Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
83. (PoV Arendra) A+ asal menikah denganku


__ADS_3

Tumben sekali si adik kesayangan menelepon malam-malam begini? Pasti dia memiliki alasan mencariku sang kakak yang terlupakan ini. Kugeser tanda hijau


📳 "Hmm ... Mas. Aku boleh minta tolong?"


"Oh, gitu. Kalau ada perlu baru teringat padaku?"


📳 "Soalnya hanya kamu yang bisa bantu dia, Mas."


"Dia siapa?"


📳 "Nesya."


Ck ... nama itu lagi. Kenapa hari-hariku tak pernah jauh dari nama itu? Wanita itu telah mempermainkanku. Ah, apakah ini yang dinamakan senjata makan tuan?


📳 "Mas, kenapa diam aja?"


"Emang dia kenapa? Kenapa harus aku yang menolongnya? Kenapa tidak kamu saja?"


📳 "Jangan ngaco, Mas. Kamu tahu sendiri aku tidak bisa berbuat apa-apa di sini."


"Jadi, aku harus bagaimana?"


📳 "Esok kamu jemput dia ke kampus, dan antar kembali ke rumah!"


"Dihh, biasanya dia pergi dan pulang sendiri. Kenapa tiba-tiba cengeng seperti ini?"


📳 "No comment! Kalau aku tahu kamu tidak menjemput Nesya, aku anggap Mas Aren sudah mundur dari persaingan kita."


tut tut tut


Panggilan ditutup begitu saja. Aku lihat kembali ke layar ponsel. "Kenapa lagi dia? Mundur? Maju saja belum ...."


Keesokan pagi, Papa dan Mama belum keluar untuk sarapan, aku sudah siap untuk berangkat. Aku lihat waktu yang ternyata lebih cepat setengah jam dari biasa jadwal berangkat.


Padahal, rasanya malas sekali untuk ke sana. Kenapa malah selesai lebih cepat begini?


"Ma ... Pa ... aku berangkat."


Belum sempat Mama menjawab dari dalam, aku sudah bergerak menuju ke garasi kendaraan dan berangkat menuju big boss yang selama ini berlagak sok lugu.


Hmmmfff ... malas ... tepatnya malu.


Aku merasa tak tahu harus menaruh muka di mana. Aku yang ingin menjadi pahlawan di hadapannya, nyatanya hanya sekedar nol besar di matanya.


Aku telah sampai di laundry milik Nesya. Dia tengah berbicara dengan Vina.


"Lhoh ... mau apa pagi-pagi ke sini?"


Wanita yang ada di hadapanku ini berputar dengan gerakan lambat. Apa yang terjadi dengannya.


"Pak Aren? Kenapa ke sini?"


Dia terlihat sangat lesu. Apa yang terjadi dengannya? "Bisa nggak, tidak mengulang pertanyaan Vina?"


"Papaaaaa." Si gadis kecil nan cantik berlari ke arahku. Aku langsung menyambutnya berjongkok merentangkan tangan.

__ADS_1


"Kemarin, kenapa Papa pergi aja? Kenapa Papa tinggalkan Elena dengan Ibuk? Elena kan mau bareng Papa."


Aku tak bisa menjawab pertanyaan gadis kecil ini. Aku hanya bisa mengusap kepalanya.


"Paa, Ibuk sakit ... Kasian Ibuk." Elena mengadu padaku.


"Apa, kamu sakit? Sakit yang mana?"


Tiba-tiba, seorang pria yang tidak diharapkan muncul membawa sebuah bungkusan. Kemungkinan itu pakaian kotor. Gadis kecil yang tadinya dalam rangkulanku langsung beralih berlari menuju pria itu.


"Aaayaaaah ...."


Aku pun berdiri tegak, dan menilik Nesya yang terlihat terus mengernyitkan wajah. "Apa yang sakit?"


Kuperiksa pipi dan keningnya, terasa sedikit demam. "Kamu tidak usah ke kampus hari ini."


Namun, dia menggelengkan kepala. "Hari ini ada kuliah dengan Bu Yenni. Aku tak mau nilai yang hancur semakin bertambah. Bapak sudah memberi kehancuran pada nilaiku pada semester lalu."


"Ekheemm ... Itu salah kamu sendiri! Kenapa gak mengulang materi!" Seenaknya saja dia menuduhku. Meskipun aku, hmmm ... selalu ingat dia, tetapi yang namanya nilai tidak ada yang unsur nepotisme.


"Pak, jangan lah beri nilai buruk padaku. Aku ingin cepat tamat. Kalau nilai jelek, harus mengulang terus. Lalu kapan bisa selesainya?"


