
"Anak siapa itu? Kok nggak sopan banget?" tanya salah satu anggota gosip yang berkumpul bersama wanita gendeng itu.
Aku segera menarik Elena menghentikan Elena yang memukul-mukul Bu Gendis. Lalu semua yang berada dalam satu perkumpulan itu menatap panjang padaku.
"Lhoh, ini kan anak yang waktu itu rebutan ayunan sama anakku." seseorang menyela mengerutkan kening melihat anakku.
"Apa maksud Anda, Bu?" Aku benar-benar tidak paham apa yang dimaksud oleh wanita ini.
"Beberapa waktu lalu, papanyan membuat anak saya menangis." Bibirnya mengernyit tinggi sebelah dan terdengar dengkusan dari hidungnya.
Dia melipat tangan, berdiri miri menatapku dari atas hingga ke bawah dengan sebelah mata. "Jadi dia dosen sini ternyata?"
Aku sedang memakai kebaya yang beraksen payet mewah yang cukup mahal di tubuhku. Biasaya yang menggunakan kebaya adalah pasangan dari salah satu pejabat yang sedang dilantik.
Apa yang dilakukan Mas Aren? Kenapa bisa membuat anak ibu ini menangis? Aaah, mungkin salah orang. Mas Aren kan sangat menyukai anak kecil, dia pasti ngaco.
Lalu, dia bergabung pada geng Bu Gendis tadi. Mereka mulai berbisik, melirik ke arah ku dengan tatapan sebelah mata. Lalu raut wajah mereka terlihat berubah dan menyingkir begitu saja.
Kenapa lagi mereka? Aaah, apa benar dunia elite per dosenan seperti ini? Aku pikir, dosen tidak ada yang seperti itu.
Tiba-tiba sepasang tangan menutup kedua mataku. Elena terdengar mengeluarkan tawa renyahnya. Dari aroma yang terhirup olehku, sudah dipastikan dia adalah suamiku.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" bisiknya di telingaku. Tidak beberapa lama kemudian kedua tangan itu lepas.
__ADS_1
Aku pun memutar posisi tubuh menatap pria yang tadinya ada di belakang. "Selamat yaaa." ucapku memeluknya sejenak.
"Apa yang kamu lakukan?" Dia mengulang kembali pertanyaannya yang belum ada jawaban.
"Oh, tadi Elena main ke sini—"
"Wih ... Wih ... Semuanya sudah berkumpul ternyata." Gendis kembali datang dengan wanita yang tadi mengatakan Mas Aren.
"Oh, pantesan aja dia seperti itu. Masa anakku dibuat nangis? Ternyata dia menjadi aneh karena salah memilih pasangan. Oh, maksudnya pasangan yang dipaksakan lewat du— ups ..." Dia menutup mulut lalu tertawa berdua dengan Gendis.
Mas Aren menarik tanganku untuk menjauh darinya.
"Enak ya, nikahin janda? Tanpa menunggu lama dapat anak langsung gede." ucap wanita yang tadi melirik suamiku.
"Sudah, kayaknya jadi jagoannya nanti aja ya? Jangan di sini! Suamimu ini sedang ditonton banyak orang lho?" bisik suamiku saat mendekapku.
"Tapi, Mas?" Aku ingin protes, tetapi bibir ini sudah dipalang oleh oleh telunjuknya yang panjang.
"Iya, Bu ... Enak banget nikah sama janda. Aku yang kurang pengalaman ini jadi lihai di atas ranjang." ucapnya mengedipkan mata padaku.
"Iya dong, Sayaaang. Suami istri harus bagi pengalaman kan?" Aku peluk Mas Aren dengan sangat mesra, mengikuti permainannya menjadi keluarga yang harmonis.
"Bagaimana Bu Gendis? Apa tertarik juga dengan yang berpengalaman? Aku kenal ni, dia hebat banget dalam segala hal, terasuk di ... ranjang." ucap suamiku yang suaranya semakin kecil di akhir ucapan.
__ADS_1
"Siapa orangnya?" tanya wanita yang ternyata teman Bu Gendis.
"Itu ...." Mas Aren menunjuk seorang yang telah cukup berumur. Rambutnya telah putih semua, dengan kerutan yang telah memenuhi segala sisi di tubuh, termasuk wajahnya.
Beliau memang adalah orang yang sangat hebat dan begitu terkenal di kampusku. Seseorang yang pernah menjadi rektor dua kali periode, dan sekarang sudah menjelang masa pensiun.
Secara refleks, aku menepuk kening melihat tingkah Mas Aren ini yang membuat wajah Bu Gendis merah padam.
Mas Aren menarikku untuk segera menjauh dari lokasi ini. "Ayo, kabur dulu, sebelum dia mencak-mencak." bisiknya. Setelah itu, Mas Aren menggendong Elena dan mengajakku untuk segera menjauh.
Aku lirik sejenak, Bu Gendis mengepalkan kedua tangannya di depan dada, menghentak kan kakinya beberapa kali. Sementara temannya yang berada di sebelahnya menepuk pundak Bu Gendis yang telah memasang wajah merahnya.
"Ingat, Sayang. Di sini itu, bukan ring tinju. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan baku hantam. Jadi, jangan mudah tersulut oleh emosi yaa. Kamu udah jadi ibu negara mulai hari ini." Mas Aren mengusap kepalaku dengan rambut yang telah tersanggul dengan rapi.
"Gayamu kayak ini bener-bener seperti ibu-ibu pejabat lho?" Lalu dia tersenyum jahil.
Setelah itu, kami semua ke rumah mertuaku. Orang tuaku juga ikut untuk syukuran pengangkatan Mas Aren menjadi pejabat di jurusan.
"Ini cucuku, anak dari Nesya, anakku." terdengar suara seorang pria yang aku hafal sekali itu suara Bapak.
"Ini cucuku juga, anak dari Aren, anakku." kali ini terdengar suara dari papa mertua.p
Aku pun melihat apa yang terjadi. Tampak wajah Elena yang bingung karena tangannya ditarik dari dua sisi oleh dua orang yang dipanggil datuk, oleh putriku.
__ADS_1
"Nesya, Aren ... Kapan rencana nambah momongan? Jangan sampai keburu Alven nikah, kalian masih belum punya momongan juga."