
*Jangan lupa sawernya ya kak?* 😂😂😂
"Huwaaa ... huwaaaa ..."
Suara tangisan bayi membangunkanku dari lamunan panjang. Kenyataan yang aku dapat pada malam untuk mengakhiri semua, tidak seperti yang aku harapkan. Semua berakhir di malam itu.
"Huwaaaa ... huwaaaa ..."
"Apa kau tidak bisa mendiamkan anak s*alan itu?" Tiba-tiba, Dian muncul berteriak dan memaki anak kami. Dan itu adalah perilaku yang sesungguhnya kepadaku.
"Bagaimana pun juga Dilan adalah anakmu!" ucapku yang terus berusaha menahan darah agar tidak menukik naik dengan tajam.
Dian menggaruk kepala frustrasi. "Cepat kau bawa anak s*alan itu keluar! Tangisannya membuat kepalaku sakit!"
Dilan terlahir ke dunia dengan keadaan berkebutuhan khusus. Lahirnya pun lebih cepat dari perhitungan yang dia katakan. Ya, aku pun malas menanyakan kepada pihak yang menangani kelahiran Dilan, kenapa anak kami lahir lebih cepat seperti ini.
Aku sudah terlanjur kasihan pada bayi kami yang terlahir prematur. Selain lahir lebih awal, dia didiagnosa akan mengalami down syndrome seumur hidupnya. Dilan, adalah nama yang aku berikan untuk putra kami. Gabungan antara nama Dian dan namaku, Alan.
"Cepat hentikan tangisannya!" Dian kembali berteriak kepadaku, sembari memijit kepalanya.
Dia seperti itu semenjak kelahiran Dilan. Dia tidak menerima kenyataan bahwa anak yang dilahirkannya memiliki kelainan genetik. Aku segera mengangkat Dilan. Ternyata, suhu tubuh Dilan terasa hangat.
"Dia demam!" ucapku.
Dian yang tengah memijit kepala tadi menggeleng dan melambaikan tangannya pergi meninggalkanku yang panik sendirian.
"Ma, Mama? Kamu mau ke mana? Anak kita sakit lho?" Dilan belum juga menghentikan tangisannya.
"Urus aja sendiri sanah!" Dian merebahkan diri menyembunyikan kepalanya di bawah bantal. Persis seperti aku yang tidak mau tahu kala Elena menangis karena sakit dulu.
Semua perlakuanku terhadap Nesya dan Elena, berbalik kembali padaku. Aku segera membawa Dilan ke rumah sakit. Di sana dia diperiksa dan tes darah. Karena setelah sampai di rumah sakit, tubuh Dilan dipenuhi bintik merah.
Saat ini Dilan sudah berumur satu tahun lebih dua bulan. Namun, karena beberapa faktor dia mengalami tumbuh kembang yang lebih lambat dibanding bayi lainnya. Aku selalu mengantarkan dia ke fisioterapi setiap tiga kali seminggu untuk melatih perkembangan motoriknya.
Ya, semuanya aku lakukan sendiri. Dian sama sekali tak berniat memberikan Dilan pengasuh. Alasannya dia takut aku akan tergoda oleh pengasuh Dilan. Bahkan, dia sengaja memberhentikan supir pribadinya dengan alasan sayang uangnya. Lebih baik gaji untuk supir, diberikan kepadaku.
Awalnya aku merasa tersanjung, betapa perhatian Dian kepadaku. Dia lebih memilihku dari pada supir itu. Namun, lama kelamaan aku baru menyadari. Dian hanya memanfaatkan kebodohanku.
Ya, aku hanya pria bodoh yang berhasil digaet menggantikan pengasuh sekaligus supir. Karma bertubi-tubi datang untukku seakan menjadi hukuman yang tak pernah usai karena telah menyakiti istri yang baik, yang tulus mencintaiku apa adanya.
Hasil laborarium pun keluar. Seorang perawat menyerahkan kepada dokter yang menangani Dilan. Dokter tersebut sedikit menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Pak, anak Bapak dinyatakan positif menderita demam berdarah. Saat ini trombisit anak Bapak mengalami penurunan yang signifikan, sehingga kita membutuhkan transfusi darah yang cepat!"
"Baik lah, Dok. Coba periksa kecocokan darah kami. Jika darahku cocok dengannya, maka darahku bisa langsung diambil untuknya."
Perawat langsung mendampingiku menuju unit transfusi darah. Saat tes darah milikku, ternyata golongan darah Dilan tidak cocok denganku. Aku segera mencari kontak Dian dan menghubunginya.
Beberapa kali panggilan diulang, baru lah dijawabnya. "Apa sih? Menelepon malam-malam mengganggu orang tidur," sungutnya di balik panggilan.
"Kamu enak-enakan tidur! Anak kamu menderita demam berdarah, tau nggak? Cepat datang ke sini! Darahku tidak cocok dengannya!"
"Apa?" Suara Dian terdengar sedikit panik.
"Buruan! Aku tunggu!"
Aku hanya bisa menertawakan diri ini yang dulunya sama persis dengan Dian. Tidak peduli dan menyerahkan semua kepada Nesya. Apakah ini lah yang dimaksud dengan jodohmu adalah cerminan atas dirimu?
