
Dengan sedikit menahan rasa malu, aku kembali muncul bersama suami. Suamiku terlihat sangat santai tanpa rasa canggung melanda dirinya.
Aku langsung menuju ke dapur merapikan peralatan usai masak tadi. Di san ada Mak yang senyum-senyum melihatku membuatku menjadi sangat malu. Dari dapur ini terdengar obrolan Elena dengan suamiku.
"Pa, udah selesai memandikan Ibuk? Tadi mandikan ibuknya yang bersih kan?"
"Oooh, jelas ... Kalau Papa yang memandikan tentu bersih banget."
"Pphhhffff ..." terdengar ledakan tawa yang tertahan oleh Mak.
"Dia bercanda kok, Mak. Dia memang suka begitu." Wajahku sudah terasa sangat panas. Namun, bagaimana lagi? Yaaa, hmmm ... Ah ... aaau aah.
*
*
*
Keesokan harinya aku melambaikan tangan menatap kepergian suamiku ke kampus. Aku tidam berangkat karena jadwal yang hanya satu mata kuliah diundur saat akhir minggu yang kosong.
"Horeee, Ibuk tidak sekolah. Elena bisa main lama-lama sama Ibuk." Elana melompat-lompat kegirangan.
"Elena seneng banget ya kalau Ibuk di rumah?"
"Iyaaaa, Elena seneng bangeeeet."
Kepala Elena aku usap karena gemas melihat tingkahnya. Aku pandangi Kak Vina sejenak, dia terlihat tidak bersemangat.
"Kenapa, Kak?"
__ADS_1
"Haaaah, huuufff ..." Dia hanya menghela nafas panjang.
"Malah bikin aku makin penasaran kalau gitu." Aku pandangi Kak Vina yang lesu tak seperti biasanya.
"Aku kapan ya bisa menikah juga? Aku mengiri melihat kemesraan kalian."
Oh, apakah sikap kami terlalu berlebihan di hadapan karyawan? Menurutku sih biasa saja. Karena aku selalu membatasi diri dengan sikap yang sewajarnya saja bersama suami saat di depan khalayak.
Sementara yang sudah biasa aja, masih saja ada yang seperti Kak Vina. Apalagi jika aku benar-benar mengumbar kemesraan? Semua orang pasti mau muntah di belakangku. Lalu pelakor pun muncul dan berkembang bersiap menjerat pria yang aku cintai ini.
"Pertanyaannya, saat ini Kak Vina pacaran dengan siapa hayoooo?"
Kak Vina hanya memberi jawaban dengan tersenyum kecut kepadaku. "Seandainya saja ada yang sekelas Mas Aren jatuh cinta padaku, aku pasti klepek-klepek jadi budak cintanya." Lalu, Kak Vina menghela nafas panjang kembali.
"Semangat ya Kak, jodoh, rezeki, dan anak, sudah ada yang ngatur. Kita hanya tinggal berdoa dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Hingga kita bisa dijodohkan dengan orang terbaik."
Kak Vina menaikan alisnya sejenak. Tak lama setelah itu, Kak Vina tersenyum dengan wajag ingin menggodaku. " Jadi Mas Aren bener-bener terbaik ni?"
Kak Vina terkekeh dan sedikit menggelengkan kepala. Berhubung ada aku, dia melanjutkan pekerjaan ke bagian penyetrikaan. Sehingga yang duduk di bagian depan dan kasir di saat kosong begini, tentu saja aku.
Hari ini yang datang menjemput dan menitipkan cucian sangat ramai. Apakah setiap hari Kak Vina mengalami ini? Dia pasti sangat lelah, ditambah lagi sebelum orang tuaku datang dia nyambil mengasuh Elena juga.
Sepertinya Kak Vina pantas mendapatlan bonus. Padahal gaji dia lebih besar dibanding karyawan lain, tetapi aku merasa dia sangat pantas diberikan apresiasi dalam bentuk bonus yang bisa menghiburnya.
Kira-kira apa ya?
"Ekheemm ..."
Aku yang sedang merenung dikejutkan oleh suara pria yang telah berada tepat di hadapanku.
__ADS_1
"Bang Alan?"
"Kamu lagi nggak kuliah ya?"
"Hmmm, lagi kosong aja." Aku lihat dia tidak membawa satu apa pun. "Mau jemput pakaiannya yang Bang?" tanganku menengadah meminta resi atau catatan laundry miliknya.
Dia menggelengkan kepala. "Akhir-akhir ini aku lebih suka mencuci sendiri karena aku kehabisan uang."
"Loh? Tumben sekali? Kamu masih bekerja menjadi pengasuh, si Dilan kan?"
Dia menganggukan kepala dan sedikit menghela nafas. "Ya, aku baru sadar setelah mencoba menjadi laki-laki yang baik." ucapnya.
"Hmmm, sepertinya kamu sangat mencintai Lingga." Aaah, aku meceplosan. Aku tak bisa menyembunyikan rasa iri di hatiku marena Bang Alan yang baru sekedar berpacaran dengan Lingga saja, sudah berani habis-habisan.
Sementara di saat aku dulu ... Hmmm ... sepertinya memang kondisi saat bersamaku dulu memang sangat berbeda dengan sekarang.
Rasanya tak pantas juga aku merasa iri kepada Lingga. Aku lihat kembali benda pipih yang dibelikan suamiku lebih mahal dibanding yang dibelikan Bang Alan untuk Lingga.
Namun, jujur ... ini selalu saja mengganggu perasaanku. Oooh, rasa iri itu harus aku buang jauh-jauh. Suamiku yang terbaik! Suamiku selalu tau apa yang aku ingin kan. Oke, fokus! Orang yang di hadapanku ini hanyalah masa lalu!
Anggap saja kehadirannya ini seperti kentut yang keluar di saat yang tidak terduga, yang menyisakan bau sesaat saja, tetapi akan menghilang kembali.
"Nesya? Nesya?" Sebuah tangan melambai kiri kanan tepat di depan wajahku.
"Apa kamu sedang mengingat masa lalu kita dulu? Apakah seindah itu sehingga membuatku terus merenung seperti ini?"
"Bang, boleh nggak aku jujur?"
Bang Alan tersenyum menganggukan kepalanya cepat. "Tentu saja! Aku senang jika kamu jujur dan masih merasakan cinta kepadaku."
__ADS_1
Aku sangat terkejut dengan ucapannya barusan. "Cinta? Secuil pun sudah tidak ada selain penyesalan karena mengenalmu lebih dulu dibanding mengenal Mas Aren."