Waah ... ada yang beda nih dengannya? Dia terdengar lebih akrab. Apa yang terjadi padanya?


"Aku tahu, bagaimana cara Mas Aren bisa memberimu nilai bagus." Vina ikut gabung dalam obrolan kami.


"Emang gimana tuh, Kak?" Nesya terdengar sedikit memelas.


"Jadi istrinya!"


"Ja-di is-tri-mu?" Dia mengeja kembali menatapku tanpa berkedip.


"Ya, gimana? Ini pengecualian dari nepotisme tadi. Kalau sudah jadi istriku, tentu harus aku selamatkan dari apa pun."


"Hmmm ... jadi gitu! Kau memanfaatkan pekerjaan untuk menjebak mahasiswamu?" Suara mantan suami Nesya kembali ikut masuk.


Nesya masih belum melepaskan pandangannya padaku. Oh ya, aku kan adalah kekasih Nesya di hadapan mantan suaminya.


"Iya, bagaimana menurutmu? Jika sudah menjadi istri, ya tugas suami untuk membantu dan selalu menjaganya." Aku tarik Nesya hendak aku rangkul seperti biasa.


"Aaaghh ...." Dia meringis.


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Katanya sayang, tapi gak tahu kondisinya. Cih ..." Alan sialaan berkomentar tanpa diminta.


"Bang, kamu diam aja! Seperti yang perhatian saja selama ini padaku." Nesya menggerutu pada sang mantan. Sepertinya si mantan sialaaan telah memperlakukan Nesya dengan cara yang buruk semasa pernikahannya.


"Ayo, Sayang ...." Nesya merangkul lenganku dan dia terlihat kembali meringis.


"Kamu kenapa?" bisikku tepat di telinganya. Dia melangkah masih dengan ringisan, tetapi tetap kukuh menggelengkan kepala.


Dia sungguh membuatku jadi tak sabar. Aku langsung mengangkat tubuhnya yang masih terlihat seperti gadis muda belia. Aku gendong ala bridal style dan terdengar sorakan Vina dan Elena.


"Paaapaaa, Elena juga mau."

__ADS_1


"Ciiiee ... Cieee ... tinggal ganti gaun putih aja nih yayangnya." sorak Vina.


Nesya menyembunyikan wajahnya karena malu. Sementara sang mantan membuang muka meninggalkan cucian tersebut kepada Vina. Kami berdua menatap kepergiannya yang berlalu menggunakan motor.


"Sudah, Pak ... aku turun." Keringat dingin mulai membasahi wajahnya.


"Kita ke rumah sakit saja, yuk?" Dia tetap menggelengkan kepala.


"Kamu masih sempat mengkhawatirkan nilai?" Dia mengangguk.


"Baik lah, aku akan memberikan nilai A plus kepadamu semester ini ... asal kamu mau menikah denganku." Dia langsung meronta turun dari gendonganku.


kreeek


Terdengar deritan belulang yang bukan dari tubuhku. Nesya meringkuk menangis.


"To-tolooong."


*


*


*


Rencana menjemput untuk dibawa ke kampus berubah haluan jadi mengantarnya ke rumah sakit. Vina dan Elena mengikuti langkah kakiku yang tengah tergopoh menggendong Nesya yang terus meringis kesakitan.


"Sus ... Sus ... tolong! Tolong!"


Perawat yang ada di lorong itu segera mendorong brangkar mendekat ke arah kami. Nesya kuletakan di atas brangkar dan dengan segera didorong masuk ke unit darurat.


"Baik lah, kami harap Bapak tenang dulu. Istri Bapak akan kami periksa terlebih dahulu."


Tak beberapa lama, dokter datang dan memeriksa Nesya. Elena yang tadinya terlihat khawatir, aku gendong agar dia merasa lebih tenang.


"Ibuuuk, Pa ..."


"Ayo berdoa, semoga Ibuk lekas sembuh." Elena mengangguk dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukanku


Setelah beberapa waktu, saat obat penghilang rasa sakit yang disuntikan oleh dokter bereaksi, Nesya terlihat lebih tenang. Setelah itu, dokter mengajakku berbicara.


"Sepertinya istri Bapak mengalami trouma di bagian pinggul dan pinggang. Lebih baik, istri Bapak memperbanyak istirahat dalam beberapa hari ke depan."


Apa yang terjadi dengan Nesya? Apa ada kaitannya dengan Gendis?


*


*


*


Ayo Kakak ... masih ada lagi kisah seru lainnya yang wajib kakak-kakak baca.


Author: Mom AL


Judul: Jodoh Untuk Gibran

__ADS_1



__ADS_2