
Saat keluar kelas aku langsung menuju ke ruang kerja Pak Arendra. Aku buka pintu yang ternyata tidak dikunci. Diam-diam aku masuk ke ruang itu untuk menunggunya.
Tak berlama berada di dalam sana, seseorang dari luar membuka pintu tersebut. Aku langsung menyergap orang yang aku sangka Pak Arendra. Namun ... nahas. Ternyata dia adalah Miss Gendeng bernama Gendis.
"Kamu?" Dia terlihat mengedarkan pandangan dan menyadari tak ada orang yang dicari.
"Kamu tidak sopan ya! Masuk ke ruang dosen di saat tidak ada orangnya?"
"Ekhem ...." Terdengar deheman seorang pria dari arah luar. Di sampingnya berdiri Lingga yang melihatku bergantian dengan Bu Gendis secara bergantian.
"Bu Gendis, ada urusan apa ke sini?"
"Aku ..." Wanita bernama Gendis itu melihatku dengan sinis bergantian dengan Lingga.
"Aku butuh ruang agar kita bicara empat mata."
Pak Arendra tak mau menatapku. "Kamu dan Lingga tunggu di luar. Jangan ke mana-mana! Saya ingin bicara."
Entah kenapa, perasaanku menjadi aneh mendengar Pak Arendra berbicara secara formal di luar perkuliahan seperti ini. Aku terbiasa mendengar dia berbicara dengan santai padaku.
Aku pun keluar, duduk di bangku yang tersedia di koridor. Lingga memilih duduk di tempat yang agak jauh dariku. Aku rasa Pak Arendra ingin menanyakan hubungan Lingga dengan mantannya.
Hmmff, kenapa dia mesti repot-repot seperti itu? Kenapa dia masih perhatian seperti itu kepada mantannya? Lalu, apa untungnya buat dia?
Aku lirik Lingga yang tak mau melihat ke arah ku sekalipun. Aku pun merasa bingung harus memikirkan cara untuk memulai pembicaraan.
"Ga, apa kabarmu?" Dia membisu dan terus tertunduk.
"Hmmm ... ternyata, setelah beberapa waktu tidak bersama, banyak hal yang telah berubah."
"Diam kau! Jangan ikut campur dengan urusanku!" bentaknya dengan sarkas hingga membuatku kincep.
"Maaf, aku hanya--"
"Kau jangan sok perhatian begitu padaku. Jika hanya bisa menuduh, lebih baik kau diam saja!"
braak
Pintu terbuka dari bagian dalam ruangan. Seorang wanita langsung menarikku yang baru saja mendapat bentakan dari seorang teman lama.
"Kamu, ayo ikut saya!" Miss Gendeng terus menarik tanganku dengan kasar.
"Bu! Selagi saya masih bisa bersikap sopan kepada Anda, tolong lepaskan tangan saya dengan baik."
Mendengar ucapanku yang mungkin terasa tidak pantas diucap kepada seorang guru, wanita itu berhenti menatapku tajam. Dia melepaskan tangan langsung bersidekap dada.
"Ternyata kamu tidak diberi pelajaran sopan santun bersikap oleh orang tuamu? Jadi saat ini kamu merasa di atas awan?"
"Bukan begitu, Bu. Kita bisa membicarakan segalanya dengan baik-baik. Katakan saja kita hendak kemana? Maka, saya akan mengikuti Anda dari belakang."
Dia mendelik dan melirikku dengan ujung matanya. "Oke, kalau begitu kamu ikuti saya menuju bagian belakang gedung ini. Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
__ADS_1
Wanita itu berjalan dengan percaya diri lebih dulu dibandingkan aku. Sementara, aku merasa cukup malu karena kejadian ini dilihat semua yang melewati koridor ini. Aku mengikuti langkahnya dengan langkah berat, tak berani mengangkat wajah.
Setelah sampai di tempat yang dikatakannya, Bu Gendis melepaskan kaca mata menaikan lengan blezer coklat yang dipakai dan mengikat rambutnya. Kali ini dia kembali melipat kedua tangan di dada.
"Katakan padaku, pelet apa yang kamu gunakan untuk memikat Rendra!"
"Pelet? Apa maksud Ibu? Hari gini Anda masih percaya hal yang seperti itu?"
"Aaalaaah! Kau jangan merasa sok cantik. Hingga mampu merebut hati Rendra dengan mudah!"
