
"Apa maksudnya? Apa dia masih menginginkan untuk kembali bersama?"
"Buk ... ayo mandi Buk ... Ibuk mau cekolah kan?" Elena menarik tanganku, dan kami segera membersihkan diri.
Usai menyuapi Elena makan, aku telah bersiap untuk berangkat ke kampus. Kebetulan sekali Kak Vina sudah hadir terlihat memarkirkan kendaraan dengan satu orang yang sepertinya adalah pelanggan juga. Wajahnya tidak terlihat, hanya saja dia membawa kantong besar yang biasa aku tangkap adalah pakaian kotor.
Kak Vina melambaikan tangan, dan aku menyambutnya dengan senang hati. Orang yang satu lagi itu membuka helm, tampak Pak Arendra yang lebih muda, alias Alven.
Dengan muka datar, dia menenteng kantong besar. Kak Vina hendak mengambilnya, tetapi dia menggelengkan kepala. Dia terus berjalan ke arahku dan aku bersiap menyambut kantong besar itu.
"Ini harus diletak di mana? Mulai hari ini aku akan mengantarkan cucianku sendiri."
( PoV Arendra )
Apa maksud mantan suami Nesya itu? Satu bulan? Jangan kan satu bulan, dalam satu minggu akan aku buat dia tergila-gila padaku.
Aaagghhh ....
Kuusap muka dengan kedua telapak tangan. Aku merasa sedikit frustrasi. Tiba-tiba aku merasa tak yakin mengingat betapa sulitnya menakhlukan ibu satu anak itu. Aku tatap bayangan diri pada cermin mengamati sesuatu yang mungkin saja menjadi kekuranganku.
Apakah aku kurang tampan? Aku lihat bayangan dari depan, dari sisi kiri, dari sisi kanan, mungkin ... dari belakang juga.
ceklek
Pintu kamarku dibuka begitu saja oleh seseorang. Aku segera memperbaiki posisi. Dia masuk dalam diam duduk di atas ranjang memperhatikan apa yang sedang aku perbuat.
"Katakan sesuatu sebelum aku persilakan untuk kembali keluar!"
Dia terus mengamatiku dari atas hingga ke bawah. Dia manggut-manggut asik dengan pikirannya sendiri.
"Cepat katakan! Mau apa ke sini?"
Dia terlihat gelagapan dan masih cukup takut jika aku sudah meninggikan sedikit volume suara. "Jika tidak ada kepentingan, pergilah! Sebelum aku naik darah!"
__ADS_1
"Mas, kamu tak serius dengan janda bernama Nesya itu kan?"
Aku tatap langsung mencari arti ucapannya lewat netra yang tak akan pernah berbohong. Apa yang sedang dipikirkannya? Mencari alasan dia yang tiba-tiba mengungkit tentang Nesya. "Kenapa?"
"Aku hanya butuh jawaban ya atau tidak saja. Bukan sebuah pertanyaan lanjutan."
"Jadi apa maumu dengan jawaban yang akan aku lontarkan?"
Dia bangkit dan menyejajarkan dirinya berdiri di hadapanku. Tinggi kami pun hampir sama, meski dia lebih tinggi beberapa mili saja dibanding aku.
"Aku ingin mendekati janda itu, kamu jangan marah kalau ternyata dia lebih memilih aku nantinya. Kamu hanya buat main-main dengannya saja bukan?" Usai mengucapkannya, dia bergerak keluar meninggalkanku begitu saja.
"Dasar adik durhaka!"
Kita lihat saja nanti, meski dia adikku, aku tak akan sungkan-sungkan padanya. Entah kenapa hatiku menjadi panas saat dia terang-terangan menantangku seperti ini? Aku tak akan biarkan siapa pun merebut Nesya yang hampir jatuh ke tanganku.
Ahhh yaaa ... senjata balas dendam ... hmmm ... aku pikir dulu akan gampang menakhlukannya. Biasanya janda diberi sedikit perhatian dan kasih sayang, dia akan terjun bebas jatuh cinta kepadaku.