Oooh Tuhaan? Aku tidak tahu, apakah harus bahagia, atau malah berduka karena ini semua. Apakah aku masih bisa berharap memiliki Nesya kembali? Aku kembali ke ruang rawat darurat tempat di mana Dilan sedang tidur dengan kakinya tengah terikat oleh jarum infus.
Sungguh memilukan saat proses pencarian pembuluh darah bayi empat belas bulan ini. Bayi yang baru bisa tengkurap dengan kepala yang belum kuat, menangis dengan suara yang sangat keras saat setiap inci kulitnya ditusuk jarum untuk infus. Huuuh, aku belai kepala Dilan lembut, aku merasa sangat kasihan padanya.
"Kamu harus kuat, Boy! Anak lelaki tidak boleh lemah!"
Dari arah pintu muncul perempuan yang panik menggendong anak kecil. Tidak salah lagi. Netra kami bertemu dan aku langsung mendekat padanya.
"Apa yang terjadi?"
Namun dia hanya diam dengan mata liar melihat ke segala arah. Perawat memandu Nesya, untuk meletakan Elena ke atas brangkar yang ada di samping brangkar Dilan tertidur.
Apa yang terjadi dengan Elena. Aku segera memeriksa kening Elena, dan suhunya pun terasa sangat panas.
"Ayaaah, Ayaaaah ...." Aku mendengar suara Elena memanggilku. Dia mengigau dalam tidurnya dan itu memanggilku, Ayahnya. Ini untuk pertama kali aku merasa luluh mendengar namaku dipanggil oleh Elena.
Aku segera membelai kepala Elena dan membisikkan sesuatu tepat di telinganya. "Elena sayang, Ayah ada di sini. Elenaa?"
Namun, Nesya mendorongku dengan nafasnya yang memburu. Matanya secara bergantian melihat Dilan, aku, dan Elena. "Kau, urus saja anakmu! Elena adalah anakku! Biar aku yang mengurusnya!"
"Apa yang terjadi?"
Nesya berdiri membelakangiku, menghalangiku mendekati Elena. "Ini semua karena ulahmu. Jika saja kau tidak pernah muncul lagi di hadapannya, maka Elena akan mudah melupakanmu! Namun, kau selalu saja muncul di hadapan kami. Kau membuat dia menginginkan kehadiranmu kembali menjadi ayahnya! Dia menangis seharian tidak mau makan apa pun!"
"Tapi, Elena memang anakku."
__ADS_1
Nesya tertawa dengan mata nyalangnya. "Anakmu? Sejak kapan kau baru menyadari bahwa Elena ini anakmu?"
duuughh
Nesya didorong hingga terjatuh oleh seseorang. Seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah istriku, Dian.
"Apa yang kau lakukan pada suamiku, hah?"
Nesya yang terduduk menengadah menatap Dian dengan nanar. Aku mencoba membantu Nesya untuk bangkit, tetapi Nesya menampik tanganku yang ingin membantunya.
"Hooh, ternyata kau mulai bermain-main di belakangku bersama mantan istrimu ini, Alan?" Tuduhan itu keluar dari mulut Dian yang sedang bersidekap dada menatapku dan Nesya secara bergantian.
"Bukan! Kamu jangan salah paham!"
Senyuman sinis terulas di bibir Dian. "Bukan katamu? Bahkan kau lebih memihak padanya dari pada aku yang membelamu."
Beberapa security datang. "Ada apa ini, Pak, Buk?"
Nesya sudah berdiri bangkit sendiri. Menepukan kedua tangannya yang mungkin saja kotor, lalu dia bergerak kembali ke brangkar Elena. Dia tidak membalas perlakuan Dian yang mendorongnya tadi. Ya, dia sebaik itu. Dia wanita yang aku sia-siakan.
Aku mendekat pada security. "Ini hanya kesalahpahaman, Pak."
"Kami harap Bapak dan Ibu semua bisa menjaga ketertiban di tempat ini. Jika tidak, Bapak Ibu semua boleh mencari rumah sakit yang lain!"
"Maafkan kami, Pak. Saya berjanji, semua tidak akan terulang kembali."
Setelah mengucapkan terima kasih kepada para security tersebut, mereka pergi. Perawat memperingatkan kami agar tidak membuat keributan lagi. Dari jauh, aku tatap Nesya membelai rambut Elena dengan wajah sedihnya.
"Kau masih memikirkannya ternyata?" sindir Dian dengan nada dingin.
"Apa yang kamu katakan? Kamu lihat sendiri bukan, anakku yang lain juga masuk ke rumah sakit ini. Kamu jangan aneh-aneh seperti itu!"
Dian menghembuskan nafas kasar. Dia melengos membuang muka menatap anak kami. "Bagaimana sekarang?" tanyanya.
"Harus segera mendapat transfusi darah. Ayo kita langsung saja melakukan transfusi darah kepada Dilan. Jika darahnya tidak cocok denganku, berarti dia ikut darah kamu." Aku segera menarik tangannya untuk segera menuju unit transfusi darah.
Namun, langkah kakinya begitu berat menuju tempat itu. Dia menggelengkan kepala.
"Ayo, kamu kenapa sih? Kalau kamu buang-buang waktu begitu bisa membahayakan nyawa Dilan." Aku terus menarik Dian.
Dian terus menahan tubuhnya agar tidak beranjak menuju unit tersebut. "Aku rasa kita harus memeriksa kecocokan darahku dengan Dilan terlebih dahulu." ucap Dian.
__ADS_1