
"Kamu kenapa Nesya? Dari pagi ku perhatikan terlihat lesu dan matamu sembab begitu?" Seseorang membantuku merapikan peralatan yang berceceran.
"Lingga?"
Lingga menyerahkan semua yang dipungutnya. "Kamu kenapa? Kok nggak fokus gitu? Apa gara-gara ditinggal suami dinas luar?" Ia duduk di bangku sebelahku.
"Kamu udah nggak marah lagi padaku?" Ah, ternyata air mataku berderai begitu saja tak sanggup lagi terbendung oleh pelupuknya. Aku mengusapnya dengan cepat.
Lingga menatapku, bergerak pelan memelukku tanpa mengatakan satu patah kata pun. Beberapa waktu kami dalam posisi yang sama, ia menepuk pundakku pelan.
Tak lama kemudian, aku melepaskan pelukan itu. "Terima kasih udah menemaniku."
Lingga menarik kursi dan duduk tepat di hadapanku. "Jika kamu bersedia menceritakan padaku, aku akan menjadi pendengar yang baik."
"Aku baik-baik saja kok, hanya saja mungkin ini bawaan hamil muda." Sepertinya aku belum bisa membagikan kemelut dalam hatiku. Cukup lah aku yang merasa. Mungkin saja aku salah menduga.
"Kamu hamil?" Raut wajah Lingga seketika berubah seakan ikut riang dengan takdir indah ini.
"Waaah, jadi karena itu kamu sedih? Lagi hamil ditinggal tugas?"
Aku menganggukkan kepala, meskipun sebenarnya tidak sesederhana itu. "Maafkan aku akan ucapanku seolah memprovokasimu beberapa waktu yang lalu, Lingga. Bagaimana kabar kalian saat ini?"
"Ya, biasa aja sih. Aku biarkan semua mengalir bagai air aja. Yang jelas, aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin menggapai cita-citaku, dan mungkin jika dia masih mau menunggu aku hingga mendapat pekerjaan, kami baru menikah."
Mendengar ucapannya, hatiku turut merasa lega. "Syukur lah jika memang begitu. Aku akan mendukungmu untuk terus bertumbuh dengan baik." Aku kembali memeluknya.
Aku berharap, jika mereka memang jodoh, Bang Alan benar-benar berubah menjadi pria yang terbaik untuk Lingga. Namun, hatiku kecilku menginginkan ... Lingga mendapat yang jauh lebih baik dari pada dia. Namun, entah lah ... Jodoh sudah ada yang mengatur.
*
*
*
Malam hari, aku kembali mencoba menghubungi Mas Aren. Hingga saat ini, pesan yang aku terbaru belum juga terkirim.
Ada sebuah sesal yang hinggap di hatiku. Seharusnya, tadi aku bertanya pada ke sekretaris jurusan, Mas Aren pergi sama siapa? Huufft, sabar ... sabar ... Esok suamiku pulang. Aku akan segera memeluknya, meminta maaf padanya. Hmmm, tak selamanya rencana kejutan itu bisa berbuah manis.
__ADS_1
Esok harinya, aku segera mencari sekretaris jurusan. "Selamat pagi, Buk?"
"Oh, ibu negara. Ada apa? Tumben mencari saya." Lalu senyuman dengan wajah menyelidik terulas dalam rautnya.
"Kangen sama suami ya?" candanya. Lalu membuka tugas mahasiswa yang mungkin baru saja diterima.
"Hehehe, iya, Bu. Hmmm, apa saya boleh bertanya, Bu?"
Dosen yang merangkap sekaligus sekretaris jurusan itu mengangkak kembali wajahnya. "Jangan katakan kamu tidak tahu suamimu di mana?"
Aku tersentak cukup kaget mendapat pertanyaan yang sangat tepat itu. "Oh, bukan, Bu. Saya mau bertanya dia berangkat ke sana bareng siapa?"
"Ooh gitu. Pak Aren berangkat bersama perwakilan pihak universitas sana. Yaa, memang mendadak sih, perintah tugasnya. Namun, kamu jangan khawatir! Perwakilan itu sudah tahu dia telah menikah kok." Lalu ia tertawa renyah.
