
*Rencananya mau nulis lagi awal bulan aja..hehehe ... Tangan Authornya sakit banget habis jatuh dari motor ... Tapi, karena nggak enak sama readers, Author usahakan juga tetap lanjut 😇 meskipun mungkin makin ke sini makin gaje ya kakak semua. Maafkan yaaa ... Soalnya kadangan otak Auhtor lagi nggak singkron dengan masalah yang ada du dunia nyata. 🤣*
...****************...
Waktu kembali bergulir, di mana saat Lingga datang membawa Bang Alan ke rumah sakit ini. Aku tak bisa berkata-kata. Akhirnya, aku menerima begitu saja parsel yang mereka berikan.
"Terima kasih."
Lingga merangkul pundakku. "Kamu yang sabar ya? Semoga Pak Rendra bisa segera sehat seperti sedia kala."
Aku menganggukkan kepala. "Aaamin ... Makasih atas doanya, dan terima kasih juga sudah sempatin mampir. Huufff ... Aku belum bisa ke kampus, sepertinya aku harus siap mendapatkan nilai yang kacau untuk semester ini."
"Jangan pikirkan itu dulu. Sekarang kamu fokus sama Pak Rendra aja!" ucap Lingga kembali.
Aku perhatikan seseorang yang datang bersama Lingga. Saat ini ia berada cukup jauh dari posisi kamu berdua. Aku tak tahu harus bagaimana dengannya. Ada perasaan yang tidak nyaman mengingat apa yang terjadi di antara kami terakhir kali.
"Kamu udah makan belum? Wajahmu terlihat sangat pucat," Lingga menatapku dengan lekat. Dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Aku nggak apa kok. Hmmm ...." Aku melihat kembali pada pria yang menyandarkan diri pada dinding lorong rumah sakit.
Dia terlihat cukup gelisah sesekali melirik kami berdua. Mungkin ia merasakan ketidaknyamanan yang sama seperti apa yang aku rasakan.
"Apa ada tanda-tanda, kelanjutan hubungan dengannya?" tanyaku.
Lingga menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak berharap lagi. Sepertinya dia juga tidak terlalu tertarik denganku."
"Bagaimana kalau kamu putuskan saja? Apa kamu tidak merasa tersiksa dengan hubungan yang tidak pasti ini? Aku juga menyarankan, lebih baik kamu menyelesaikan pendidikan dulu, baru menikah. Jangan seperti aku. Kamu lihat sendirikan? Perkuliahanku menjadi kacau, dan suasana perkuliahan pun terasa tidak nyaman."
Lingga memegangi pundakku. "Apa kamu menyesal menikah dengan Pak Rendra?"
"Tidak! Bukan begitu." Aku menyandarkan tubuh pada dinding. "Setelah berpikir panjang, sepertinya saat ini aku tidak bisa melanjutkan perkuliahan."
Lingga tersentak mendengar pernyataanku. "Serius?"
Kepalaku mengangguk pelan, karena memang sulit menjalani semua sekaligus. "Mungkin, aku berhenti saja."
"Jangan! Kamu jangan berhenti! Sedikit lagi!"
Aku menoleh pada pintu yang di balik pintu ada sebuah tubuh yang membutuhkanku selama 24 jam non stop. "Aku akan menemani dia."
__ADS_1
"Kondisinya kan tidak akan selamanya seperti itu." Entah keyakinan apa yang membuat Lingga yakin dengan hal itu. Dia mengatakannya tanpa keraguan sesikitpun.
"Entah lah, Ga ... Ini sudah hampir seminggu, ia masih saja seperti itu."
"Semangat doong ... Ayooo ... Atau kamu ambil cuti saja, biar aku temanin mengurusnya."
Aku kembali menghela napas panjang. Kali ini terasa sangat berat. Mungkin saja saat ini memang itu lah pilihan yang terbaik. Apalagi, aku sedang hamil seperti ini. Refleks tangan ini mengusap perutku, merasa kasihan kepada dua calon bayi yang ada di dalamnya.
"Kamu hamil?" tebak Lingga memperhatikan gelagatku.
"Kamu hamil?" tanya pria yang beberapa meter dari posisi kami terdengar tak percaya. "Kok cepet hamilnya?"
Lingga melirik Bang Alan mengernyitkan dahi. "Emang kenapa kalau dia hamil? Toh, dia punya suami yang sah dan jelaa. Kamu keberatan?"
