
"Dasar penipu, sudah ditolong, ternyata ini balasannya? Udah gitu, pergi menghilang dari tanggung jawab setelah merusak pakaianku."
Rungutan pria itu terdengar oleh telingaku. Dia terus berjalan lurus masuk menuju rumah Kak Vina. Apa maksudnya? Kenapa aku disalahkan seperti itu?
"Kenapa Nesya? Apa kamu mengenalnya?" tanya Mak.
"Salah satu pelanggan laudry aku, Mak. Tapi sudah lah, kita kembali dan beristirahat saja untuk hari ini. Mak dan Bapak pasti sangat lelah."
"Terus toko tidak dibuka?" tanya Bapak.
Aku gelengkan kepala. "Sepertinya istirahat adalah cara terbaik untuk hari ini, Pak. Selain tidak enak sama Kak Vina, karyawan lain pun sudah nanggung dipanggil kerja di waktu yang udah sangat sore seperti ini."
Aku lihat jam yang ada di ponsel. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh belas alias pukul lima sore. Kami harus segera pulang dan membersihkan diri untuk beristirahat.
*
*
*
Beberapa waktu kemudian, di saat aku mengecek pengumuman kelulusan masuk perguruan tinggi negeri. Alhamdulillah aku masuk pada peserta yang lolos dalam persaingan masuk perguruan tinggi negeri.
Namun, aku tidak lolos pada jurusan yang aku inginkan. Aku hanya lolos di jurusan akuntansi. Hmmm, seperti apakah itu? Aku hanya asal pilih.
Aaahh, sungguh luar biasa. Apakah ada yang sepertiku juga? Tidak menjalani pendidikan sekolah menengah atas secara formal bisa lolos ikut persaingan tingkat nasional seperti ini?
Semoga saja generasi yang berada di bawahku, bisa melanjutkan pendidikan mereka hingga setinggi mungkin. Harapanku, tidak ada lagi siswa SMP yang ter-mindset di dalam pikirannya, usai tamat harus segera menggaet suami, seperti yang aku lakukan dulu. Aah, memikirkan kejadian yang telah berlalu itu sungguh membuatku malu pada diri sendiri.
"Maak, Nesya lolos, Mak ...." sorakku saat Mak lewat keluar dari kamar Elena. Mak dan Bapak memilih tidur bersama Elena. Aku malah dibiarkan tidur sendiri.
"Lalu bagaimana dengan laundry dan Elena saat kamu kuliah nanti?" Bapak ikut muncul keluar dari kamar.
"Hmmm, aku belum memikirkannya. Namun, pasti ada jalan keluarnya."
Lalu otakku langsung bekerja memikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau Bapak dan Mak tinggal di sini saja bersamaku? Jadi, Mak dan Bapak tak usah kembali ke dusun dulu. Bapak dan Mak menjalani hidup tinggal di sini saja dulu. Menemaniku dan Elena, serta mengawasi karyawan bekerja."
Aku baca air muka Mak dan Bapak setelah menjelaskan hal tersebut. Bapak terlihat sedikit tersentak, sementara Mak memperlihatkan wajah yang cukup tenang. Sepertinya aku sudah tahu jawaban dari mereka.
"Baik lah, sepertinya aku meminta terlalu banyak kepada Bapak dan Mak. Mungkin untuk sementara aku serahkan saja kepada Kak Vina menjelang aku menamatkan perkuliahan."
"Jangan!" Ucap Bapak dan Mak.
"Kenapa?"
"Ya, bagaimana pun kedekatanmu dengan seseorang, kamu juga harus membataskan diri jika itu berkaitan dalam berbisnis."
"Kak Vina baik banget kok, Pak." Bapak masih menggelengkan kepala. Entah apa yang dipikirkan oleh Bapak. Padahal selama berkenalan dengan Kak Vina, tak satu kali pun dia mengecewakanku. Aku merasa beruntung dikenalkan kepada Kak Vina.
Namun, entah lah ... "Lalu harus bagaimana, Pak? Apa Bapak dan Mak bersedia untuk tinggal di sini denganku?"
__ADS_1
"Bapak dan Mak ini tidak terbiasa jadi orang kota. Akan tetapi ada anak Wak Jun, kakak Bapak yang sedang mencari pekerjaan. Apa kamu masih ingat pada Jojo?"
Aku mencoba mengingat nama Jojo. Ah, iya ... Dia adalah anak dari Kakak Bapak yang berada di kabupaten berbeda dengan kami. Namun, dulu aku sering sekali berantem dengan dia. Dia selalu saja meledekku dengan panggilan 'Cengeng.'
"Wah, Bang Jojo ... Sekarang udah kayak apa ya?"
"Dia baru saja berhenti dari pabrik pengolahan sawit. Jadi beberapa waktu sebelum kamu pulang ke dusun, dia pulang ke dusun." Bapak masuk ke dalam kamar.