Aku teringat pada wanita cantik yang berjalan bersamanya kala itu. Mungkin dia lah yang dari kampus sebelah itu.
"Apa Ibu punya kontak perwakilan dari sana?"
Sekretaris Jurusan melirikku dan tersenyum tipis. "Kamu khawatir dia akan mengganggu suamimu?"
"Bukan, Bu. Bukan. Hanya untuk berjaga-jaga saja."
Sekretaris jurusan membuka ponselnya, dan menyebutkan nomor dan nama yang bisa aku hubungi. "Terima kasih, Bu," ucapku dan segera meninggalkan tempat itu.
Kontak itu hanya untuk berjaga-jaga, jika malam nanti, Mas Aren belum kembali juga. Namun, semoga apa yang aku khawatirkan tidak terjadi.
Hingga pukul sebelas malam, aku tak berhenti bolak-balik merasa tak tenang. Ah, apa boleh jika aku melakukan panggilan pada kontak yang diberikan sekretaris jurusan tadi jam segini?
Waktu terus berjalan tetapi Mas Aren belum juga sampai. Aku terus mengirim pesan kepadanya, tetapi tak kunjung masuk juga.
Ah, aku segera beranjak, mengambil kunci, dan turun ke bawah ingin membuka pintu.
"Kamu mau ke mana?"
Aku dikagetkan oleh suara Bapak yang muncul tiba-tiba dari belakang. "Aku mau ke kantor polisi, Pak. Aku ingin melaporkan suamiku menghilang tanpa kabar."
Secara samar, kening Bapak berkerut dan melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul dua dini hari. "Ini sudah terlalu malam. Kamu istirahat saja! Wajahmu sudah sangat kuyu beberapa hari terakhir ini. Kami tahu, kamu tidak bisa tidur semenjak suamimu pergi. Sekarang beristirahatlah! Semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Tapi, Pak. Aku tidak akan bisa tenang jika suamiku tak ada kabar seperti ini."
"Iya, Bapak tahu. Nanti Bapak akan menemanimu untuk melapor. Namun, setelah pagi datang saja!"
Aku pandangi wajah Bapak yang turut mengkhawatirkanku. Aku tidak ingin seperti ini. Aku tidak boleh membuat orang tuaku menjadi khawatir. Akhirnya aku memilih mengalah, masuk kembali ke dalam kamar.
Wajahku terus menengadah menatap jam di dinding. Entah kenapa, pagi terasa begitu lama.
*
*
*
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Kakiku terus bergerak dengan sendirinya hingga aku tidak tahu sepasang kaki ini hendak membawaku ke mana?
Aku berhenti tepat di depan pintu berlabel 'Kamar Mayat'
Entah ada kekuatan apa aku bisa mendorong pintu itu dengan tiba-tiba. Perlahan tapi pasti, kali ini langkahku terasa semakin berat. Aku usap perut yang terasa bergetar di bagian dalamya.
"Apa kamu merasa ketakutan seperti yang Ibuk rasakan?"
Kakiku terasa kaku melihat barisan brangkar yang berderet rapi tertutup kain putih. Aku harus ke mana? Aku tak ingin memercayai itu adalah dia. Dia tidak ada di sini. Dia masih hidup!
Aku melangkah mundur, aku tidak siap dengam apa yang aku takutkan.
dugh
Aku menabrak seseorang yang ada di belakangku. Aku lirik, ternyata ada Bang Alan di sana menyeringai menatap pada satu brangkar dengan pasti.
"Kenapa kamu merasa ragu? Apa kamu menginginkan aku yang membantumu untuk membukanya?"
Aku menggelengkan kepala. "Tidak! Ia masih hidup. Ia akan tetap bersama kami." Aku kembali melangkah mundur memutar badan dan ingin beranjak tak memercayai apa yang menjadi kekhawatiranku.
Tiba-tiba, Bang Alan menarik tanganku masuk dan menyeretku untuk mengikuti langkahnya. "Kamu harus lihat sendiri! Lihat dia!" Bang Alan menarik kain putih itu kasar dan melemparnya.
Aku lihat wajah itu, wajah yang aku rindu memutih. Tidak mungkin! Tidak mungkin! Kaki terus melangkah mundur.
__ADS_1
"TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN!"