
"Jadi begitu?"
Bang Alan terlihat lebih terkejut lagi dengan apa yang aku ucapkan. Wajahnya yang tadi terlihat sangat segar, tiba-tiba terlihat layu. Apakah perkataanku terlalu berlebihan?
"Baik lah, sepertinya aku sudah tahu jawaban apa yang akan kamu beri. Sepertinya kehidupanmu jauh melebihi kebahagiaan di saat bersamaku."
Bang Alan terdiam sejenak menarik nafas dengan dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Meskipun kamu menyesal pernah bersamaku, aku harap kamu tidak akan pernah menyesali kehadiran Elena di antara kita."
"Tentu, hanya Elena satu-satunya yang paling berharga di antara kisah kita. Namun, aku berharap beribu kali padamu, jangan jadikan Elena sebagai tameng untuk menyembunyikan segala kesalahan yang telah terjadi pada kisah kita."
Aah, apa yang terjadi padaku? Kenapa hari ini aku begitu tak terkendali? Padahal aku tidak lagi PMS. Bang Alan mulai tak bergeming, dia memasang wajah datar dan pergi begitu saja.
Hmm, bagaimana ini? Apa dia marah kepadaku? Apakah aku sangat keterlaluan? Akhirnya, karena merasa sangat tidak enak hati, refleks kaki ini bergerak cepat mengejarnya.
"Bang, tunggu!"
Bang Alan berhenti dan melirikku sejenak. Lalu dia pergi dengan wajah yang tak bisa aku artikan. Kaki ini, ya kaki ini terus mengejarnya sambil berteriak memanggilnya.
Namun, karena ada bagian lantai parkiran yang berlobang, membuat kakiku tersandung dan hampir jatuh. Mataku telah terpejam sempurna bersiap merasakan sakitnya tubuh ini terhempas di lantai. Akan tetapi, ternyata ada sepasang tangan sudah menyambut tubuhku.
Perlahan aku buka mata, melihat wajah dingin sudah berada di bawahku. Di hadapanku, Bang Alan hanya berdiri melirik kami berdua.
__ADS_1
"Kenapa kamu terburu-buru begitu mengejar dia?" Nada suaranya sangat dingin, tetapi masih membantuku untuk bangkit.
"Lhoh? Bukannya udah berangkat? Kenapa balik lagi?"
"Hmmm, jadi begini?" Mas Aren menuju ke lantai atas dengan pertanyaan yang menggantung dibuatnya.
"Aku pergi!" Bang Alan tanpa menanyakan keadaanku yang hampir memeluk lantai karena mengejarnya, malah pergi begitu saja tanpa merasa bersalah.
Tak lama, suamiku kembali turun membawa sesuatu di tangannya. Sejenak dia melirik kiri dan kanan, tetapi tidak menemukan siapa pun yang dicarinya.
"Jika ini tidak ketinggalan, mungkin aku tidak akan mengetahui keberadaannya. Mungkin aku juga tidak akan tahu bagaimana kamu jatuh bangun mengejarnya." Dia berlalu menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.
"Tunggu, Mas. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!"
Mas Aren tidak bergeming tanpa menanggapiku. Dia terus berjalan menuju kendaraannya lalu beranjak pergi tanpa berkata apa-apa kepadaku.
Aku pandangi kakiku yang akan aku kutuk setiap saat. Kaki ini kenapa harus mengejar dia sih? Dia kan bukan orang yang harus aku pikirkan perasaannya.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Suamiku marah pada hal yang aku sendiri tidak tahu apa yang telah dipikirkannya.
*
*
__ADS_1
*
Saat malam hari, aku mondar-mandir di bagian depan toko bersama Elena. Suamiku belum pulang, di saat waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Buk, Papa kok belum pulang juga?" celetuk gadis itu yang sudah biasa menemukan ayah sambungnya saat pukul enam sore.
"Elena, ayo naik dulu! Biar kan Ibuk yang menunggu Papa." ucapku.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dengan kokoh. "Elena mau lihat Papa pulang juga. Elena kangen Papa." ucapnya.
Satu jam kemudian, aku mengangkat Elena yang telah tertidur dalam gendonganku. Bapak dan Mak juga menunggu dalam keadaan khawatir.
Setelah meletakkan Elena pada ranjang di kamarnya, aku berencana akan menunggunya kembali. Namun, Bapak mencegat menyuruhku menghubungi lewat jalur telepon saja.
"Aku sudah mencoba semenjak tadi, Pak. Hanya saja panggilannya nggak kunjung masuk." jelasku.
"Semoga dia baik-baik saja. Bapak khawatir jika dia kecelakaan." ucap Bapak membuatku semakin takut.
"Semoga aja tidak ya, Pak."
Hingga esok hari, Mas Aren tak kunjung pulang juga. Mataku yang cukup sembab, menggambarkan dengan nyata bahwa aku tidak bisa tidur semalaman, menanti suami yang tak kunjung pulang.
Namun, pagi ini aku ada jadwal kuliah pagi, memaksaku untuk tetap pergi meski hatiku terasa merana karena hampa, menanti kabar dari suamiku.
__ADS_1
Karena motorku telah raib dibawa begal, aku lebih memilih menumpang pada ojol. Di jalan aku melihat bayangan suamiku keluar dari hotel.
"Aah, tidak mungkin. Mana mungkin suamiku tidur di hotel tanpa mengajakku?"