
Suamiku menginjak rem dengan tiba-tiba, membuat tubuhku terhentak hampir menabrak dashbord depan mobil. Beruntung Mas Aren sempat menahan tubuhku yang belum sempat memasang sabuk pengaman.
"Kenapa kamu ungkit-ungkit masalah status sih?" Dia menarik sabuk pengaman yang ada di sisi kiriku.
Tangannya aku dorong memasangnya sendiri. "Aku bosan! Kapan bisa berubah? Kamu itu bukan anak-anak lagi!" Akhirnya, aku membuang muka ke sisi jendela sebelah kiri.
Aku hanya bisa mendengar desaahaan napasnya yang panjang. Kendaraan kembali bergerak kembali, tetapi suasana sunyi di antara kami berdua, membuat perjalanan terasa sangat panjang.
Sampai di rumah, aku buka paksa sabuk pengaman dan membuka pintu mobil dan menutupnya kembali dengan kasar. Kaki dilangkahkan dengan cepat tak sempat menyapa Kak Vina yang telah menyambutku dengan senyuman.
Aku segera menaiki tangga, tanpa menunggu Mas Aren yang mungkin masih sibuk dengan peralatannya selama perjalanan.
Di lantai atas, ternyata Bapak dan Mak memasang wajah cemas. "Kama ke mana pagi-pagi menghilang? Ponsel pun tidak kamu bawa." tanya Mak.
Aku lirik Bapak yang diam, tetapi aku tahu bagaimana perasaannya yang tak kalah cemas seperti Mak. Langkah kaki yang begitu aku hapal mulai terdengar menaiki anak tangga.
Aku pun tak sempat menjawab pertanyaan Mak, bergerak masuk menuju kamar. Aku yakin, Mak dan Bapak yang tidak mengetahui kehamilanku menjadi bingung karena tingkahku ini.
"Assalamualaikum." Suara suamiku masuk ke dalam rumah dan mungkin mencium tangan kedua orang tuaku.
"Walaikum salam, ternyata kamu sudah pulang?" tanya Mak yang terdengar sedikit gembira. Aku segera menuju ke dalam kamar mandi dan mengunci diri di sana.
Dari luar kamar mandi aku mendengar suara beberapa benda yang ia letakkan sembarangan. Langkah kakinya sudah tidak bisa didengar, mungkin ia telah melepaskan sepatu saat masuk tadi.
tok
tok
tok
Terdengar ketukan di balik pintu kamar mandi ini. "Sayang? Kamu masih lama di dalam?"
Apa? Ia bertanya, 'Apakah aku masih lama?'
Lama-lama aku malah menjadi semakin kesal. Akhirnya aku meringkuk di balik pintu tanpa memberikan satu jawaban pun.
"Baik lah, aku ngantuk." Lalu beberapa waktu kemudian aku tidak mendengar satu apa pun lagi. Suasana di luar kamar mandi ini terasa sepi.
__ADS_1
Sementara aku, yang menantikan serangan bujukannya, terpaksa menelan pil pahit melawan nyamuk yang bersarang di kamar mandi. Entah berapa lama aku berada di dalam kamar mandi ini, akhirnya aku merasa bosan memilih bangkit dan membuka pintu.
Di luar kamar mandi ini, tepat di ranjang ukurang king size, terlihat pria tergeletak begitu saja di atasnya. Enak sekali dia bisa tidur setelah membuatku kesal hingga ke ubun-ubun?
AC segera kumatikan, tubuhnya aku selimutkan, biar dia tahu rasa bara api yang ada di dalam hatiku, lebih panas dibanding suhu udara di kota ini.
Setelah itu, aku memilih keluar dari kamar. Oh ya, aku baru sadar! Aku tidak melihat Elena sama sekali semenjak kedatanganku tadi.
"Elena ke mana Mak?" Aku duduk di samping Mak yang sedang menonton TV.
"Oh, dia pergi main ke rumah belakang." Mak memperhatikanku dan menggelengkan kepala.
"Mak pikir tadi kenapa kamu baru datang malah buru-buru masuk ke kamar. Ternyata kamu lagi kebelet? Padahal Mak sempet khawatir kamu dan Aren kenapa-napa."
Sekarang aku mengerti kenapa Mas Aren berdrama seperti itu. Ia tak ingin membuat orang tuaku khawatir. Akan tetapi, aku benar-benar kesal padanya. Kemarahanku ini dianggap hisapan jempol belaka.