Namun, aku mulai ragu ... apalagi melihat dia saat menatap mantan suaminya. Dia lebih banyak diam, hal itu persis sama seperti saat aku bertemu kembali dengan Reina setelah dia menikah dengan Gani.
*
*
*
Saat berada di kampus, tanpa komando mata ini mencari-cari sosok yang selalu membuat otakku gaduh. Apakah dia belum sampai?
"Pak Rendra?" Pak Suhandi memanggilku memberi kode agar aku masuk ke ruang Kepala Prodi, ruang kerja miliknya.
Dengan sedikit berat aku mengikuti langkahnya. Dia pasti menanyakan kelanjutan hubunganku dengan anaknya yang bekerja di bank itu. Padahal, aku selalu menghindari pertemuan pribadi seperti ini. Namun, akhirnya tertangkap juga.
"Bagaimana kabarmu, Rendra? Sepertinya, akhir-akhir ini kamu terlihat sangat sibuk?"
__ADS_1
"Oh iya, Pak. Kebetulan sekali saya sedang banyak pekerjaan melayani mahasiswa yang tengah bimbingan skripsi. Jadi terkadang saya ditunggu oleh mereka di kelas yang saya ajar. Jadi terkadang, waktu kosong sangat mepet hingga jadwal kuliah berikutnya."
Mulut ini dengan lancar mengeluarkan berjuta alasan yang hanya karangan belaka. Kebanyakan waktu ku habiskan ialah mengunci diri di ruanganku sambil membaca-baca artikel cara mendekati janda. Kiat yang harus dilakukan untuk mengambil hati seorang wanita. Hal-hal yang disukai wanita, dan segala hal sebagai alasan agar wanita bernama Nesya jatuh cinta dengan segera padaku.
"Oooh, ternyata begitu. Lalu, apakah kamu masih menghubungi Dewi?"
Aduuh, aku harus menjawab apa ya? Rasanya sungguh sangat tidak enak bila mengatakan dengan terus terang bahwa aku merasa kurang cocok dengan Dewi, yang bekerja di bank.
"Terus, akhir-akhir ini saya lihat Gendis keponakan Bu Yeni sering main ke sini. Kamu sebenarnya memilih siapa? Anak saya atau keponakan Bu Yeni?"
Pertanyaan Pak Suhandi ini semakin menjebakku. Jika aku salah menjawab, aku takut Pak Suhandi berpikir buruk tentang diriku. Dari balik horden transparan, aku lihat siapa yang lewat di luar. Mataku terpaku melihat dia berjalan berdua dengan teman dekatnya.
"Ekhem ... Rendra! Saya tahu sebenarnya kamu menolak anak saya secara halus. Tapi anak saya itu masih memohon pada saya agar kamu mau melanjutkan untuk berkenalan dengannya lebih lanjut!"
"Lhoh? Kenapa, Pak? Bukankah Dewi itu cantik dan sangat cerdas? Pasti akan banyak sekali yang antri untuk menikahi dia."
Kakiku sudah bergetar ingin segera beranjak dari ruangan ini. Getaran di kaki ini, makin lama terasa semakin cepat. Aku pun mencoba menenangkan getarannya, tetapi malah membuat seluruh tubuhku ikut bergetar.
Pak Suhandi menatapku dengan tatapan yang membuat perasaanku tak nyaman. Dia pasti merasa marah terhadapku.
"Sebenarnya kamu sedang menjalin hubungan dengan siapa?"
"Oh ... saya, Pak?" Tanganku menggenggam lutut yang getarannya semakin lama semakin kuat. Jika aku merasa tidak nyaman, dan was-was ... ini akan terjadi membuatku semakin stress untuk menenangkan diri.
"Kamu kenapa, Ren?"
"Oh ... saya tidak apa-apa, Pak."
"Jadi apa jawabanmu atas keinginan Dewi?"
Netraku kembali menangkap wanita itu lewat lagi di depan ruangan ini. Aah, pintu itu ... rasanya seperti tak sabar lagi rasanya untuk kubuka.
"Rendra!" terdengar sebuah bentakan dari kepala prodi jurusan kamu.
__ADS_1
"Ada apa, Pak?"
"Ada apa dengan pintu itu?"