Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
38. Rumah atau istana?


__ADS_3

Apaan sih Pak Arendra itu? Suka-suka dia aja membuat peraturan? Aku pun berjalan mendekat dan langsung merebut catatan yang ada di tangannya, dan catatan itu langsung aku sobek.


"Ooh, sekarang kamu semakin berani pada saya ya?"


Sobekan catatan itu kutiupkan dengan secantik mungkin agar terbang tepat di hadapan wajahnya. Sobekan-sobekan kertas itu terbang laksana salju yang turun dengan lambat. Dia tersenyum di antara celah potongan kertas tersebut.


Tangannya kembali menarik memo yang ada di dalam kantong kemeja sebelah kiri. "Tenang! Saya punya banyak persediaan. Jadi semua catatan yang sudah saya tulis, telah tersimpan dengan baik di dalam memori saya.


Satu lagi ya, kamu mendapat denda dobel. Pertama, kamu mencoba kabur di saat saya sedang menambah list hutang untukmu. Kamu sudah meminta saya menyimpan rahasia bukan? Harus ada upah dong? Masa iya tak ada feedback buat saya?"


"Denda kedua, karena kamu sudah sangat tidak sopan merebut memo dari tangan saya, lalu merobek dan melemparkan kepada saya. Jadi, siap---"


Tanganku sudah menu tup mulutnya yang se mena-mena membuat peraturan di saat yang tidak tepat seperti ini. Aku tarik pundaknya agar sedikit membungkuk dan aku bisikkan sesuatu terhadapnya.


"Saya mohon, Pak. Anak saya sedang sakit. Nanti saya akan beri parfum lagi untuk Bapak."


"Yang kemarin saja belum kamu bayar. Kamu hobi ya, menumpuk hutang ya?"


"Ooh, iya ... kemarin itu saya---"


"Ayo, kita pulang bareng. Rumah saya arah sana juga." Dia menyela ucapanku.


Walah? Kenapa dia malah menawarkan pulang bareng? "Tidak usah, Pak. Terima kasih. Saya bawa kendaraan sendiri." Kutangkupkan kembali kedua tangan di hadapan Pak Arendra. "Saya pamit, Pak."


Aku segera melangkahkan kaki dengan kecepatan penuh. Di telingaku, suara Elena seakan terus memanggil. Apa seharusnya aku libur saja, jika esok Elena masih belum membaik? Kita pikirkan saja nanti, yang penting saat ini mesti bergegas pulang.


Aku segera mengendarai motor, dan menuju ke rumah sekaligus tempat meraup uang. Aaah, ya ... beberapa waktu terakhir aku juga heran, kenapa uang yang masuk selalu tidak sesuai dengan jumlah cucian yang ada di catatan.


Aku harus menyelidikinya dengan diam-diam. Sebelum pulang, aku membeli CCTV yang bisa dipasang secara manual. Karena ini sangat rahasia, aku hanya meminta sang penjual mencarikan CCTV portabel.


Lalu sang penjual memberikan CCTV dalam bentuk boneka. Tidak hanya itu, penjual langsung menginstalasi aplikasi sehingga aku bisa melihat video yang terekam dalam kamera tersebut secara langsung di ponselku.

__ADS_1


Nanti, kamera ini akan aku taruh pada malam hari agar tidak ada yang mengetahui ada alat yang bekerja secara diam-diam menggantikan aku.


Saat sampai di rumah, aku sangat bersyukur. Ternyata Elena sudah kembali ceria bermain dengan Kak Vina. Kak Vina menyambutku dengan sapaan yang menurutku sangat aneh.


"Bagaimana kabar Pak Dosen kita?"


"Dosen yang mana? Dosenku banyak banget." Sepertinya aku tahu arah bicara Kak Vina. Namun, aku tidak mengerti apa alasan dia menanyakan pria itu kepadaku.


"Siapa lagi? Aku cuma kenal sama satu orang aja yang jadi dosenmu itu."


Bang Jojo melewati kami. Kak Vina terlihat meliriknya dengan sedikit aneh. Hal itu tidak luput dari pandanganku. Apa yang terjadi? Ada apa di antara mereka?


"Kak, kakak beran tem dengan Bang Jojo?"


Kak Vina sedikit terkesiap saat aku menangkap basah dirinya yang memperhatikan Bang Jojo dari sudut matanya. Kak Vina menggeleng membelelai Elena, dan menyerahkan Elena kepadaku.


"Sepertinya Elena sudah baikan ya, Kak? Aku sampai kepikiran dan tidak berkonsentrasi dengan perkuliahan hari ini." Aku peluk dan cium Elena. Aku periksa suhu tubuhnya sudah tidak demam lagi.


