
"Itu adalah obat yang paling mujarab dibanding segala obat yang ada di bumi ini." suaranya mulai mendayu berbisik tepat di daun telingaku. Tangannya mulai aktif menurunkan bagian pakaianku.
"Mas?"
"Hmmm ...."
"Jadi kalau lagi kalut pun masih ingat anu ya?"
Sejenak, terulas senyuman jahil pada bibirnya. "Hmmm, pengeeen ..."
"Aku hati-hati kok, abis ini aku janji ga akan memusingkan masalah ini lagi."
Lalu, apa yang terjadi, terjadi lah ...
"Tutup mulutnya yang rapet yaa, jangan sampai kedengeran sampai ke sebelah." ucapnya membuatku refleks mencubit pinggangnya.
"Aaawww!" teriaknya.
"Ekhemmmm ..." terdengar deheman dari arah kamar sebelah.
"Sssstt! Katanya ga boleh bersuara?" Aku bersungut gara-gara malu.
"Abis, kamu sih? Cium dong? Jangan dicubit?" Dia langsung menyambar bibirku dan apa yang diharapkan pun terjadi.
Yah, istri ... begini lah. Nyenengin dia ya harus dilayani itunya.
*
*
*
Saat pagi datang, suamiku menyambut dengan senyuman lebar tepat di depan wajahku. Dia menyugar rambut yang menutupi wajahku.
__ADS_1
"Selamat pagi, Sayang." bisiknya hangat menarikku naik ke dadanya.
"Sepertinya gundah gulananya sudah kabur ya?" Kucium pipinya dibalas ciuman di bibir.
"Iih, belum sikat gigi?" ucapku menutup mulut.
"Yah, tidak apa. Ini sudah berbagi semua kan. Sampai ke jigo—" Dia tidak melanjutkan ucapan karena aku sudah menatap tajam padanya. "Kok kamu lihat aku gitu?"
"Malu, tauk?"
"Lah? Udah suami istri gini masih malu-malu segala? Apakah dulu kamu begini juga?"
Aah, dulu? Aku rasa dulu dan sekarang sangat berbeda. Aku ada saat dia berhasrat saja, tidak hanya itu, dia membutuhkan ku bila sudah waktunya mengisi perut. Di saat itu lah dia baru mengingatku sebagai istri.
Aku kembali memeluknya manja. "Kalian berbeda, tentu saja perlakuan terhadap kalian juga berbeda. Bersamamu, aku benar-benar merasa arti cinta yang sebenarnya."
"Dih, dulu aja sok jual mahal?" candanya memainkan rambutku.
"Ya, namaya juga trauma. Aku juga trauma bila suamiku terlalu dekat dengan banyak wanita. Aku gak suka."
"Kenapa ketawa?"
"Enggak," ucapnya.
"Ayooo, kenapa ketawa?"
"Aku hanya seneng. Ternyata kayak gini rasanya kalau dicemburuin. Meski membuat kepalaku pusing, tetapi meningkatkan rasa kepercayaan diriku."
"Enggak ah, aku gak cemburu." Akhirnya aku bangkit menuju kamar mandi.
Akan tetapi, suamiku mengejar dan menggendongku masuk ke kamar mandi. Kami membersihkan diri bersama dan melaksanakan kewajiban subuh bersama.
Setelah itu, aku langsung menuju dapur menyiapkan sarapan sebelum orang tuaku bangun. Mas Aren membantuku mencuci piring dan membersihkan kompor usai memasak.
__ADS_1
Sejenak aku lirik dia yang dulunya selalu kujauhi. Aku merasa sangat beruntung memilikinya. Semoga saja, keluarga kami selalu rukun seperti ini. Semoga dia selalu sabar menghadapiku, aah ... Aku juga harus menjadi istri terbaik, agar tak berpaling.
Aaah, apa lah aku jika pria yang aku cintai akan melakukan hal yang sama kembali. Mungkin kali ini aku bisa mati, jika itu terjadi lagi. Aku mencintai Mas Aren, jauh lebih besar dibanding yang dulu.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
Aku menggeleng pelan karena aku merasa malu jika mengakui bahwa aku baru saja memikirkannya. Padahal, kenyataannya dalam kepala ini dia telah memenuhi setiap sel dan rongga.
"Kamu kebelet ya?"
Aku kembali menggeleng, kali ini lebih cepat. "I love you. Terima kasih atas segalanya. Aku pun akan berusaha selalu ada untukmu. Jadi, kamu jangan pernah memendam apa pun yang kamu pikirkan ya? Saat ini, kamu sudah memilikiku sebagai tempat berbagi. Itu lah makna pernikahan yang sebenarnya."
"Bukan hanya ada aku, atau pun kamu saja. Saat ini kita adalah satu, segalanya tentang kita."
Mas Aren mengulas senyuman di bibirnya. Dia mencubit daguku menggoyangnya beberapa kali. "Duuuh, kok romantis banget siii."
"Ekheeemm." Deheman kembali muncul dari balik pintu kamar sebelah.
Mas Aren pura-pura merapikan meja makan yang sudah rapi. Bapakku keluar dengan senyum cerah di bibirnya. Aku lihat, wajah Bapak tampat bahagia. Semoga Bapak betah tinggal di sini.
*
*
*
Seperti biasa, kami berpisah di kampus. Dia menuju ruang kerjanya, sementara aku menuju lokasi tempat Lingga menantiku. Dia menunggu di sebuah taman sedang melakukan video call dengan seseorang.
Sejenak aku intip, dan ternyata dia bersama Bang Alan. Syukur lah jika Lingga terlihat bahagia bersama Bang Alan. Aku pun mengharapkan, semoga mantan suamiku itu benar-benar telah berubah.
Setelah menyudahi obrolannya, Lingga kembali fokus berbicara denganku. Kali ini kami memang semakin dekat, meski jadwal perkuliahan kami banyak yang berbeda.
"Nesya, sebenarnya Bang Alan itu bagaimana sih?"
__ADS_1
"Menurutmu dia bagaimana? Kamu kan sudah cukup lama mengenalnya." perntanyaannya aku kembalikan lagi.
"Dia baik sih, tapi dia itu kok kayak ... hmmm ... Rada tidak ikhlas bila memberikan sesuatu kepadaku?"