan saja dulu kepada Bapak ya? Dia akan bersama Mak, dia lebih aman di rumah sendiri.
Karena dia masih kecil, terpaksa ditinggal dulu bersama neneknya. Elena juga tidak diizinkan masuk ke dalam meski hanya sekedar untuk melihat." Bapakku mulai menggandeng tangan Elena, lalu mereka pergi.
Aku segera mengeluarkan ponsel, menekan kontak Mama Mertua.
__ADS_1
"APA? AREN KECELAKAAN? KENAPA BISA BEGITU?"