"Suamimu di mana? Udah makan belum?"
Pertanyaan Mak baru membuatku sadar bahwa kami berdua belum makan apa pun semenjak tadi. "Mas Aren kayaknya kecapean perjalanan pulang menyetir sendiri kan Mak. Jadi, dia ketiduran waktu aku di kamar mandi tadi. Padahal kami berdua belum makan satu apa pun."
"Kamu mau makan apa?" tanya Mak dari arah dapur.
"Tidak usah, Mak. Aku nanti aja bareng Mas Aren makannya."
"Iya, biar Mak masakin dulu. Kira-kira, suami kamu suka apa?"
Aku pun bergerak menuju dapur, memgintip apa yang sedang dilakukan oleh Mak dari dalam sana. Mak sudah membongkar-bongkar isi kulkas mengeluarkan daging beku dan beberapa jenis sayuran.
"Mak mau masak sop daging sapi kah?"
Mak melirik padaku. "Benar sekali."
"Wah, ini bukan hanya dia saja yang akan suka. Elena juga akan sangat suka." Aku mulai membantu Mak menyiangi beberapa jenis sayuran yang ada.
"Yaaa, bagus lah kalau begitu. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui."
Namun, ketika aku membersihkan bawang, membuat perutku bergejolak dengan hebat. Aku bergeser menuju wastafel yang kosong dan memuntahkan isi perut yang kosong.
__ADS_1
Mak membantu mengusap punggungku. "Ini gara-gara kamu terlambat makan. Makanya pagi-pagi itu, setidaknya kamu mengisi perutmu terlebih dahulu. Ini pagi-pagi menghilang nggak bilang-bilang."
Mak kembali mengulangi ucapan yang persis sama dengan yang tadi. Ini biasanya karena Mak sangat khawatir.
"Iya, Mak. Maaf. Tadi malam itu, aku mimpi buruk. Aku mimpi Mas Aren meninggal, makanya aku terbangun dan langsung panik.
"Jadi kamu mimpi suamimu meninggal?" ulang Mak memastikan kembali.
"Iya."
"Waaah, kamu harus lebih perhatian lagi pada suamimu. Takutnya mimpi itu sebagai firasat satu hal tertentu yang disembunyikannya." Wajah Mak terlihat begitu serius saat mengatakannya.
"Maksud Mak?"
Mak menggelengkan kepala. "Semoga itu hanyalah bunga tidur semata. Hmmm, sebaiknya mulai hari ini kamu mesti lebih perhatian pada Aren."
Aku ingin mengatakan kekesalan hatiku tentangnya kepada Mak. Akan tetapi, sepertinya itu bukan lah pilihan yang bijak. Mak pasti membela menantunya itu. Sampai-sampai aku disuruh untuk lebih perhatian lagi.
Mak memandangi wajahku dengan seksama. "Lebih baik kamu istirahat. Biar semuanya Mak yang mengerjakan. Kamu pasti kurang tidur, makanya terlihat pucat begitu."
"Sebenarnya, aku lagi hamil, Mak."
Raut wajah Mak, seketika berubah membulatkan mata dan mulutnya. Mak menutup mulut lalu tertawa. "Oooh iya, kenapa Mak nggak kepikiran kamu hamil ya?" Mak tertawa membelai perutku dengan penuh suka cita.
"Waaah, gak apa kamu punya anak banyak-banyak. Mak dan Bapak akan membantu kalian menjaga mereka."
"Hmmm, apa aku pakai pengasuh saja?" ucapku.
"Jangan! Akhir-akhir ini pengasuh banyak yang keganjenan. Apa kamu rela Aren, menantu Mak yang tampan itu dipelakorin oleh pengasuh anak kalian?"
Refleks kepalaku menggeleng. "Cukup sekali saja, Mak. Jangan sampai di pernikahan kedua ini, suamiku direbut oleh pelakor lagi."
Mak mengerutkan kening menggenggam lenganku. "Jadi anak kurang ajar itu mengkhianatimu?"
Mak menyingsingkan lengan baju. Aku tidak pernah menceritakan alasan perceraian kami, tanpa sengaja hal itu terungkap, dan membuat apa yang aku takutkan menjadi kenyataan.
"Awas saja dia nanti kalau ketemu di bawah! Mak sudah menahan diri atas kelakuan ibunya di dusun. Namun, saat mengetahui dia mengkhianati kamu, Mak merasa tidak rela."
__ADS_1