Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-11. Mengasuh bg.2


__ADS_3

Ah, akhirnya perkuliahan pagi ini selesai juga. Aku lihat jam pada arloji di tangan menunjukan waktu pukul sepuluh pagi. Ini sungguh sangat mepet dengan jadwal suamiku harus masuk kelas selanjutnya.


Aku segera mencari mereka ke ruang kerja Mas Aren. Akan tetapi, hanya ruang hampa yang aku temui, ditemani oleh buku-buku yang ada pada rak dan meja kerja yang ada.


Mereka ada di mana?


Aku pun menekan panggilan pada kontak suami, tetapi panggilanku ditolak.


Apa yang terjadi?


Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari Mas Aren.


[ Tunggu sebentar. Aku sedang bicara dengan ketua jurusan. ]


Apa yang terjadi? Tumben sekali dia dipanggil ketua jurusan?


Aku pun bergerak menuju kantor jurusan dan menunggu suami dan anakku di sana. Sembari menunggu, beberapa dosen melirikku lalu menggelengkan kepala.


Hal ini tentu membuatku merasa tidak enak dan menduga-duga. Apa yang terjadi dengan Mas Aren? Semoga bukan masalah yang disebabkan karena membawa anak ke kampus.


Beberapa waktu kemudian, suamiku terlihat keluar dari ruang kepala jurusan dengan wajah lesu. Elena menggigit jemarinya dengan pandangan yang tak kalah kosong.


"Apa yang terjadi?"


"Bagaimana kalau Elena kamu bawa pulang dulu? Kelas sorenya izin aja. Biar aku yang bilang pada dosenmu."


Mas Aren tidak mau melihat wajahku sama sekali. Ini membuatku semakin yakin ada sesuatu antara mereka berdua.


"Mas?"


Dia melirik sejenak lalu tertunduk kembali dengan lesu. "Aku akan memesankan taksi online untuk kalian berdua. Maaf, aku tidak bisa mengantar karena harus mengajar."


Aku tatap punggung suamiku yang berjalan tertunduk. Hatiku terasa sakit karena itu semua. Aku berjongkok menyejajarkan diri menatap Elena. Elena turut memandangku tanpa makna.

__ADS_1


"Apa yang terjadi antara Elena dengan Papa?"


Elena memutar kepala melihat pintu tempat dia keluar tadi. Tangannya menunjuk ke arah pintu itu. "Papa dimarahi orang di sana, Buk." Butiran bening mulai jatuh dari pelupuk mata Elena.


Lalu aku lihat dari pintu tersebut keluar dua orang yang terlihat terus membenci kami. Elena menunjuk dua orang itu.


"Mereka marah-marah pada Papa, Buk." tangis gadis kecilku.


Sekarang aku mengerti penyebab suamiku terlihat kacau seperti tadi. Ternyata, masih orang-orang yang sama saat diceritakannya. Aku langsung menarik Elena mengikuti suamiku yang sedang bersiap di ruang kerjanya.


Aku masuk tanpa mengetuk pintu, terlihat dia sedang menyiapkan buku untuk perkuliahan yang akan dia ajar. Aku langsung memeluknya dari belakang.


"Maaf, Mas. Apa aku hanya memberimu beban yang berkepanjangan?"


Dia menghentikan kegiatan beberapa detik. Setelah itu memutar tubuhnya memasukan aku ke dalam pelukannya. "Aku sudah memesankan taksi online untuk kalian berdua. Nanti kita lanjutkan bicara di rumah."


*


*


*


Elena sedang bermain dengan datuk di bawah, sembari melihat karyawan yang bekerja.


"Saat ini kamu harus fokus dengan apa yang kamu mulai. Benar kata suamimu, hanya sedikit lagi. Bertahan lah! Masalah Elena, kami berdua telah berembuk membicarakannya. Kami sepakat akan tinggal di sini hingga kamu menyelesaikan perkuliahanmu."


Ucapan Mak barusan membuat kegundahanku meluap begitu saja. Aku yakin suamiku akan sangat menyukai jalan keluar yang membuat orang tuaku turun tangan seperti ini.


Saat makan malam bersama, suamiku lebih banyak diam. Entah karena jaim atau karena masalah ini, membuat dia lebih memilih tak banyak bersuara.


Malam ini kedua orang tuaku mengajak Elena tidur bersama mereka. Tentu saja Elena tidak mau saat diajak berpisah dari ibunya. Namun, berbagai bujukan datuknya, membuat Elena mau berpisah kamar dari kami.


"Sekarang kamu berbicaralah dari hati ke hati dengannya! Mulai hari ini, Elena akan tidur bersama kami." ucap Mak.

__ADS_1


Aku setuju dan masuk ke kamar. Di atas ranjang dengannmenyandarkan diri di antara susunan beberapa bantal, suamiku terus menghela nafas dengan tatapan kosong.


Aku duduk tepat di hadapannya memasang senyuman meski aku sendiri tak memiliki alasan untuk tersenyum. Aku tarik bibirnya kiri dan kanan agar dia turut tersenyum.


"Maaf ya, Mas? Harimu menjadi berat karena kehadiranku."


Mas Aren melihatku mengerutkan keningnya. "Kamu jangan berkata seperti itu lagi! Bagiku, kamu dan Elena adalah sebuah kebahagiaan yang tak pernah kuraih sebelumnya. Hanya saja—"


"Masalah di tempat kerja lagi?"


Mas Aren tercenung sejenak, dia menggeleng pelan. "Ini pasti segera berakhir. Kamu jangan mengkhawatirkanku!"


"Sayang, bagaimana menurutmu jika Mak dan Bapak tinggal di sini untuk sementara?"


Mas Aren merenung sejenak. "Ya, silahkan. Mereka orang tuamu, tentu jadi orang tuaku juga—"


"Sampai aku menamatkan perkuliahan." Ucapannya aku sela dengan cepat.


Lalu mata suamiku melihat pada bagian yang sudah menghilang. Ranjang milik Elena sudah tidak ada lagi di dalam kamar ini.


"Mereka hadir untuk menemani Elena. Mereka tidak setuju jika aku berhenti kuliah. Jadinya mereka yang akan menemani Elena di saat kita tidak ada di rumah."


Mas Aren terlihat mengerutkan kening kembali. "Lalu kita gininya gimana dong?" Dia memberi kode aneh yang anehnya bisa aku mengerti.


"Kamu jangan bunyi-bunyi ya? Malu kalau kedengeran." ucapnya dengan mimiik wajah yang berubah begitu saja.


"Yeeee, siapa juga yang bunyi-bunyi?"


Lalu Mas Aren bergerak ke arah pintu menguncinya dengan rapat. "Bahu kamu sudah tidak sakit lagi?" Dia menarik resleting pakaianku melihat bahuku yang terluka karena begal kemarin.


"Menurutmu gimana?"


"Hmmm, aku janji tidak akan membuatmu kesakitan. Malam ini ya? Anggap aja memberi obat buat kekalutan pikiranku ...."

__ADS_1


__ADS_2