"Bu, apa yang Anda katakan? Tak ada hubungan istimewa di antara kami berdua. Jadi saya harap Anda jangan salah paham!"
Bu Gendeng itu berjalan mendekat padaku, menarik kerah pakaianku dengan kasar. "Pikir kan lah kembali! Jika kau masih mendekati Rendra, jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi padamu!"
duhg
Dia mendorongku hingga aku jatuh terduduk melihat kepergiannya.
*
*
*
Malam harinya, pinggangku terasa sangat sakit. Aku memasang plester penghangat persendian. Kenapa rasanya gini amat setelah terjatuh tadi? Apa karena faktor U? Jatuh segitu saja sudah membuat tubuh bagian pinggangku seperti habis mendapat pukulan yang luar biasa keras.
"Ibuk, lagi apa?"
"Biar Elena pijit, Ibuk bobok ya ..."
Elena memijit bagian lenganku yang tak sakit sama sekali. Ah, aku baru dua puluh tahun, tetapi kenapa berasa seperti nenek-nenek ya?
"Duh, kasian Ibuk." Elena memelukku. Tak lama ternyata di telah ketiduran dalam posisi yang sama.
Ponselku bergetar. Ada panggilan video dari Bang Alven. Hmmm ... Angkat nggak ya? Apa benar yang dikatakan Kak Vina? Namun, aku tak yakin ... Masa sih, Bang Alven suka padaku? Dia kan tahu, aku ini hanya janda yang telah memiliki anak.
Saking lama panggilan video itu tidak aku angkat, ternyata getaran ponselku telah berhenti. Aku merasa lega, bisa memiliki alasan bahwa panggilannya tidak terdengar olehku. Tetapi ternyata, panggilan kembali datang.
Kali ini aku tidak memiliki alasan lain untuk mengelak, dan menjawab panggilan itu. Di seberang sana terlihat pria yang diam seolah terus menatapku dalam heningnya.
"Kenapa, Bang? Gimana kuliah hari ini?"
📳"Menyebalkan." Dia terus menatapku dengan lekat dekat dengan kamera.
"Kamu sakit?"
"Tidak, aku baik-baik aja kok."
📳"Bohong, kamu terdengar lesu. Apa kamu merasa tidak enak badan?" Kembali kugelengkan kepala.
📳"Katakan lah, apa yang terjadi padamu hari ini?" tanyanya bertopang dagu.
__ADS_1
"Sumpah, aku tidak apa. Kamu sendiri gimana, Bang? Kenapa terlihat bete gitu?"
📳 "Aku bertanya karena butuh jawaban darimu, bukan pertanyaan balik."
"Hmmm ... Coba ceritakan dulu apa yang terjadi padamu? Nanti aku akan ceritakan apa yang aku rasakan."
📳 "Baik lah, tapi kamu janji ya, menceritakan kepadaku bagian mana yang sakit?"
"Ya."
Lalu kami saling bertukar cerita tentang yang terjadi. Katanya dia sedang ada masalah dengan gadis bernama Zizi. Waah, jadi penasaran kisah seperti apa di antara mereka. Pasti lucu sekali.
Sementara aku menceritakan, apa yang dilakukan oleh Bu Gendis tadi.
📳 "Dih, kok dia jahat gitu ya?"
"Ih, kata siapa dia baik? Semenjak awal kenal dengannya, aku selalu diperlakukan dengan tidak baik."
"Aah ... Kenapa perasaanku menjadi tidak enak mengingat kejadian tadi ya?"
*
*
*
Keesokan pagi, tubuhku terasa semakin sakit. Akan tetapi, aku memaksakan diri untuk tetap berangkat ke kampus.
Aku merasa tidak kuat ke kampus dengan mengendarai motor sendirian. Sehingga terpaksa memesan ojek online untuk mengatarkanku ke kampus.
"Kamu sakit, Nesya?" tanya Kak Vina heran melihatku yang tak biasa menggunakan jasa ojek online.
"Aku merasa sedikit pegel aja, Kak."
"Apa terjadi sesuatu di kampus kemarin?" tanya Kak Vina.
Matanya beralih pada sosok yang ada di belakangku. "Lhoh ... mau apa pagi-pagi ke sini?" ucap Kak Vina lagi.
*
*
*
Yuhhuu.. Mampir juga pada cerita di bawah ini ya kakak semua ...
Author: AYi
Judul: Love After Parting
__ADS_1