Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
46. Fokus!


__ADS_3

Hari ini adalah akhir minggu, lumayan sekali buatku untuk sejenak beristirahat dari rutinitas yang lumayan berat kujalani beberapa waktu terakhir. Hari ini aku bisa fokus terhadap dua hal, yakni Elena dan Laundry.


Barangkali saja, aku bisa menangkap orang yang mencurangi pekerjaanku ini. Baik lah, sebelum semua karyawan datang bekerja, aku akan membereskan segalanya. Mulai menyiapkan pakaian yang sudah kering, pakaian kotor yang kemarin dibawa dari rumah keluarga Bu Jenie, menyiapkan parfum untuk setrikaan. Semuanya sudah aku siapkan semenjak usai Subuh.


🎵 la la la 🎵


Terdengar ringtone dari ponselku menyanyikan sebuah lagu petanda ada panggilan masuk. Aku pikir, itu adalah panggilan dari Lingga atau Kak Vina, ternyata, panggilan tersebut merupakan telepon dari nomor yang belum aku simpan.


Karena merasa tidak mengenal kontak tersebut, aku abaikan dan melanjutkan pekerjaan kembali. Aku juga melakukan persiapan terhadap beberapa hal lain, dan tentunya harus menyiapkan sarapan pagi untuk anakku.


🎵 la la la 🎵


Kembali nada dering ponselku menyanyikan lagu yang sama. Aku lihat masih dari kontak yang sama. Hmmm ... siapakah gerangan yang ingin berbicara denganku sepagi buta ini? Akhirnya, aku memutuskan untuk menggeser tanda hijau pada panggilan tersebut.


"Hallo?"


"Halo mahasiswaku yang cantik."


degh


Ini seperti suara Pak Arendra. Sikapnya jadi semakin aneh saja? Oke, Nesya! Kamu harus fokus! Oke! Fokus!


"Pak Aren?"


"Rendra!"


"Terserah lah, Pak. Ada apa? Kenapa subuh-subuh begini sudah menelepon?"


"Ooh, aku ingin membangunkanmu saja. Mengingatkan agar kamu jangan melewatkan waktu Subuh yang berherga."


"Hmm ... terima kasih." Aku kembali melakukan pekerjaan lain yang harus aku lakukan. Panggilan Pak Arendra aku pasang mode speaker.


"Gitu aja?"


"Ya, soalnya tanpa diingatkan pun saya sudah melaksanakannya."


"Oh, begitu? Bagus lah! Sekarang kan akhir minggu. Ajak Elena joging ke pantai yuk?"


"Gak usah, Pak. Saya lagi banyak pekerjaan."


"Wiiih, rajin bener?"


"Kalau gak rajin, gak makan, gak bisa bayar uang kuliah."


"Diih, segitu amat nyari duit? Akhir minggu itu buat nenangin otak, istirahat, healing ... istilah modern masa kini."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak. Udah dulu ya, masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan."


"Tapi---"


Panggilannya aku tutup. Aku harus fokus! Tak ada lagi yang namanya jatuh pada lubang yang sama. Aku harus menyelesaikan kuliah ini tanpa ikatan apa-apa. Aku pun merasa sikapnya benar-benar aneh.


*


*


*


Hari pun berganti sore. Rencana untuk melakukan operasi tangkap tangan terhadap pelaku pun gagal dilaksanakan. Hal ini mungkin karena dia tahu aku selalu standbye. Jadinya, sang pelaku menungguku untuk meninggalkan tempat.


Ketika malam datang, saat Elena sudah tidur, aku mulai mengangsur mengerjakan tugas yang diberi dosen untuk satu minggu ke depan. Segala kegiatan yang aku lakukan ini membuat waktu berlalu tanpa terasa.


🎵 la la la 🎵


Kembali, panggilan masuk dan aku lihat layar adalah panggilan video yang dilakukan oleh Pak Arendra. Hmmmff ... males banget rasanya melakuakn videocall begini. Aku abaikan dan melanjutkan tugas kuliah.


🎵 la la la 🎵


Kembali nada dering berbunyi dan masih dalam panggilan video. Kali ini terpaksa aku jawab, tetapi ponselnya aku taruh di atas meja. Sehingga, yang bisa dilihat oleh sang penelepon hanya plafon dan segala yang ada di sana.


"Nesya? Nesya? Orangnya mana?"


"Mukanya mana? Kenapa cuma lihat plafon?"


"Masih di tempat yang sama, Pak."


"Lagi apa, sih?"


"Ngerjain tugas kuliah."