"Ada apa sih? Kakak suka sama Bang Jojo?" candaku mencoba mencairkan suasana.


Kak Vina tersenyum kikuk dan terlihat canggung. "Baik lah Kak, ada sesuatu yang lain kah hari ini? Atau ada pesanan cucian skala besar nggak?"


"Astaghfirullah ... aku sampai lupa karena menunggumu di sini. Tante Jenie memintaku untuk menjemput pakaian kotor dari rumahnya. Soalnya tidak ada orang di rumah. Jadinya minta dijemput."


Aku lihat waktu sudah sangat sore. Kak Vina pasti sangat kelelahan. "Biar aku yang jemput Kak, berhubung masih dari luar. Elena akan aku bawa sekalian."


Kening Kak Vina terlihat berkerut. Elena biar di sini denganku. Nanti kalau kecapean, dia malah sakit lagi. Aku pikir-pikir, benar juga apa yang diucapkan Kak Vina.


"Baik lah, ini tidak akan lama kok. Aku akan menjemput sekaligus mengantar pakaian bersih milik keluarga Bu Jenie ini sebentar. Rumah Bu Jenie di perumahan gede yang agak pojokan dikit itu kan?"


Kak Vina mengangguk dan tersenyum jahil. "Ciiiee, sampai hafal posisi rumahnya meski belum pernah ke sana."

__ADS_1


"Iya, harus aku hafal. Soalnya keluarga Bu Jenie adalah pelanggan setia di sini." Aku lambaikan tangan dan segera bergerak menuju rumah Bu Jenie.


Oh iya, aku lupa menanyakan kepada Kak Vina. Bu Jenie punya asisten rumah tangga nggak sih? Terus kalau kosong, kepada siapa aku harus minta pakaian kotor tersebut?


Motor matic yang sudah dimodif dengan keranjang di belakang yang sudah terisi pakaian bersih pun sudah terparkir tepat di depan rumah Bu Jeni. Dari arah luar, rumah Bu Jenie tidak terlihat sama sekali. Karena sekeliling rumahnya berdiri dinding tinggi yang memagari rumahnya. Mirip rumah-rumah di drama asia yang aku tonton.


Di pinggir pintu gerbang yang tertutup terdapat tombol bewarna merah, aku segera menekan benda tersebut. Terdengar suara sahutan dari alat elektronik yang terletak dekat bel itu.


"Siapa?"


"Kami dari Surganya Laundry akan menjemput pakaian kotor, sekaligus mengantarkan pakaian bersih milik Bu Jenie." jawabku mendekat pada bagian elektronik yang mengeluarkan suara tersebut.


Tanpa jawaban, pintu gerbang terbuka dengan sendirinya. "Walaaah, canggih bangeeet ...." Aku segera membawa motor masuk ke dan gerbang tersebut tertutup kembali dengan sendirinya.


Mataku disambut pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. "Ini rumah apa istana ya? Jika berada di dusun, entah berapa petak sawah yang terpakai oleh Bu Jenie untuk membuat rumah ini?"


Namun, tak satupun yang datang menyambutku. Oh iya, rumah ini sedang sepi. Aku segera menelepon Kak Vina. Meminta Kak Vina untuk memandu arah jalan yang harus aku tempuh.


"Kamu masuk lewat pintu samping aja. Di sana ada kolam renang. Nanti cucian kotornya ada di pojokan bagian sana."


"Oooh, gitu ... baik lah!" Aku segera mengikuti arah yang dikatakan Kak Vina tadi. Ternyata di sana memang ada kolam renang, dan ada yang bersiap berenang di sana.


"Bukan kah itu Pak Arendra?"


Pria itu terlihat sedang melakukan pema na san. Kacamata renang tersangkut di kepalanya. Entah bisikan dari mana membuat ide gi la ku memotret Pak Arendra yang dalam keadaan seperti itu.


"Dulu saat bersama Bang Alan, aku tidak memiliki hape. Ini buat kenang-kenangan sekaligus buat anca man jika dia masih saja menggangguku."


Aku ambil beberapa kali potret tu buh atle tis mi lik pria yang menjadi pembimbing akademik ku ini. Lalu aku segera melangkah walau sedikit sungkan. Mata ini tidak bisa dikondisikan menik ma ti peman da ngan gratis tersebut. Dia menyadari kedatanganku dan segera menutup bagian tu buh atasnya dengan kedua tangan.


"Kamu? Kenapa ke sini?"

__ADS_1


__ADS_2