Bang Alan terlihat sedikit salah tingkah. "Bukan begitu sih. Hanya saja dulu ... lama—"
Oh, ternyata dia teringat pada kisah masa lalu kami? Setelah mertua marah-marah menuduhku mandul, aku baru hamil Elena. Ah, tiba-tiba teringat masa lalu kelam itu. Aku menyesal sudah kegatelan mengejar-ngejar dia. Kenapa harus dia yang menjadi pertama?
"Kamu jangan denger kata dia ya, Sya."
Aku hanya bisa menahan ketir ucapan Lingga barusan. Seolah Lingga lebih mengerti bagaimana watak mantan suamiku itu. Namun, aku tidak ingin membuatnya merasa kecewa karena aku mengabaikan perhatiannya.
"Iya, makasi."
Meskipun saat ini musibah menghantam keluarga kecil kami, tetapi tak sekali pun aku merasa menyesal dan tak pernah merasa salah memilih. Aku mencintai suamiku, Mas Aren dengan sepenuh hati.
Bangun lah, Mas ... Aku merindukanmu.
*
*
*
Pada malam hari, tangannya masih berada dalam genggaman tanganku. Ruangam ini sudah terlalu sesak oleh parsel, bunga, dan benda-benda yang datang hendak membezuk suamiku.
"Mas ... bangun lah ... Apa kamu tidak merindukanku?" Air mata kembali terjatuh begitu saja. Aku sandarkan pipiku pada telapak tangannya.
"Aku rindu setengah mati, Mas. Aku rindu semua keusilanmu, sok jaimmu, menyebalkanmu, kecemburuanmu, semuanya aku rindukan. Bangun laaah, buka lah mata mu itu ...."
__ADS_1
Aku tidak tahu kapan aku tertidur, aku tersentak oleh sebuah gerakan yang menggelitik pipiku, ternyata itu adalah gerakan tangan suamiku. Tangan itu langsung kugenggam.
"Mas? Mas? Udah bangun?"
Ah, ya ... Harusnya aku harus mencari dokter. Aku keluar dan setengah berlari menuju ruangan para Nakes piket malam beristirahat. "Sus ... Sus ... Dokter?"
Perawat itu langsung bangkit mengucek mata. "Kenapa, Mbak? Apa suaminya kejang lagi?"
"Bukan, dia sudah bergerak. Cepetan Sus, Dok ..."
Mereka berjalan dengan langkah cepat. Seperti biasa, aku tidak boleh masuk saat mereka mengecek keadaan suamiku. Namun, semoga setelah ini aku mendapat kabar baik.
"Nesya? Bapak mendengar suaramu memanggil dokter. Apa Aren seperti waktu itu?"
"Bukan, Pak. Hanya saja sspertinya tadi Mas Aren bangun."
Bapak membesarkan matanya. "Oh ya? Syukur lah. Semoga dia benar-benar mengakhiri masa kritisnya."
"Aaamiin."
Kami menunggu dengan perasaan berdebar. Beberapa waktu suamiku masih diperiksa, dan sekitar sepuluh menit kemudian, perawat memanggilku untuk ikut masuk ke dalam.
Di dalam sana, aku lihat Mas Aren telah membuka mata. "Mas? Mas? Beneran sudah bangun?" Langkah kaki semakin cepat menggenggam tangan suamiku.
Genggaman tanganku, disambut dengan balasan genggaman darinya. Dia merespon kedatanganku. Namun, aku melihat raut dokter dan perawat sedikit tegang.
"Bagaimana keadaan suamiku, Dok?"
Dokter muda itu terlihat sayu. "Coba Mbak ajak suaminya berbicara terlebih dahulu."
Mata suamiku memang terbuka, tetapi ia tak berhenti mengerjapkan mata. Apakah ia sedang merespon cahaya lampu kamar yang terlalu terang?
"Mas, apa kamu mendengar suaraku?" Aku mendekatkan wajah tepat di hadapan matanya.
"Sa-sayang ...." Tangannya bergetar berusaha membelai pipiku. Dia meraba setiap jengkal yang ada di wajahku, tetapi air matanya terlihat jatuh satu per satu.
Hatiku merasa lega. "Syukur lah, Mas ... Syukur lah kamu kembali." Aku mengecup kedua pipinya tiada henti. Aku merasakan getaran hebat pada tubuhnya, air matanya terus banjir tiada henti.
"Kenapa kamu menangis?"
__ADS_1
Kedua tangannya kembali meraba wajahku. Akan tetapi, matanya terlihat hampa tanpa kehidupan.
.