Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-3. ( pov Arendra) Proposal jadi yang berikutnya


__ADS_3

Setelah aku tegur, Nesya pergi meninggalkanku tanpa berkata apa-apa. Hmmm, aku rasa dia merajuk karena merasa tidak dibela.


Padahal hatiku sangat bangga melihat aksinya yang sangar itu. Hmmm, seketika kepalaku terlintas akan dirinya yang sayu di atas ranjang.


"Fokus, Rendra! Fokus!" Kuusap wajah agar kembali lurus, maklum lah, baru merasakan indahnya surga dunia.


"Kamu sudah mulai mengajar lagi, Rendra?"


Sebuah suara dari belakang membuatku sedikit tersentak. Dengan sopan ku bergeser dan memberi jalan kepada seniorku ini. Bu Yeni melihatku dengan tatapan yang kurang menyenangkan. Aku mengerti alasannya, apalagi kalau bukan mengenai masalah tentang Gendis, keponakannya.


"Sudah, Bu. Mulai hari ini saya kembali mengajar."


Bu Yeni terlihat tak menanggapi penjelasanku, sedikit menganggukan kepala angkuh, aku pun menunduk menyilakannya untuk lewat. Dia bergerak menuju ruang perkuliahan.


Saat perjalanan ke kampus tadi, Nesya mengatakan akan kuliah dengan Bu Yeni. Meskipun Gendis sudah bebas dari tahanan sementara, tetapi kami yakin dia akan kembali.


Aku pun mulai menuju ruang kuliah bagi anak tingkat pertama. Di atas meja terlihat ada banyak surat yang tersusun. Aku ambil surat tersebut satu per satu.


"Jangan baca sekarang, Pak!" ucap salah satu mahasiswi.


"Ini surat apa? Apakah semua mengalami masalah kesehatan?" Aku kembali mencoba membuka surat tersebut.


"Saya rasa itu bukan surat izin untuk tidak hadir kuliah, Pak. Hari ini semua mahasiswa kelas ini hadir dan lengkap." terang ketua kelas.


"Oh, ini hanya sampah yang belum dibersihkan?" Aku pun menyingkirkan surat-surat tersebut masuk ke dalam laci.


"Yaaah, Pak?"


"Yaaah, kok masuk situ?"

__ADS_1


"Aduh!"


Aku mendengar kekecewaan para mahasiswi. Hal membuat aku mengira-ngira apa yang ditulis di dalam sana.


"Baik lah, lebih baik kita kembali fokus pada mata kuliah yang akan kita bahas mengenai lanjutan pertemuan sebelumnya."


*


*


*


Saat ini aku dan Nesya sedang menikmati makan bersama. Setelah bermacam bujukan, akhirnya dia tidak merajuk lagi. Usai makan siang, Nesya beranjak untuk pulang karena jadwal kuliahnya sudah usai.


"Dah, Sayang."


Cuuuuuup


"Udah nikah ini, ngapain malu? Jangan ngambek lagi, kan aku sudah bilang alasannya."


"Setidaknya—"


Kusumpal lagi bibirnya yang manyun itu dengan kecupan kecil. Dia terdiam dan mendorongku kembali lirik kiri kanan seperti buronan.


"Udah, ah! Aku cabut dulu. Jangan lirik-lirik daun muda ya? Kalau ketahuan, awas!" ancamnya.


Sore hari hendak pulang, ponselku bergetar, kali ini adalah panggilan dari Kepala Dinas Pendidikan. Aku langsung menjawab panggilan tersebut. Ternyata kepala dinas membawa kabar gembira memberi informasi akan pembangunan SMK di dusun.


Setelah panggilan ditutup aku memikirkan kebahagiaan Nesya jika dia mendengar berita ini nantinya. Langkah ringan kutuju mobil yang sedang terparkir. Kendaraanku sudah terlihat, sambil melangkah aku menekan kunci otomatis dan masuk.

__ADS_1


Saat kendaraan mulai aku nyalakan, pintu di samping dan dua pintu belakang ikut terbuka masuk beberapa mahasiswi tingkat pertama yang aku ajar tadi pagi.


"Pak, kenapa surat-surat kami dibuang begitu saja? Ini adalah harapan kami, Bapak membuat kami kecewa."


Beberapa surat disodorkan kepadaku. "Apa ini?"


"Pak, kami semua cinta sama Bapak. Kenapa Bapak malah nikah sama dia? Kami nggak rela!" ucap yang duduk di sampingku.


"Iya, Pak ... kami gak rela!" ucap yang lain.


Akhirnya aku memilih mencabut kunci kendaraan membuka pintu dan keluar dari kendaraan tersebut. Aku menunggu beberapa waktu agar mereka keluar. Setelah mereka semua keluar, aku beri kode agar mereka semua berdiri tepat di hadapanku.


"Kalian tahu, apa yang baru saja kalian lakukan kepada dosen yang harusnya dihormati?"


Semua mahasiswi muda itu tertunduk dan saling sikut. Semoga saja itu sebagai ungkapan rasa bersalah.


"Sudah, saya harap kejadian ini tidak terulang lagi. Ini untuk pertama dan terakhir saya mendapat perlakuan yang tidak sopan!"


"Satu hal yang harus kalian tahu, saya adalah manusia biasa, dan saya adalah pria biasa. Saya melakukan hal yang sama seperti apa yang kalian lakukan, begitu juga membutuhkan hal yang sama dengan pria lainnya."


"Saya lelaki biasa, dan sudah wajib untuk menikah, tidak sama seperti idol negeri gingseng yang dilarang untuk menikah."


Gadis-gadis muda itu kembali melakukan aksi saling sikut. Mereka secara serempak menyerahkan surat itu padaku. Hal ini mulai membuatku merasa heran.


"Apa ini yang sedari tadi kalian sodorkan kepada saya?"


"Ini proposal, Pak." Gelagat mereka terlihat cukup aneh dan salah tingkah.


"Proposal apa?

__ADS_1


"Proposal menjadi istri yang berikutnya, Pak."


__ADS_2