
(Halo kakak readers semua, kalau lolos permintaan crazy up Author, insya Allah senin akan up 3 bab sehari. Kalau sekarang belum bisa, hehe ... soalnya juga tengah fokus buat menamatkan karya yg lainnya. Jangan lupa tanda like, sawer dengan bunga, kopi, dan iklan yaaa ...)
"Bapak kenapa sih?"
Aku lihat gadis, eeh ... maksudnya gadis yang bukan gadis ... eheemm ... gadis yang sudah menjadi ibu, aahh ... ibu muda ... ya, ibu muda yang duduk di sampingku ini terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini.
Pokoknya aku harus mendapatkan hati dia, meskipun sebenarnya aku tak ada rasa sama sekali. Aku ingin mendapatkannya agar aku bisa membalas penghianatan Reina.
Nanti akan aku ceritakan bagaimana kisah cintaku yang tak mulus ini. Setidaknya, jika mendapatkan Nesya menjadi kekasih atau pun sebagai istri, aku sekaligus mendapat bonus, gadis kecil bernama Elena.
"Santai saja! Kita belum pernah jalan-jalan naik kendaraan berdua kan?" Pokoknya, aku harus jadi pria baik di depan matanya. Aku harus mendapatkan hatinya secepat mungkin. Karena, teman kerjaku telah gencar mencarikan jodoh untukku.
Gendis, adalah salah satu wanita yang dikenalkan oleh rekan kerja senior. Dia adalah keponakan dari Pak Suhandi, dosen senior yang menjabat sebagai Ketua Prodi. Awalnya aku mencoba berkenalan, tetapi sifat dia membuatku merasa tidak nyaman. Sepertinya kami tidak memiliki kecocokan.
Lalu, rekan kerja yang lain memperkenalkan anaknya yang bekerja sebagai pegawai bank. Cantik sih ... hanya saja dia kurang cocok dengan kriteriaku.
"Kita pulang saja, Pak. Kasihan Elena tidur dalam keadaan tidak nyaman." ucap ibu muda yang ingin kugaet ini. Meskipun aku belum merasakan apa-apa, setidaknya dia masuk dalam kriteriaku. Yaa ... cocok menjadi senjata untuk balas dendam kepada Reina.
Akan tetapi, dia terus saja menjaga jarak. Aku tidak boleh membuat dia ilfeel, akhirnya kuputuskan untuk putar balik dan mengantarkannya ke tempat yang dia minta. Hmmm ... sepertinya hidup yang dialaminya cukup berat. Menjadi janda di usia yang sangat muda, tentu tidak mudah. Aku harus bisa membuatnya bertekuk lutut memohon cintaku, tentunya dengan cara membuatnya nyaman saat bersamaku.
Setelah sampai, Nesya turun dari mobil ini. Tadi aku baca-baca trik untuk menggaet hati janda, tentu yang utama adalah mendapatkan hati anaknya terlebih dahulu. Sepertinya aku sudah berhasil. Selanjutnya harus romantis dan humoris.
Romantis, Reina selalu berkata bahwa aku ini cuek dan tak romantis. Mungkin kali ini pura-pura menjadi pria romantis bisa merebut hatinya dengan segera. Humoris? Aku juga sudah mempelajari bagaimana cara menjadi humoris.
Alven muncul dan terlihat menyerahkan kunci motor milik Nesya. Alvendra adalah adik laki-lakiku. Saat ini, dia mahasiswa tingkat akhir jurusan IT di kampus yang sama, tempat aku mengajar. Namun, kami berada di fakultas yang berbeda. Setelah itu, Alven dengan cuek menuju mobil dan masuk ke pintu pengemudi.
"Terima kasih untuk hari ini, Pak. Saya telah banyak merepotkan Bapak."
Trik selanjutnya adalah, memberikan perhatian tulus. Oke, sepertinya ini gampang. "Oooh, tidak apa. Ini adalah kewajiban saya sebagai seorang pria." Aku tatap matanya dengan dalam, seperti trik selanjutnya.
__ADS_1
Namun, sial ... dia malah membuang muka bergerak membuka kunci pintu rolling ruko. Ya udah, aku ikutan masuk saja. Sekalian ingin melihat bagaimana keadaan mereka tidur di sana.
Aku mencoba untuk menyambut Elena agar Nesya bisa berjalan menaiki tangga tanpa merasa lelah menuju ke kamarnya. Namun, ternyata dia tidak mau menyerahkan Elena dan menaiki tangga demi tangga sendirian.