Aku lihat raut wajah Mak yang sedikit tidak setuju jika aku menuruti perkataan Bapak. Setahuku hubungan Mak dan keluarga Bapak memang sedikit kurang akur. Ya, mungkin seperti yang aku rasakan saat bersama keluarga Bang Alan, mungkin.
"Tenang lah, Mak. Semua akan baik-baik saja."
"Istri Wak Jun mu itu selalu saja sinis pada Mak. Aaah ... Bapakmu terlalu sayang pada keluarganya."
"Namanya juga saudara, Mak. Pasti sayang dong. Kalau Mak dulu memberikan aku saudara, pasti aku juga akan sayang sekali padanya."
"Ini aja nyari makan susah. Apalagi kalau punya anak banyak." sela Mak tidak setuju dengan apa yang aku utarakan.
"Biasanya orang dusun kan anaknya banyak. Bagaimana kalau Mak nambah anak lagi? Biar aku punya adik." candaku semakin jadi.
Mak menggelengkan kepala dengan cepat. "Malu, udah punya cucu masa punya bayi lagi?"
"Mumpung belum empat puluh tahun, Mak?"
Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Warga dusun asal kami memang sudah menjalani pernikahan di usia belia semenjak dulu. Aku terlahir di dunia ini saat Mak masih berusia enam belas tahun.
"Tidak. Mak tidak kuat menahan malu sama warga dusun. Masa lebih besar cucu dibanding anak?"
"Tidak apa, Mak. Biar Mak ada yang nemenin kan? Nanti kalau aku sukses, aku akan bantu membiayai sekolahnya. Mak jangan mengkhawatirkan masalah biaya."
Mak masih kukuh menolak apa yang aku utarakan. Membayangkan aku memiliki adik di usia yang dua puluh tahun, pasti lucu sekali. Bahkan, dia lebih cocok jadi anakku.
Bapak muncul menyerahkan secarik kertas. "Coba kamu hubungi kontak ini. Biar Bapak yang berbicara."
Aku segera memindahkan angka-angka yang ada pada secari kertas tersebut. Di sana tertulis nomor kontak dengan nama Jojo. Usia Bang Jojo lebih tua lima tahun di atas usiaku.
Setelah menekan tanda hijau untuk panggilan, ponsel kuserahkan kepada Bapak. Tak menunggu beberapa lama, Bapak sudah berbicara dengan orang yang tadi kami hubungi. Setelah selesai berbicara, Bapak kembali menyerahkan ponsel tadi kepadaku.
"Kirim alamat ke WA dia. Esok dia akan langsung ke sini."
*
*
*
Hari ini adalah hari pertamaku menjadi mahasiswa tingkat pertama setelah melaksanakan Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru, seminggu yang lalu. Beruntung dalam pengenalan kampus beberapa waktu lalu, aku tidak mendapat masalah yang berarti.
Saat ini aku sudah memiliki teman baru. Teman yang aku kenal selama masa ospek kemarin. Namanya Lingga, ya ... sebatas itu aku mengenalnya. Satu hal yang terpaksa aku lakukan adalah ... merahasiakan statusku yang telah menjadi seorang janda beranak satu.
__ADS_1
"Aku dapat kabar dosen kuliah pengantar akuntansi ini masih muda dan masih single lho?" bisik Lingga di telingaku. Kami sedang menunggu dosen yang akan masuk ke kelas ini.
"Ooh--"
Lalu semua mahasiswa seperti tergopoh masuk terburu-buru. Itu berarti dosennya akan masuk ruangan ini. Lalu seseorang muncul berjalan dengan percaya diri menuju tempat yang telah tersedia. Bukan kah dia---
"Selamat pagi, semua!" Mata dosen tersebut diedarkan keseluruh penjuru kelas. Untung saja aku terlewatkan. Namun, dia kembali menatap ke arahku. Kali ini dengan sinis.
*
*
*
Ada yang penasaran dengan Dusun tempat Nesya berasal?
Ini adalah perjalanan keluar masuk yang harus Nesya jalani jika ingin kembali ke dusun. Kebetulan di dalam foto adalah pasukan guru yang akan masuk untuk mengajar di dusun tersebut.
Kondisi kendaraan dan kendaraan yang bisa masuk ke dusun ini. Harus dobol gardan ya...
Dusun yang sejuk dan asri ... dikelilingi oleh rangkaian perbukitan yang terbentang dari ujung utara Sumatera hingga ujung selatannya. Dusun ini berada di tengahnya. Untuk menjaga privasi, Author tidak bisa menuliskan nama desanya ya.
đź’–
đź’–
đź’–
Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.
Napen Author: MinNami
Judul karya: My Beautiful Venus
Blurb:
Virendra Aryan, seorang Jendral yang begitu tampan, pintar dan tegas. Sosoknya yang mempesona membuat banyak kaum hawa menyimpan kagum padanya.
Namun, siapa yang menyangka keputusan sang Jenderal yang tiba-tiba ingin menikahi gadis muda berusia 18 tahun.
Akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia atau justru berakhir tragis mengingat sosok Jenderal Virendra yang memiliki banyak musuh?
__ADS_1