"Rajin bener?"


"Iya, harus rajin. Kalau gak rajin, gak bakalan lulus dengan nilai bagus."


"Istirahat dulu! Kita keluar buat malam mingguan yuk."


"Tidak bisa, Pak. Elena sudah tidur. Nanti dia menangis jika aku bangunkan cuma buat keluar malam-malam."


"Kalau begitu, aku main ke sana boleh nggak?"


Aku lihat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. "Tidak usah, Pak. Sudah terlalu malam. Nanti kita digrebek orang dan dituduh melakukan sesuatu yang aneh."

__ADS_1


"Selalu aja punya alasan! Ya udah lah!"


Panggilan pun ditutup. Sepertinya dia kesal. Namun, aku mah egepe aja. Gak mau ambil pusing dan terlalu perhatian. Fokus Nesya! Fokus!


*


*


*


Waktu pun terus berganti dari hari ke hari. Aku terus berusaha untuk menghindari Pak Arendra. Saat perkuliahan dengannya, aku memilih duduk di bangku paling belakang.


Ketika pas-pasan di jalan atau koridor sempit pun dia tak menoleh padaku sama sekali. Ya, ini lebih baik. Aku tak perlu lagi terus sembunyi dan menghindar darinya.


Mumpung ada waktu luang, aku kejar untuk pulang sejenak. Aku lihat, waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi. Jadwal berikutnya adalah usai istirahat siang. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk melancarkan rencana yang tertunda, dan terus membuatku merugi dari hari ke hari.


"Ga, aku pulang dulu sebentar ya?"


"Mau ngapain? Kan masih ada kuliah nanti siang?" Lingga memasang wajah heran.


"Ada urusan yang harus aku bereskan di rumah."


"Kan bisa nanti siang?" Lingga terlihat keberatan. Dia pasti takut sendirian saja sembari menunggu jadwal berikutnya. Aku kasihan juga sih, tetapi aku harus segera menyelesaikan segalanya. Jika tidak, parasit itu akan terus menggerogoti dan membuatku merugi secara perlahan.


Jika aku bawa Lingga ke rumah, aku takut dia akan histeris mengetahui sebenarnya aku ini telah memiliki anak. Aku belum hafal akan watak yang sebenarnya, aku harus bisa menutup rapat rahasia ini. Aku tak ingin semua orang mengetahui aku adalah janda beranak satu. Aku takut, mereka akan mengolok dan menghinaku.


"Aku mohon kamu memahamiku ya? Untuk hari ini aja kok." Aku pun menyegerakan diri beranjak meninggalkan Lingga. Semoga saja dia tidak marah dan memahamiku tanpa banyak bertanya.


Saat di parkiran motor, aku menemukan Pak Arendra juga tengah mengambil kendaraan roda dua yang entah milik siapa. Wajahnya terlihat dingin dan menatapku dengan wajahnya yang membuatku takut.


"Permisi, Pak." Aku menganggukan kepala menyalakan motor hendak cabut darinya dengan segera.


Akan tetapi, sebuah tangan mematikan mesin motor yang telah menyala dan mencabut kuncinya. Aku turun dari kendaraan itu, dan segera merebutnya. Dia meninggikan kunci dengan tangan diangkat ke atas setinggi mungkin.


"Pak, Pak? Saya buru-buru. Berikan kuncinya!" Aku melompat menjangkau kunci tersebut.


Namun, dia bergerak tanpa suara menggantungkan kunci motor tersebut pada kerangka atap parkiran ini. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia menyalakan motor dan pergi begitu saja.


"Dasar kekanakaaaaan!" Aku berteriak melihatnya terus meninggalkanku. Ogah banget sama pria macam itu. "Ciiih!"


Aaah, ada-ada saja yang terjadi. Hah, kunci tersebut digantung di rangka kayu sebagai penyangga atap parkiran. Aku melompat-lompat untuk mencoba menjangkaunya. Namun, tinggi tubuh yang tidak seberapa ini, membuatku kalah duluan sebelum berperang.


Aaaah, aku panjat pakai motor saja. Aku pun segera meletakan motor milikku tepat di bawah posisi kunci. Aku pasang standar dua kaki motor dan mencoba untuk memanjat di atasnya.


Saat tangan hampir menjangkau kunci, motorku miring dan akan rebah. "Aaaaahh---" Teriakanku terhenti saat ada yang menahan motor dan tubuhku.

__ADS_1


"Kamu? Bukannya kamu ibu dari anak kecil bernama Elena itu?"


__ADS_2