Setelah sampai lantai di lantai atas, Nesya menidurkan Elena di kamar mereka. Baik juga sang pemilik laundry menyerahkan ruko ini kepada mereka. Namun, aku tidak peduli, misiku adalah mendapatkan Nesya.
"Pak, kenapa tidak mengajak Bang Alven naik juga?"
"Oooh, dia ... biarkan saja. Kami sedang buru-buru ingin menjemput mobil tadi, bukan?" Aku mencoba menangkap netranya kembali, agar dia bisa bergetar melihat bola mataku.
Dia menganggukan kepala, tetapi kembali membuang muka bergerak menuju satu tempat. Sepertinya itu adalah bagian dapur.
"Apa Bapak mau saya buatkan kopi?"
Sebuah pesan chat masuk pada ponselku. Ternyata itu pesan dari Alven. Dia sudah marah-marah menyuruhku untuk segera turun.
"Sepertinya lain kali saja. Apakah aku boleh meminta sesuatu kepadamu?"
"Boleh bagi kontakmu? Agar kita bisa saling berkomunikasi dengan lebih baik lagi?" Kembali mencoba menangkap bola matanya. Dia masih membuang muka malah sibuk dengan ponselnya.
"Boleh, Pak." Dia menyebut urutan angka dan aku segera menyimpannya. Mungkin dengan ini aku bisa lebih intens untuk menggaet hatinya.
"Oh ya, tadi kamu memanggil Alven dengan, Bang. Apa kamu bisa mencoba memanggil aku dengan Bang juga?"
Wajahnya masih terlihat enggan dan keberatan. "Bapak itu dosen, berarti guru yang harus saya hormati. Saya merasa tidak enak, jika harus mengganti sapaan kepada Bapak."
"Apa kamu tidak pernah mendengar cerita mengenai guru dan murid menikah? Begitu juga dosen dan mahasiswanya?"
Dia masih tidak merespon pancingan demi pancingan yang aku berikan. Dia itu bego beneran apa pura-pura bego sih? Aku pun harus bertahan memasang muka badak demi satu misi, ya ... misi yang sama.
__ADS_1
*
*
*
"Mas, jadi kali ini dia?" Alven mengendarai mobil mengantarkanku ke area kampus, tempat di mana mobilku terkunci tadi.
"Kau cukup diam, tak perlu berkomentar!"
Dia tersenyum tipis. Aku menyandarkan kepala pada kedua telapak tangan. Setengah jam perjalanan terasa cukup lama karena kami berdua hanya hening tanpa mengatakan apa-apa. Akhirnya kami sampai juga. Aku segera mengeluarkan kunci yang tadinya kujemput dengan penuh drama.
Kami segera balik arah kembali ke rumah. Dalam kepalaku selalu saja memikirkan trik selanjutnya agar membuat wanita yang bernama Nesya itu luluh.
Apakah hatinya telah membeku? Kenapa sulit sekali bagiku menerobosnya? Dia bagai memasang pagar pembatas yang sangat tinggi karena mungkin trouma perceraian yang pernah dialaminya?
Hmmfff ...
Aku akan membuat dia bertekuk lutut dan memohon cintaku. Jika dia masih sok jual mahal begini, aku akan--- hmmmff ....
Kami sampai di rumah, suasana rumah ini selalu dan selalu sepi. Ya, seperti apa yang Papa katakan tadi, bagai berada di kuburan. Semua penghuni rumah ini sibuk dengan urusannya sendiri, termasuk aku.
Alven langsung masuk ke kamarnya tanpa suara. Mama dan Papa sudah berada di dalam kamar. Aku pun menuju kamar tanpa harus bersuara.
Di atas meja kerja ada sebuah bingkai foto yang sengaja aku rebahkan agar aku tidak terus-menerus menatap foto pengkhianat itu. Namun, kali ini aku duduk di bangku yang ada, membuka bingkai foto itu kembali.
"Tunggu lah! Aku akan membuatmu menyesal. Bagaimana rasanya setelah mendapat karma karena mengkhianatiku?"
Reina, adalah kekasihku semenjak kami masuk kuliah. Namun, kami berada di fakultas yang berbeda. Kami bertemu saat dia mengalami kebocoran ban setelah menyelesaikan masa OSPEK.
__ADS_1
Di sana lah kisah cinta kami bersemi, hingga kami sama-sama menyelesaikan gelar sarjana. Namun, di saat aku tinggal kuliah enam tahun ke Inggris, dia menikah dengan sahabat baikku.